Pemerintah Pede Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I/2026 Capai Target, Bisa Tertinggi sejak 2013
Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi Q1 2026 capai 5,5%, tertinggi sejak 2013, didorong konsumsi Ramadan, belanja pemerintah, dan investasi.
(Bisnis.Com) 05/05/26 10:47 211336
Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026 bisa mencapai target yakni minimal 5,5% (yoy).
Apabila target dan prakiraan ini terjadi, maka pertumbuhan ini merupakan yang tertinggi setidaknya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Ini bisa menjadi pertumbuhan tertinggi sejak 2013 lalu, yang tumbuh hingga 6,02% (yoy) pada kuartal I/2013.
"Proyeksinya Q1 alhamdulillah. Masih sesuai [target]," terang Menko Perekonomian Airlangga Hartarto kepada wartawan di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (4/5/2026) malam.
Pemerintah telah membidik pertumbuhan tinggi pada tiga bulan pertama 2026 dengan memanfaatkan momentum libur Idulfitri yang jatuh pada awal tahun. Efek libur akhir 2025 lalu juga diupayakan bertahan dengan strategi percepatan belanja guna mendorong konsumsi masyarakat.
Contohnya, dari belanja pemerintah saja, realisasi belanja negara mencapai Rp815 triliun atau tumbuh hingga 31,4% (yoy). Belanja pemeirntah pusat tumbuh tinggi hingga 47,7% (yoy), sedangkan transfer ke daerah terkontraksi 1,1% (yoy).
Berbagai stimulus digelontorkan meliputi diskon transportasi Rp920 miliar, tunjangan hari raya Rp51,6 triliun untuk ASN serta TNI-Polri, serta bantuan pangan Rp13,37 triliun.
Pertumbuhan kuartal I (% yoy) | 2025 | 2024 | 2023 | 2022 | 2021 | 2020 | 2019 | 2018 | 2017 | 2016 | 2015 | 2014 | 2013 |
4,87 | 5,11 | 5,03 | 5,01 | (0,7) | 2,97 | 5,07 | 5,06 | 5,01 | 4,92 | 4,72 | 5,21 | 6,02 | |
Sumber: BPS | |||||||||||||
Meski demikian, sejumlah ekonom memprakirakan pertumbuhan akan berada di bawah target pemerintah di awal tahun. Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David Sumual memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026 sebesar 5,3% atau masih di kisaran kuartal IV/2025.
"Pertumbuhan kurang lebih sama dibandingkan kuartal IV/2025. Net ekspor turun, seiring impor yang tumbuh kencang selama Q1 tanpa diimbangi ekspor," jelasnya kepada Bisnis.
Di sisi lain, David menilai beberapa indikator konsumsi menunjukkan perlambatan seperti intrabel serta penjualan mobil dan motor. Ini disebabkan lebih oleh hari kerja yang lebih sedikit.
Namun demikian, konsumsi selama Ramadan dan Lebaran dinilai lebih baik dibandingkan tahun lalu.
Adapun komponen belanja pemerintah mengalami akselerasi, ditambah efek low base 2025 akibat efisiensi berdasarkan Instruksi Presiden (Inpres) No.1/2025.
Dari sisi komponen investasi, David memproyeksikan adanya akselerasi dengan indikasi belanja modal pemerintah serta impor barang modal yang meningkat.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede memproyeksikan pertumbuhan masih di atas 5%, bahkan berpotensi mencapai sekitar 5,44% (yoy).
Josua melihat penopangnya berasal dari konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, serta investasi. Konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh sekitar 5,24% (yoy) didorong oleh seluruh siklus Ramadan dan Idulfitri yang jatuh pada kuartal I/026.
Akibatnya, belanja makanan, minuman, pakaian, transportasi, dan akomodasi meningkat. Hal ini turut diperlihatkan dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang masih kuat, kenaikan porsi konsumsi masyarakat pada Maret, serta pertumbuhan penjualan eceran.
Selain konsumsi, belanja pemerintah dan investasi turut menjadi kontributor besar dengan pertumbuhan sekitar 5,21% (yoy). Ini berbalik menguat dari kontraksi pada kuartal I/2025 karena akselerasi pencairan belanja sosial dan belanja operasional infrastruktur.
"Investasi diperkirakan tumbuh lebih kuat sekitar 7,23%, didorong oleh percepatan proyek infrastruktur, hilirisasi industri, belanja modal BUMN, dan pemulihan siklus investasi setelah tahun sebelumnya relatif tertahan," ujarnya kepada Bisnis.
Akan tetapi, dia mewanti-wanti pelemahan rupiah tetap menjadi risiko karena dapat menaikkan biaya impor barang modal dan menahan minat investasi asing apabila tekanan pasar keuangan global berlanjut.
Secara keseluruhan, gambaran ekonomi makro dinilai cukup seimbang di mana inflasi April mereda setelah puncak musiman Ramadan dan Idulfitri, surplus dagang Maret masih terjaga, dan pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026 tetap solid di atas 5%.
Josua melihat tiga tantangan utama ke depan, yaitu kenaikan harga energi global, pelemahan rupiah, dan impor yang tumbuh lebih cepat daripada ekspor.
"Dengan demikian, ruang kebijakan moneter untuk menurunkan suku bunga menjadi lebih terbatas, sementara kebijakan fiskal perlu tetap menjaga daya beli masyarakat tanpa memperlebar tekanan subsidi dan defisit secara berlebihan," pungkasnya.
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Andry Asmoro memprakirakan ekonomi bisa tumbuh sedikit lebih tinggi dari proyeksi Josu, yakni hingga 5,47% (yoy). Namun, faktor pendorongnya juga dinilai tetap sama, yaitu permintaan domestik yang lebih tinggi berkat belanja pemerintah, investasi dan konsumsi selama Ramadan.
Andry memproyeksikan konsumsi rumah tangga tumbuh 5,2% (yoy), sedangkan belanja pemerintah mengalami rebound dari periode yang sama tahun lalu ke 5,5% (YoY).
Investasi atau PMTB diprakirakan menguat ke 6,5% pada kuartal I/2026. Namun, ekspor dinilai bakal mengalami moderasi sebagaimana proyeksi ekonom lainnya.
"Ekspor diprakirakan mengalami moderasi ke 2,8% (yoy) (dibandingkan 3,25% pada kuartal IV/2025) sedangkan impor tumbuh lebih cepat yaitu 7,63% (yoy) (dibandingkan 3,96% di kuartal IV/2025), merefleksikan permintaan domestik yang lebih kuat dan impor terkait investasi," ujar Andry melalui keterangan tertulis.
#pertumbuhan-ekonomi #ekonomi-kuartal-i-2026 #target-pertumbuhan-ekonomi #pertumbuhan-tertinggi-sejak-2013 #belanja-pemerintah #konsumsi-masyarakat #investasi-infrastruktur #proyeksi-ekonomi-2026 #libu