ATSI Klaim Harga Internet RI Termasuk Murah, di Bawah Pendapatan Bulanan Warga
Tarif internet seluler di Indonesia tergolong murah, di bawah 2% GNI per kapita, namun kualitas per Mbps masih kalah dibanding negara lain.
(Bisnis.Com) 22/04/26 18:43 199575
Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) menilai tarif layanan internet seluler di Indonesia saat ini sudah tergolong sangat terjangkau.
Direktur Eksekutif ATSI Marwan O. Baasir mengungkapkan indikator keterjangkauan ini terlihat dari porsi biaya internet terhadap pendapatan rata-rata masyarakat. Secara internasional, layanan internet dianggap murah jika harganya di bawah 2% dari total pendapatan bulanan warga (GNI per kapita).
Di Indonesia, biaya paket data ponsel (mobile broadband) sudah berhasil menembus batas tersebut, alias berada di bawah 2%. Hal ini menandakan akses internet seluler sudah sangat terjangkau bagi kantong masyarakat luas. Namun, untuk internet kabel rumah (fixed broadband), bebannya masih cukup tinggi karena rata-rata memakan sekitar 6,1% dari pendapatan bulanan masyarakat.
Marwan menilai harga murah tersebut juga sangat dipengaruhi oleh daya beli di tiap wilayah. Di kota besar, masyarakat sanggup membayar layanan berkecepatan 100 Mbps, sedangkan di pedesaan, operator lebih banyak menyediakan paket hemat dengan kecepatan 5 Mbps hingga 10 Mbps.
“Itu yang terjadi di daerah, tergantung affordability atau kemampuan bayar masyarakatnya,” ujar Marwan kepada Bisnis, Rabu (22/4/2026).
Laporan Global Broadband Price League 2026 memperkuat klaim tersebut. Indonesia menduduki posisi ke-12 dari 214 negara dengan harga internet termurah di dunia. Di Asia Tenggara, Indonesia menjadi negara termurah kedua dengan rata-rata US$10,66, hanya kalah tipis dari Vietnam di angka US$10,24.
Sayangnya, predikat "murah" secara nominal ini berbanding terbalik dengan efisiensi kualitasnya. Jika dihitung berdasarkan biaya per Mbps, internet Indonesia justru terasa lebih mahal. Dengan kecepatan rata-rata hanya 31,2 Mbps, warga Indonesia membayar sekitar US$0,34 per Mbps. Angka ini terpaut jauh dari Singapura yang hanya mematok US$0,08 per Mbps karena memiliki kecepatan rata-rata mencapai 410 Mbps.
Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi melihat fenomena harga rendah ini dipicu oleh persaingan antaroperator yang sangat ketat dan dominasi pelanggan prabayar. Strategi bundling dan perang tarif sejak era 4G memang menekan harga, namun berdampak pada margin operator yang menipis.
“Harga paket terlihat murah, tapi jika dihitung per Mbps atau stabilitas latensinya, Indonesia sering tertinggal,” kata Heru. Kondisi tersebut diperburuk oleh tingginya biaya spektrum serta investasi jaringan yang rumit di wilayah kepulauan.
Menanggapi situasi pasar, Group Head Corporate Communications & Sustainability PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk. (XLSmart) Reza Mirza menyatakan perusahaan tetap berkomitmen pada kualitas jaringan di tengah tekanan harga. XLSmart lebih memilih pendekatan berbasis nilai (value-based) daripada sekadar perang tarif.
Hingga akhir 2025, pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) campuran XLSmart tercatat sebesar Rp39.500 dan berhasil merangkak naik menjadi Rp44.800 pada kuartal IV/2025. Reza menyebut investasi pada kapasitas jaringan menjadi prioritas utama guna memastikan transformasi digital nasional tidak terhambat oleh kualitas internet yang rendah.
#internet-murah #harga-internet-indonesia #tarif-internet-seluler #biaya-internet-rendah #paket-data-ponsel #internet-kabel-rumah #fixed-broadband-indonesia #kecepatan-internet-indonesia #harga-interne