Was-was Lonjakan Biaya Impor Bahan Baku Efek Depresiasi Rupiah

Was-was Lonjakan Biaya Impor Bahan Baku Efek Depresiasi Rupiah

Pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor bahan baku, berdampak pada sektor pangan hingga pertambangan. Pelaku usaha disarankan melakukan hedging dan efisiensi.

(Bisnis.Com) 12/05/26 14:50 219025

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku usaha mengungkapkan efek penurunan rupiah akan terasa membebani biaya impor bahan baku. Adapun, sejumlah sektor yang paling terdampak dari pelemahan rupiah mulai dari pangan hingga pertambangan.

Ketua Komite Tetap Kajian Hilirisasi dan Investasi Kadin Indonesia Chandra Wahjudi mengatakan dampak yang dirasakan pelaku usaha saat rupiah ambrol adalah lonjakan biaya impor bahan baku.

"Industri Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku dan barang modal. Ketika rupiah melemah, biaya produksi naik secara otomatis. Kenaikan beban utang korporasi dalam dolar AS, perusahaan dengan pinjaman dolar AS menghadapi kenaikan kewajiban pembayaran yang signifikan," katanya kepada Bisnis pada Selasa (12/5/2026).

Berdasarkan data Trading Economics, rupiah melemah 0,46% atau 79,4 poin ke Rp17.500,4 per dolar AS siang hari ini, Selasa (12/5/2026). Level rupiah tersebut mencerminkan depresiasi 2,18% secara bulanan, atau 5,39% secara tahunan.

Adapun, lanjut Chandra, sektor yang paling terdampak dari pelemahan nilai tukar rupiah antara lain manufaktur yang bahan bakunya berbasis impor, pangan, logistik laut dan pertambangan.

"Langkah antisipasi yang bisa dilakukan antara lain hedging dan natural hedging, mengunci kurs untuk pembayaran impor. Melakukan renegosiasi kontrak seperti revisi harga dan termin pembayaran. Melakukan efisiensi operasional dan mengoptimalisasi inventory," ujarnya.

Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini bahkan telah menyentuh level psikologis baru di Rp17.500 per dolar AS tentu menjadi perhatian bagi dunia usaha. Menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah perlu direspons secara serius dan terkoordinasi karena secara paralel terus menciptakan level baru all-time low.

Namun, tekanan ini dinilai tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari dinamika global yang lebih luas. Kenaikan yield US Treasury yang dipicu oleh kebutuhan pembiayaan fiskal AS, termasuk eskalasi konflik geopolitik, telah mendorong terjadinya global capital reallocation menuju aset dolar AS.

Kondisi ini berdampak pada hampir seluruh negara berkembang, termasuk Indonesia, melalui tekanan nilai tukar dan meningkatnya capital outflow. Menurutnya, tekanan yang terjadi bukan bersifat sementara, tetapi berpotensi berlanjut selama faktor global masih belum mereda.

"Bagi dunia usaha, situasi ini kami lihat sebagai external shock yang memperkuat tekanan pada struktur biaya dan arus kas perusahaan. Pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan biaya impor, khususnya karena struktur industri nasional masih sangat bergantung pada bahan baku dari luar negeri," katanya kepada Bisnis pada Selasa (12/5/2026).

#rupiah-depresiasi #biaya-impor #bahan-baku-impor #pelemahan-rupiah #industri-manufaktur #sektor-terdampak #hedging-kurs #nilai-tukar-rupiah #kenaikan-biaya-produksi #utang-korporasi-dolar #tekanan-nil

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260512/9/1973248/was-was-lonjakan-biaya-impor-bahan-baku-efek-depresiasi-rupiah