Geopolitik Memanas, Kerja Sama Bisnis Lintas Negara Jadi Mitigasi Risiko

Geopolitik Memanas, Kerja Sama Bisnis Lintas Negara Jadi Mitigasi Risiko

Ketidakpastian geopolitik global dinilai masih menjadi tantangan bagi keberlanjutan hubungan bisnis lintas negara.

(Kompas.com) 24/04/26 10:31 201479

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketidakpastian geopolitik global dinilai masih menjadi tantangan bagi keberlanjutan hubungan bisnis lintas negara, terutama karena berpotensi mengganggu jalur distribusi dan rantai pasok internasional.

Di tengah kondisi tersebut, B57+ Asia Pacific dipandang sebagai alternatif mitigasi risiko melalui penguatan kolaborasi lintas sektor dan antarnegara.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan, kondisi geopolitik yang belum sepenuhnya stabil menuntut adanya strategi jangka pendek dan menengah yang lebih jelas, baik di sektor publik maupun swasta.

PIXABAY/TUNG NGUYEN Ilustrasi bisnis, pertumbuhan bisnis.

Menurut dia, kejelasan strategi itu penting agar pelaku usaha memiliki gambaran konkret terkait peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

“Dengan mengedepankan kerja sama yang saling menguntungkan tanpa intervensi kepentingan politik atau agama, aktivitas bisnis diharapkan dapat berjalan lebih stabil,” kata Liza dalam keterangan tertulis, Jumat (24/4/2026).

Liza menilai, B57+ Asia Pacific Chapter dengan Indonesia sebagai titik penting menjadi platform kerja sama bisnis yang relevan dalam merespons dinamika geopolitik global saat ini.

Menurut dia, langkah tersebut dapat memperkuat kerja sama bisnis antarnegara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dengan Indonesia berperan sebagai aktor kunci.

“Kehadiran platform ini berpotensi menjadi solusi dalam meredam dampak ketegangan geopolitik global, melalui kolaborasi yang netral dan berorientasi pada keuntungan bersama maka stabilitas ekonomi dapat tetap terjaga,” ujar dia.

PIXABAY/RONALD CARRENO Ilustrasi bisnis.

Didorong perkuat jaringan bisnis terstruktur

Ketua Umum B57+ Asia Pacific Arsjad Rasjid mengatakan, pembentukan B57+ Asia Pacific Regional Chapter pada Februari 2026 menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama ekonomi di tengah dunia yang dinilainya semakin penuh ketidakpastian dan terfragmentasi.

Menurut Arsjad, kehadiran chapter regional tersebut diarahkan untuk mendukung tujuan bersama berupa perdamaian dan kesejahteraan yang lebih merata.

“Sebagai mitra strategis, B57+ Asia Pacific Regional Chapter berperan dalam mendorong perdagangan antar mitra organisasi kerja sama Islam melalui structured business networks, penguatan investasi lintas negara, serta merumuskan kebijakan yang konkrit dengan menjembatani prioritas sektor swasta dan agenda strategis pemerintah,” jelas Arsjad.

Ia menambahkan, peran structured business networks menjadi penting dalam memperkuat konektivitas antar pelaku usaha di negara-negara mitra, terutama ketika hubungan perdagangan global menghadapi tekanan akibat konflik geopolitik.

Selain perdagangan, penguatan investasi lintas negara dan sinkronisasi kepentingan sektor swasta dengan agenda strategis pemerintah juga disebut menjadi bagian dari fokus kerja sama yang diusung platform tersebut.

Indonesia dinilai strategis

Indonesia dipilih sebagai pusat koordinasi kawasan Asia Pasifik dalam B57+ Asia Pacific Regional Chapter. Penetapan itu disebut didasarkan pada dua faktor utama, yakni faktor demografis dan pengaruh ekonomi.

Dari sisi demografi, Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Sementara dari sisi ekonomi, Indonesia disebut konsisten berada di posisi tiga besar dalam Global Islamic Economy Indicator (GIEI).

FREEPIK/DC STUDIO Ilustrasi bisnis.

Posisi tersebut dinilai memperkuat peran Indonesia dalam mendorong pengembangan jaringan bisnis dan investasi di antara negara-negara anggota OKI, sekaligus menjadi titik koordinasi kerja sama di kawasan Asia Pasifik.

Dalam kerangka itu, B57+ Asia Pacific juga menetapkan empat prioritas konkret yang menjadi fokus kerja sama chapter regional.

Pertama, penguatan ketahanan rantai pasok lintas batas atau cross-border supply chain resilience, yang dinilai relevan di tengah ancaman gangguan distribusi akibat tensi geopolitik.

Kedua, reformasi regulasi berbasis bukti atau evidence-based regulatory reform, yang diarahkan untuk mendukung kepastian usaha dan memperkuat iklim investasi.

Ketiga, perluasan peran keuangan syariah, yang dipandang dapat mendukung pembiayaan dan integrasi ekonomi di antara negara-negara mitra.

Keempat, memperluas akses pasar dan permodalan agar peluang bisnis dan investasi lintas negara semakin terbuka.

Mitigasi tekanan geopolitik

Di tengah meningkatnya tekanan geopolitik global, kolaborasi berbasis kepentingan ekonomi bersama dipandang menjadi salah satu pendekatan mitigasi yang didorong melalui platform tersebut.

Liza menilai, kerja sama yang netral dan berorientasi bisnis berpotensi menjadi ruang untuk meredam dampak fragmentasi global terhadap aktivitas ekonomi.

Menurut dia, pendekatan itu juga memberi ruang bagi pelaku usaha untuk menjaga kesinambungan bisnis melalui pola kolaborasi yang lebih adaptif terhadap risiko eksternal.

Sementara itu, Arsjad menekankan penguatan perdagangan, investasi, serta perumusan kebijakan konkret menjadi fondasi yang didorong agar kerja sama tersebut tidak berhenti di tingkat wacana, tetapi dapat diterjemahkan ke dalam agenda ekonomi yang lebih operasional.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#pelaku-usaha #iklim-investasi #geopolitik #bisnis-lintas-negara

https://money.kompas.com/read/2026/04/24/103124226/geopolitik-memanas-kerja-sama-bisnis-lintas-negara-jadi-mitigasi-risiko