Angin Segar Telkomsel-XLSMART Cs, Frekuensi Baru Hadir 3 Bulan Lagi

Angin Segar Telkomsel-XLSMART Cs, Frekuensi Baru Hadir 3 Bulan Lagi

Telkomsel, Indosat, dan XLSMART berpeluang mendapatkan spektrum frekuensi baru 700 MHz dan 2,6 GHz pada Juli 2026, mendukung pengembangan 5G di Indonesia.

(Bisnis.Com) 30/04/26 09:45 207256

Bisnis.com, JAKARTA — PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), PT Indosat Tbk. (ISAT), dan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL) berpeluang mendapat tambahan spektrum frekuensi baru tahun ini dari pita 700 MHz dan 2,6 GHz. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyampaikan bahwa pengumuman pemenang lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz dijadwalkan pada akhir Juli 2026.

Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi Wayan Toni Supriyanto mengonfirmasi jadwal tersebut. “Kemungkinan [pemenang] di akhir Juli ya, kalau lihat jadwal,” kata Wayan di Jakarta, Rabu (29/4/2026).

Wayan menjelaskan, saat ini pihaknya belum mengetahui secara pasti operator yang akan mengikuti lelang. Namun, Komdigi telah mengundang seluruh penyelenggara jaringan bergerak seluler, yakni PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), Indosat Ooredoo Hutchison, dan PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk. (XLSmart).

Meski demikian, dia menegaskan belum ada kepastian seluruh operator tersebut akan berpartisipasi. “Kami undang tiga-tiganya, tetapi apakah minat atau tidak kan kami belum tahu,” katanya.

Dia memastikan mekanisme lelang tidak akan menggunakan skema pembagian merata, melainkan tetap berbasis seleksi peringkat. Setiap pita frekuensi akan menghasilkan satu pemenang.

“Yang menang rangking satu. Masing-masing spektrum satu pemenang berarti, 700 sama 2,6,” katanya.

Pekerja memperbaiki sinyal di menara telekomunikasi
Pekerja memperbaiki sinyal di menara telekomunikasi

Terkait potensi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), Wayan menyebut pihaknya belum dapat memberikan estimasi karena proses lelang masih berjalan.

Adapun mengenai harga dasar lelang, Wayan menyampaikan informasi tersebut telah tercantum dalam dokumen resmi seleksi. Penetapan harga tersebut juga telah melalui masukan dari Kementerian Keuangan dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Saat ini, proses lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz telah memasuki tahap pengambilan akun lelang. Peserta sudah dapat mengambil akun sekaligus dokumen seleksi. Wayan menegaskan kedua pita frekuensi akan dilelang secara bersamaan sesuai rencana pemerintah, dengan skema seleksi yang tetap digunakan. Sementara itu, usulan keringanan pembayaran dari pelaku industri belum menjadi fokus pembahasan karena pemerintah masih berkonsentrasi pada tahapan seleksi.

Dia menjelaskan pita 700 MHz akan difokuskan untuk memperluas jangkauan (coverage), sedangkan pita 2,6 GHz untuk meningkatkan kapasitas jaringan, terutama dalam pengembangan 5G.

Respons Industri

Rencana lelang frekuensi ini mendapat respons positif dari pelaku industri. Director and Chief Regulatory Officer XLSmart Merza Fachys berharap tambahan spektrum dapat mendorong percepatan pengembangan 5G.

“Oleh sebab itu, kami termasuk salah satu yang mendorong agar lelang ini agar digelar secepat-cepatnya bahkan dari tahun lalu,” kata Merza.

Merza menilai ekosistem 5G mulai berkembang sejak tahun lalu, seiring meningkatnya adopsi perangkat yang mendukung teknologi tersebut. Dia memperkirakan penetrasi perangkat 5G dapat melampaui 20% hingga mendekati 30%. Dengan kondisi tersebut, menurutnya, layanan 5G sudah semakin relevan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di berbagai daerah.

Dia juga menyebut XLSmart terus membangun jaringan 5G secara konsisten sejak merger, dengan cakupan yang mulai terasa baik di kota besar maupun sejumlah kota kecil.

“Walaupun spektrum masih terbatas, kami juga mulai menyiapkan infrastruktur 5G. Dengan spektrum baru, maka kami harapkan akan mempunyai kapasitas dan kualitas yang akan jauh lebih baik,” katanya.

Angin Segar Telkomsel-XLSMART Cs, Frekuensi Baru Hadir 3 Bulan Lagi

Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison Muhammad Buldansyah menekankan pentingnya pemerataan infrastruktur di Indonesia yang merupakan negara kepulauan.

“Dan ini juga menjadi PR bersama-sama,” kata Buldansyah.

