Menjaga asa ekonomi penjualan hewan kurban di Bandung Barat
Bau khas kandang ternak langsung tercium begitu kaki melangkah memasuki Pasar Ternak Padalarang di Jalan Raya Padalarang, Desa Kertamulya, Kabupaten Bandung ...
(Antara) 09/05/26 14:05 216446
Di balik momen sederhana itu, musim kurban bukan sekadar soal jual beli domba. Ada harapan yang dipelihara, kerja keras yang terus dijaga, serta asa yang tetap hidup agar roda ekonomi keluarga terus berputar dari tahun ke tahun.
Bandung Barat (ANTARA) - Bau khas kandang ternak langsung tercium begitu kaki melangkah memasuki Pasar Ternak Padalarang di Jalan Raya Padalarang, Desa Kertamulya, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.
Suara domba dan sapi bersahut-sahutan memecah suasana pagi yang mulai ramai oleh aktivitas jual beli hewan kurban.
Puluhan ternak dipajang di kandang-kandang sederhana. Ada sapi bertubuh besar dengan tanduk panjang melengkung, ada pula domba berukuran kecil dengan bulu keriting yang dipenuhi jerami.
Para pedagang tampak sibuk membersihkan kandang, memberi makan ternak, hingga melayani calon pembeli yang datang silih berganti.
Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah pada akhir Mei 2026, denyut perdagangan ternak di pasar itu kembali terasa lebih hidup.
Para peternak dari berbagai daerah mulai berdatangan membawa hewan terbaik mereka, berharap musim kurban tahun ini membawa rezeki yang lebih baik.
Momentum ekonomi keluarga
Di salah satu sudut pasar, Endun Sumarna tampak cekatan melayani pembeli yang tertarik melihat domba peliharaannya.
Pria yang akrab disapa Abah Endun itu telah puluhan tahun menggantungkan hidup dari usaha jual beli domba di Pasar Ternak Padalarang.
Bagi Endun, , musim kurban bukan sekadar momen transaksi jual beli, melainkan penentu keberlangsungan usaha dan ekonomi keluarganya selama setahun ke depan. Karena itu, ia menaruh harapan besar pada peningkatan penjualan tahun ini.
Dengan senyum ramah, ia memperlihatkan beberapa domba berukuran besar yang menjadi favorit pembeli menjelang Idul Adha.
“Ada beberapa ekor yang dibawa, beda-beda ukurannya. Kalau di sini kan ramai yang jualnya, jadi semua ukuran ada. Ya ini sudah mulai menjelang Idul Adha,” kata Endun .
Domba yang dijualnya dibanderol mulai Rp2,5 juta hingga Rp7 juta untuk kategori kelas A dengan ukuran besar dan kondisi fisik prima.
Harga tersebut disesuaikan dengan bobot, kesehatan, serta kualitas ternak yang ditawarkan kepada pembeli.
“Tahun kemarin cuma 250 ekor yang terjual, tahun ini mudah-mudahan bisa sampai 300 bahkan 400 ekor,” katanya penuh optimistis.
Pria yang telah menekuni usaha ternak sejak 1982 itu mengakui pasar hewan kurban mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir.
Meski demikian, ia tetap percaya kebutuhan masyarakat terhadap hewan kurban akan selalu ada dan tetap menjadi peluang usaha yang menjanjikan.
“Paling ramai itu tahun 98-an sampai 2015, setelah itu terus menurun. Mudah-mudahan tahun ini ada peningkatan penjualan domba,” katanya.
Dampak bagi peternak sapi
Dampak meningkatnya kebutuhan hewan kurban juga mulai dirasakan para peternak sapi di Kabupaten Bandung Barat.
Di sejumlah peternakan, sapi kurban mulai banyak diburu pembeli meski harga tahun ini mengalami sedikit kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Salah satunya dirasakan peternak sapi Entang Sukandi yang berasal Kampung Babakan Cinta, Desa Pasirhalang, Kecamatan Cisarua.
Ia menyiapkan sekitar 300 ekor sapi untuk kebutuhan kurban Idul Adha 1447 Hijriah dengan berbagai ukuran.
“Kalau saya stok tahun ini ada sekitar 300 ekor untuk kurban. Targetnya yang terjual itu minimal sama kayak tahun kemarin 250 ekor,” kata Entang.
