Rupiah Hampir Rp 17.200 per Dollar AS, Negosiasi AS-Iran Jadi Sorotan

Rupiah Hampir Rp 17.200 per Dollar AS, Negosiasi AS-Iran Jadi Sorotan

Rupiah anjlok ke Rp 17.188 per dollar AS dipicu sentimen global. Optimisme konflik Timur Tengah mereda, namun tantangan ekonomi AS dan kebijakan Fed membayangi.

(Kompas.com) 17/04/26 15:50 194656

JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah di pasar spot nyaris menyentuh Rp 17.200 per dollar AS saat penutupan perdagangan Jumat (17/4/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda melemah 50 poin atau 0,29 persen ke level Rp 17.188 per dollar AS dibandingkan penutupan hari sebelumnya, yakni Rp 17.138 per dollar AS.

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai sentimen global mulai menunjukkan perbaikan seiring meningkatnya optimisme bahwa konflik di Timur Tengah dapat segera mereda.

Shutterstock/Travis182 Ilustrasi rupiah.

Harapan tersebut muncul setelah gencatan senjata selama 10 hari antara Lebanon dan Israel mulai berlaku.

Di saat yang sama, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa Washington dan Teheran berpeluang melanjutkan pembicaraan damai pada akhir pekan.

“Optimisme bahwa konflik Timur Tengah mungkin akan segera berakhir setelah gencatan senjata 10 hari antara Lebanon dan Israel mulai berlaku dan Presiden Donald Trump mengatakan AS dan Iran mungkin akan bertemu untuk melakukan pembicaraan pada akhir pekan,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Jumat sore ini.

Trump mengungkapkan, dalam pembahasan terkait upaya mengakhiri konflik Iran, yang sebelumnya berdampak pada penutupan Selat Hormuz selama tujuh pekan, Teheran disebut menawarkan komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir dalam jangka panjang.

“Kita akan lihat apa yang terjadi. Tapi saya pikir kita sangat dekat untuk mencapai kesepakatan dengan Iran,” ujar Trump kepada wartawan di luar Gedung Putih, Kamis.

PIXABAY/MOHAMAD TRILAKSONO Ilustrasi rupiah.

Meski demikian, dinamika di lapangan masih menjadi tantangan.

Kampanye militer Israel di Lebanon dinilai menjadi salah satu hambatan utama bagi tercapainya kesepakatan damai yang komprehensif.

Bahkan, laporan Reuters menyebutkan negosiator AS dan Iran kini lebih realistis dengan mengarah pada kesepakatan sementara guna mencegah eskalasi konflik lebih lanjut.

Dari sisi ekonomi global, data tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan sinyal yang relatif solid.

Klaim pengangguran awal tercatat turun menjadi 207.000 untuk pekan yang berakhir 11 April, lebih rendah dari perkiraan 215.000 dan juga di bawah angka pekan sebelumnya sebesar 218.000.

Meski demikian, indikator ketenagakerjaan lainnya, termasuk JOLTS, menunjukkan aktivitas perekrutan dan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang cenderung melambat, mencerminkan kondisi pasar tenaga kerja yang mulai kehilangan momentum.

Sementara itu, pejabat bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) tetap mempertahankan sikap kebijakan yang hati-hati.

Presiden The Fed New York, John Williams, menilai konflik Iran berpotensi mendorong kenaikan harga dan meningkatkan tekanan inflasi.

Namun, ia menegaskan bahwa arah kebijakan moneter saat ini dinilai sudah tepat.

Di dalam negeri, kinerja ekonomi Indonesia pada awal 2026 masih relatif solid.

Inflasi terjaga dalam kisaran target Bank Indonesia (BI), sementara konsumsi rumah tangga tetap kuat, didukung momentum Ramadhan dan Lebaran.

SHUTTERSTOCK/APCHANEL Ilustrasi ekspor.

Neraca perdagangan juga mencatatkan surplus, ditopang sektor komoditas seperti batu bara dan minyak kelapa sawit.

Namun, memasuki akhir kuartal I-2026, tekanan eksternal mulai terasa.

Eskalasi konflik AS-Iran sempat mendorong harga minyak melampaui asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Harga minyak Brent bahkan sempat menembus level 118 dollar AS per barrel pada fase awal konflik.

Kendati demikian, pemerintah menegaskan tidak akan menaikkan harga bahan bakar bersubsidi guna menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi.

Di sisi fiskal, pemerintah juga menegaskan komitmen menjaga disiplin anggaran.

Dalam pertemuan dengan lembaga pemeringkat global Standard & Poor’s di Amerika Serikat, pemerintah menekankan bahwa defisit APBN akan tetap dijaga di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Defisit APBN 2026 yang sempat diperkirakan melebar hingga 2,9 persen akibat kenaikan harga minyak, kini diproyeksikan dapat ditekan ke kisaran 2,8 persen terhadap PDB.

Angka tersebut memang sedikit lebih tinggi dari target awal 2,68 persen, namun tetap berada dalam batas aman fiskal yang ditetapkan pemerintah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#defisit-apbn #nilai-tukar-rupiah #konflik-timur-tengah #bank-sentral-amerika-serikat

https://money.kompas.com/read/2026/04/17/155052126/rupiah-hampir-rp-17200-per-dollar-as-negosiasi-as-iran-jadi-sorotan