Kopdes Merah Putih Tak Goyahkan Ekspansi Emiten Ritel AMRT Cs
Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) belum mengganggu ekspansi ritel modern seperti AMRT dan MIDI yang tetap agresif menambah gerai baru.
(Bisnis.Com) 05/06/26 08:08 240637
Bisnis.com, JAKARTA — Kehadiran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) belum menggoyahkan strategi ekspansi pelaku ritel modern. Sejumlah emiten ritel justru tetap agresif menambah gerai baru sepanjang 2026, sembari menilai koperasi desa dan ritel modern menyasar segmen pasar yang berbeda.
Respons tersebut muncul di tengah perhatian pasar terhadap potensi dampak program KDMP terhadap industri ritel. Bursa Efek Indonesia bahkan telah meminta penjelasan kepada sejumlah emiten terkait pengaruh program tersebut terhadap operasional dan prospek bisnis mereka.
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT), pengelola jaringan Alfamart, menilai dampak KDMP terhadap kinerja perseroan masih belum dapat diukur secara langsung. Perseroan berpendapat karakteristik konsumen yang dilayani masing-masing format usaha berbeda.
Direktur Corporate Affairs AMRT Solihin mengatakan fokus utama perusahaan saat ini tetap pada peningkatan kualitas layanan dan penguatan digitalisasi.
"Kalau ditanya bagaimana pengaruhnya terhadap kinerja, saat ini kami fokus terhadap pelayanan dan bagaimana manajemen terus meningkatkan kualitas layanan karena segmennya pasti berbeda," ujarnya dalam Public Expose, Kamis (4/6/2026).
Meski membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk KDMP, hingga saat ini belum ada pembicaraan maupun pengajuan kerja sama yang masuk ke perusahaan.
"Untuk kerja sama, siapa pun bisa saja. Tetapi saat ini memang belum ada permintaan kerja sama yang diajukan kepada kami terkait hal tersebut," katanya.
Keyakinan bahwa KDMP belum mengganggu prospek bisnis tercermin dari tetap agresifnya rencana ekspansi Alfamart tahun ini.
Corporate Secretary AMRT Tomin Widian mengatakan perseroan menargetkan pembukaan 800 gerai baru sepanjang 2026. Sebanyak 500 gerai akan dibuka langsung oleh perusahaan, sedangkan 300 gerai lainnya melalui skema waralaba.
Lebih dari separuh ekspansi tersebut akan diarahkan ke luar Pulau Jawa. Perseroan melihat pertumbuhan pasar ritel modern dalam beberapa tahun terakhir mulai bergeser dari kawasan Jabodetabek menuju daerah-daerah yang tingkat penetrasi ritelnya masih rendah.
Pada kuartal I/2026, grup Alfamart telah menambah 211 gerai baru. Untuk mendukung ekspansi tersebut, perusahaan menyiapkan belanja modal sekitar Rp500 miliar yang seluruhnya diupayakan berasal dari arus kas internal.
"Seperti beberapa tahun terakhir, ekspansi masih dapat dibiayai dengan internal cash flow kita," ujar Tomin.
Pandangan serupa disampaikan PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI). Pengelola jaringan Alfamidi itu menilai KDMP dan ritel modern memiliki target pasar yang berbeda sehingga dapat berkembang secara berdampingan.
Direktur Corporate Legal dan Compliance MIDI Afid Hermeily mengatakan hingga saat ini berbagai wacana pembatasan operasional maupun ekspansi ritel modern di sejumlah daerah juga belum memberikan dampak material terhadap perusahaan.
"Kami melihat segmentasi bisnis yang berbeda sehingga pembatasan saat ini belum berdampak terhadap perseroan. Namun demikian, kami tetap tunduk dan patuh terhadap seluruh regulasi yang berlaku, termasuk ketentuan yang ditetapkan pemerintah daerah," ujarnya.
