Kenaikan Harga Pangan, Plastik, hingga Pelemahan Rupiah Bayangi Laju Inflasi Sumut pada Mei 2026

Kenaikan Harga Pangan, Plastik, hingga Pelemahan Rupiah Bayangi Laju Inflasi Sumut pada Mei 2026

Inflasi Sumut Mei 2026 diprediksi tinggi akibat kenaikan harga pangan, plastik, dan pelemahan Rupiah. Pemerintah perlu langkah mitigasi untuk mengatasi dampaknya.

(Bisnis.Com) 02/06/26 12:59 237498

Bisnis.com, MEDAN - Pengamat sekaligus akademisi dari Universitas Islam Sumatra Utara (UISU) Gunawan Benjamin memprakirakan inflasiSumatra Utara (Sumut) akan kembali tinggi pada Mei 2026.

Hal itu disebutnya lantaran sejumlah komoditas terpantau mengalami kenaikan pada Mei. Bawang merah, misalnya, dari pengamatan di sejumlah pasar di Deli Serdang dan Medan, rata-rata naik hampir 10,5%. Per Senin (1/6/2026) harga komoditas bawang merah tercatat mencapai Rp46.000 per kilogram (kg).

"Secara keseluruhan saya memperkirakan Sumut akan membukukan inflasi besar di Bulan Mei ini. Secara bulanan inflasinya bisa mencapai 0,6% lebih (MtM/month to month)," ujarnya, Selasa (2/6/2026).

Dari pantauan di lapangan, ujarnya, komoditas pangan strategis seperti cabai merah keriting naik dalam rentang 37% hingga 47%. Begitupun dengan cabai rawit yang naik di rentang 38%-53%, wortel naik sekitar 15%, serta tomat yang naik harganya hingga 62%. Dia menyebut ini berpeluang besar membawa Sumut mencetak inflasi tinggi pada Mei.

Tak hanya dari komoditas pangan, sejumlah harga kebutuhan harian lain juga disebutnya mengalami kenaikan yang berpotensi semakin mendorong kenaikan laju tekanan inflasi. Kenaikan harga itu antara lain terjadi pada pembalut wanita, kopi bubuk, sabun mandi cair, popok bayi, air kemasan, detergen, ikan teri, hingga BBM nonsubsidi dan gas elpiji 12 kg.

Gunawan mengatakan kenaikan laju tekanan inflasi pada bulan Mei di Sumut sudah diproyeksi jauh hari sebelumnya.

Pemicu inflasi wilayah ini masih dimotori oleh kenaikan harga barang yang diatur oleh pemerintah. Selain itu, disebabkan pula oleh kenaikan harga plastik dan dampak dari pelemahan mata uang Rupiah terhadap dolar AS.

Gunawan pun memperhitungkan kenaikan laju tekanan inflasi di Sumut masih berpeluang berlanjut. Sejumlah faktor disebutnya menjadi pendorong, antara lain tekanan pada mata uang Rupiah, ketidakpastian geopolitik, kenaikan harga minyak mentah dunia, dan kenaikan biaya logistik.

Di samping itu, lanjutnya, potensi penyesuaian kembali harga BBM, lompatan biaya produksi yang mendorong kenaikan harga pokok produksi (HPP), hingga potensi gangguan produksi akibat El nino juga dapat berpengaruh terhadap laju kenaikan inflasi Sumut.

Gunawan mengatakan perlu upaya terukur dari pemerintah di daerah untuk penyelamatan sisi suplai. Ini lebih mungkin dilakukan ketimbang mengendalikan kenaikan biaya bahan baku, lompatan biaya logistik, maupun cuaca buruk yang dipicu oleh Godzilla El nino.

Terlebih, masalah baru akan berpeluang muncul jika disparitas (perbedaan) harga kebutuhan masyarakat Sumut memiliki gap yang terlalu lebar dengan provinsi lainnya. Hal ini dapat menyeret Sumut dalam pusaran kenaikan harga meskipun gangguan El Nino diproyeksi tak berdampak terlalu besar di Sumut.

"Potensi ledakan harga pangan ke depan masih berpeluang terjadi yang membutuhkan mitigasi serius. Kondisi ini membutuhkan kesigapan pemerintah dalam mengantisipasi sejumlah kemungkinan buruk ekonomi eksternal dan internal," jelasnya.

#inflasi-sumut #kenaikan-harga-pangan #pelemahan-rupiah #harga-bawang-merah #inflasi-mei-2026 #kenaikan-harga-cabai #harga-tomat-naik #kenaikan-harga-bbm #harga-plastik-naik #inflasi-tinggi-sumut #kena

https://sumatra.bisnis.com/read/20260602/534/1977776/kenaikan-harga-pangan-plastik-hingga-pelemahan-rupiah-bayangi-laju-inflasi-sumut-pada-mei-2026