Dia menambahkan industri berharap lelang spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz dapat menghadirkan harga yang kompetitif serta menjadi acuan bagi spektrum lainnya. Menurutnya, kebijakan tersebut diharapkan dapat menekan biaya regulasi sehingga lebih efisien bagi operator.

“Bagaimana ini menjadi suatu kesatuan sehingga regulatory cost bisa turun,” katanya.

Sementara itu, Direktur Network Telkomsel Indra Mardiatna melihat penetrasi perangkat 5G di beberapa wilayah Indonesia telah mencapai sekitar 20% bahkan lebih, sehingga menjadi peluang pengembangan jaringan.

“Nah, idealnya, itu dua-duanya berperanan, supaya kita invest kemudian ternyata enggak ada yang pakai, atau pelanggan sudah tumbuh besar, tapi kita belum invest,” katanya.

Indra mengatakan implementasi 5G perlu didorong secara bersama dalam ekosistem. Saat ini, Telkomsel telah menjangkau 107 kota dan kabupaten dengan tingkat implementasi yang berbeda.

“Tapi memang berbeda-beda levelnya. Ada yang kota besar, kemudian ada yang kami mendukung kota-kota yang penunjang. Kemudian ada initial stage, kami memperkenalkan 5G,” katanya.

Dia juga menyoroti tantangan implementasi 5G di Indonesia yang masih bertahap, meskipun ada harapan untuk mencapai koneksi berkecepatan tinggi di masa depan.

“Sekarang mungkin masih bertahap,” katanya.

Head of Government and Industry Relations Ericsson Indonesia Ronni Nurmal menilai spektrum menjadi faktor kunci dalam pengembangan 5G dan AI di Indonesia.

“Spektrum yang akan dirilis 700 dan 2,6 itu akan jadi pilar utama untuk pengembangan dan pengembangan aplikasi dan penetrasi 5G yang optimal di Indonesia,” katanya.

Dia berharap proses lelang dapat berjalan cepat dengan mempertimbangkan aspek keterjangkauan agar biaya regulasi bagi operator dapat ditekan. Dengan demikian, operator terdorong untuk mempercepat pembangunan jaringan. Menurutnya, 5G, AI, dan cloud merupakan pilar utama dalam pengembangan digitalisasi di Indonesia.

Sebelumnya, Komdigi telah membuka seleksi pengguna pita frekuensi radio 700 MHz dan 2,6 GHz untuk jaringan seluler pada 23 April 2026. Kebijakan ini merupakan bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 untuk mempercepat pemerataan akses internet berkecepatan tinggi.

Total spektrum yang dilelang mencapai 260 MHz, terdiri atas pita 700 MHz sebesar 70 MHz (2x35 MHz) dan pita 2,6 GHz sebesar 190 MHz.

“Pemenang seleksi memikul tanggung jawab besar dalam memperkuat infrastruktur digital. Peserta terpilih wajib menyelenggarakan layanan minimal standar 4G/LTE pada desa atau kelurahan yang telah masuk dalam target pembangunan pemerintah,” tulis Komdigi, Kamis (23/4/2026).

Selain itu, pemenang seleksi diwajibkan mengimplementasikan teknologi 5G di wilayah yang akan ditetapkan melalui Keputusan Menteri Komunikasi dan Digital. Penggunaan pita 2,6 GHz untuk 5G diperkirakan mampu menghadirkan kecepatan unduh hingga 10 kali lipat dibandingkan 4G.

Dari sisi finansial, pemenang seleksi harus membayar biaya izin awal (up-front fee) serta biaya izin tahunan berupa BHP Spektrum Frekuensi Radio sebagai bagian dari PNBP.

Secara teknis, terdapat kewajiban mitigasi interferensi. Pada pita 700 MHz, operator harus mengantisipasi gangguan terhadap perangkat televisi digital, sedangkan pada pita 2,6 GHz operator wajib mencegah interferensi dengan sistem radiolokasi meteorologi dan layanan lain di pita S-band.

Komdigi menegaskan proses seleksi akan dilakukan secara transparan, akuntabel, dan memiliki kepastian hukum guna mendorong penguatan infrastruktur digital serta pertumbuhan ekonomi digital nasional.

#telkomsel-frekuensi #indosat-frekuensi #xlsmart-frekuensi #lelang-frekuensi #spektrum-700-mhz #spektrum-2-6-ghz #pengembangan-5g #jaringan-seluler #infrastruktur-digital #penetrasi-5g #pita-frekuensi #n-a

https://teknologi.bisnis.com/read/20260430/101/1970229/angin-segar-telkomsel-xlsmart-cs-frekuensi-baru-hadir-3-bulan-lagi