MIDI tetap menjalankan agenda pertumbuhan organik. Perseroan menargetkan pembukaan sekitar 200 gerai baru sepanjang tahun ini dengan dukungan belanja modal sekitar Rp1,5 triliun.
Dana tersebut tidak hanya digunakan untuk ekspansi gerai, tetapi juga memperkuat infrastruktur operasional dan pengembangan layanan digital.
Hingga Maret 2026, jumlah gerai MIDI mencapai 2.627 unit atau bertambah 40 gerai dibandingkan akhir tahun lalu.
Kinerja keuangan perusahaan juga masih menunjukkan pertumbuhan. Pendapatan bersih MIDI pada kuartal I/2026 mencapai Rp5,88 triliun, naik 6,43% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih bahkan tumbuh 39,50% menjadi Rp265,57 miliar.
Direktur Finance MIDI Suantopo Po menilai fundamental perusahaan masih cukup kuat untuk menopang pertumbuhan hingga akhir tahun.
"Kami berupaya agar kinerja tahun 2026 dapat tumbuh secara moderat dibandingkan tahun 2025. Fundamental perseroan masih cukup kuat untuk mendukung pertumbuhan tersebut," katanya.
Dinamika Industri Ritel
Sementara itu, PT Supra Boga Lestari Tbk. (RANC) memandang KDMP sebagai bagian dari dinamika baru industri ritel yang justru berpotensi memperkuat daya beli masyarakat di lapisan bawah.
Direktur RANC Hady Purnama mengatakan koperasi desa dan ritel modern tidak berada dalam posisi saling meniadakan karena melayani kebutuhan konsumen yang berbeda.
"Bagi RANC kehadiran koperasi desa kami sikapi dengan cermat tetapi optimistis berpotensi memperkuat daya beli masyarakat di tingkat menengah ke bawah. Pada akhirnya hal itu justru dapat memperluas basis konsumen ritel modern secara keseluruhan," ujarnya.
Menurut dia, karakteristik layanan, segmen pelanggan, dan pengalaman berbelanja yang ditawarkan masing-masing format usaha membuat keduanya dapat berkembang secara komplementer.
"Kami percaya koperasi desa dan ritel modern dapat berjalan berdampingan secara komplementer, bukan saling menggantikan," katanya.
Sejalan dengan itu, RANC tetap melanjutkan ekspansi secara selektif. Perseroan mengalokasikan belanja modal Rp130 miliar untuk pembukaan toko baru, renovasi gerai, serta peremajaan peralatan.
Tahun ini RANC menargetkan pembukaan empat gerai baru. Tiga gerai telah beroperasi pada kuartal pertama, sedangkan satu gerai tambahan dijadwalkan dibuka di Jakarta pada Juni 2026.
Optimisme serupa juga terlihat dari respons sejumlah emiten lain yang telah dimintai penjelasan oleh Bursa Efek Indonesia.
PT Indoritel Makmur Internasional Tbk. (DNET) dalam keterbukaan informasi menyatakan hingga saat ini tidak terdapat dampak material terhadap operasional maupun jaringan gerai entitas asosiasi terkait keberadaan KDMP. Perseroan juga menyebut rantai pasok masih berjalan normal dan belum terdapat komunikasi formal terkait kerja sama strategis dengan pengelola koperasi desa.
Pandangan yang sama disampaikan PT Matahari Putra Prima Tbk. (MPPA). Pengelola Hypermart itu menilai kehadiran KDMP belum mengubah peta persaingan ritel modern secara material.
Menurut manajemen MPPA, perbedaan model bisnis, cakupan produk, sistem distribusi, hingga pengalaman berbelanja membuat ruang kompetisi antara koperasi desa dan ritel modern masih relatif terbatas pada tahap awal implementasi.
#koperasi-desa #ritel-modern #emiten-ritel #ekspansi-gerai #alfamart-ekspansi #kdmp-dampak #segmen-pasar #layanan-digital #belanja-modal #pertumbuhan-ritel #alfamidi-gerai #kinerja-keuangan #daya-beli