Menurut dia, hingga awal Mei 2026 sebanyak 240 ekor sapi telah dipesan pembeli dari wilayah Bandung Raya hingga luar daerah seperti Karawang, Bogor, dan Tasikmalaya.
“Sampai sekarang sudah 240 ekor yang booking. Masih ada waktu sampai hari H nanti,” katanya.
Entang mengatakan harga sapi kurban tahun ini mengalami kenaikan sekitar 10 persen dibanding tahun lalu, dipicu naiknya harga sapi impor.
Untuk sapi ukuran standar dijual mulai Rp20 juta hingga Rp30 juta per ekor, sedangkan sapi jumbo berbobot 750 kilogram hingga 1,5 ton dibanderol Rp80 juta sampai Rp100 juta.
“Paling murah sekarang di kisaran Rp20 juta dan paling tinggi Rp100 juta. Ada kenaikan sekitar Rp2 jutaan dari tahun kemarin karena dampak sapi impor,” ujarnya.
Meski harga naik, ia memastikan seluruh sapi yang dijual dalam kondisi sehat dan layak kurban karena rutin menjalani pemeriksaan kesehatan dan mendapat pakan sesuai kebutuhan nutrisi ternak.
Upaya perputaran ekonomi sehat
Keramaian jual beli hewan ternak tidak hanya menggambarkan aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi juga menunjukkan besarnya perputaran usaha peternakan rakyat di Kabupaten Bandung Barat.
Dari pencari rumput, sopir pengangkut ternak, pedagang pakan, hingga penjual perlengkapan kandang, semuanya ikut merasakan dampak ekonomi dari musim kurban.
Di tengah meningkatnya aktivitas perdagangan hewan kurban, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat melalui Dinas Peternakan dan Perikanan turut memperketat pengawasan kesehatan ternak guna memastikan hewan yang dijual dalam kondisi sehat dan layak kurban.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bandung Barat, Wiwin Aprianti, mengatakan pihaknya menerjunkan 61 petugas untuk melakukan pemeriksaan kesehatan hewan di 270 lapak penjualan yang tersebar di seluruh wilayah Bandung Barat.
“Kami menurunkan 61 petugas untuk pemeriksaan 270 lapak yang berlangsung pada 11 hingga 26 Mei 2026 sebagai upaya menjamin kesehatan hewan kurban sekaligus memastikan keamanan pangan bagi masyarakat,” kata Wiwin.
Pemeriksaan dilakukan melalui pengecekan fisik hewan, verifikasi dokumen kesehatan ternak, hingga edukasi kepada pedagang mengenai tata cara pemasukan hewan dan penerapan biosecurity kandang.
Langkah tersebut menjadi bagian penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap kualitas hewan kurban yang dijual di pasar-pasar ternak, termasuk Pasar Ternak Padalarang yang menjadi salah satu pusat perdagangan hewan kurban di Bandung Barat.
Wiwin mengatakan jumlah hewan kurban yang diperkirakan diperiksa tahun ini mencapai 11.944 ekor atau meningkat sekitar 2 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 11.710 ekor.
Pada 2025, hewan kurban yang diperiksa terdiri atas 5.063 ekor sapi, 6.269 ekor domba, 366 ekor kambing, dan 12 ekor kerbau yang tersebar di 270 lapak penjualan hewan kurban di Bandung Barat.
Kebutuhan hewan kurban tersebut dipenuhi dari peternak lokal maupun pasokan luar daerah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan sejumlah wilayah di Jawa Barat.
Bagi para pedagang, meningkatnya kebutuhan hewan kurban menjadi harapan baru setelah beberapa tahun terakhir pasar ternak menghadapi tantangan akibat perubahan pola konsumsi masyarakat dan kondisi ekonomi.
Namun di tengah berbagai perubahan itu, semangat para peternak tetap terjaga.
Sejak pagi hingga sore, mereka setia menunggu pembeli datang sambil memastikan ternak tetap sehat dan terawat.
Di balik momen sederhana itu, musim kurban bukan sekadar soal jual beli domba. Ada harapan yang dipelihara, kerja keras yang terus dijaga, serta asa yang tetap hidup agar roda ekonomi keluarga terus berputar dari tahun ke tahun.
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026