Pasar Hunian Mewah Tahan Banting dari Pelemahan Rupiah
Pasar hunian ultra premium atau hunian mewah dinilai akan minim terdampak pelemahan nilai tukar rupiah.
(Bisnis.Com) 04/06/26 06:25 239347
Bisnis.com, JAKARTA — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai belum memberikan dampak signifikan terhadap pasar rumah ultra premium di Indonesia. Segmen pembeli ultra kaya atau ultra high net worth (UHNW) disebut tetap memiliki daya beli yang kuat di tengah ketidakpastian ekonomi dan fluktuasi kurs.
Division Head Marketing & Business Development NavaPark Wanto Ngali mengatakan, pergerakan nilai tukar rupiah tidak menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan pembelian rumah di segmen tersebut.
“Pasar ini mencari rumah yang sesuai ekspektasinya. Mereka sudah memiliki bujetnya, bukan karena nilai tukar rupiah jadi enggak bisa beli [rumah ultra premium],” ujarnya di sela-sela peluncuran hunian Island Villa di NavaPark, BSD, Tangerang, Rabu (3/6/2026).
Hal tersebut, katanya, terlihat dari peluncuran unit baru Island Villa yang mendapat respons positif. Dari 12 unit tahap awal yang dipasarkan, sebanyak enam unit telah terjual dalam kurun sekitar 3 pekan sebelum peluncuran resmi dilakukan.
Capaian tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa pasar hunian ultra premium masih memiliki ruang pertumbuhan tersendiri meskipun ekonomi global dibayangi berbagai ketidakpastian.
"Pasar ini memang sangat kecil, tetapi selalu ada. Mereka mencari produk yang benar-benar berbeda dan sesuai dengan gaya hidup yang diinginkan," sebutnya.
Adapun, sebagian besar calon pembeli proyek Island Villa di NavaPark BSD City berasal dari Jakarta dan wilayah sekitarnya yang mencari hunian berukuran besar dengan lingkungan hijau serta eksklusif.
Menurutnya, mayoritas pembeli merupakan pelanggan lama yang melakukan upgrade hunian seiring pertumbuhan bisnis dan peningkatan kekayaan mereka.
"Kami melihat banyak repeat order. Mereka sebelumnya membeli rumah di klaster lain di NavaPark, kemudian ketika bisnis berkembang mereka mencari rumah yang lebih besar dan lebih eksklusif," tutur Wanto.
Dia menambahkan, sebagian pembeli juga telah memiliki properti di luar negeri, termasuk di Singapura, sehingga relatif terbiasa dengan harga hunian premium.
Senada, Ketua Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda menilai kelompok ultra kaya relatif tidak terlalu terdampak oleh tekanan ekonomi maupun pelemahan rupiah karena memiliki portofolio investasi yang terdiversifikasi.
Bahkan, menurutnya, penguatan dolar AS justru berpotensi meningkatkan keuntungan bagi sebagian kelompok tersebut yang memiliki aset atau investasi berbasis mata uang asing.
"Golongan ini relatif tidak terlalu terpengaruh kondisi ekonomi saat ini karena portofolio investasinya yang memungkinkan profit dari berbagai instrumen investasi, termasuk naiknya dolar AS malah bisa membuat keuntungan mereka bertambah," katanya.
Ali menjelaskan, pasar properti ultra premium merupakan ceruk yang sangat spesifik dan tidak mencerminkan kondisi pasar perumahan secara umum. Meski jumlah pembelinya sangat terbatas, segmen tersebut diperkirakan tetap bertahan dalam beberapa tahun mendatang.
"Pasar kaum ultra kaya ini tidak akan hilang meskipun jumlahnya sangat sedikit, di bawah 0,01%," tuturny.
Dia melanjutkan, maraknya peluncuran proyek hunian ultra premium belakangan ini tidak selalu mencerminkan peningkatan jumlah individu UHNW di Indonesia. Namun, pengembang melihat segmen tersebut sebagai niche market yang belum banyak digarap dan cenderung lebih tahan terhadap gejolak ekonomi dibandingkan segmen lain.
Ali menambahkan, faktor utama yang dipertimbangkan pembeli ultra kaya dalam memilih hunian adalah lokasi prestisius, tingkat privasi yang tinggi, serta fasilitas eksklusif yang tidak mudah ditemukan pada produk residensial lainnya.
"Untuk golongan ini, semakin mahal justru semakin dicari, dengan keunggulan lokasi, privasi, dan fasilitas yang eksklusif," tegasnya.
Ali menilai tren pengembangan hunian premium dengan jumlah unit terbatas masih berpotensi berlanjut karena menyasar kelompok pasar yang berbeda dengan konsumen properti pada umumnya.
Karena itu, perkembangan pasar rumah ultra premium tidak dapat dijadikan indikator kondisi industri properti nasional secara keseluruhan, terutama ketika segmen menengah masih menghadapi tantangan daya beli dan pembiayaan.
"Segmen ini relatif terpisah dan tidak mencerminkan mekanisme pasar secara umum dan tidak bisa dibandingkan dengan pasar normal," pungkasnya.