Pinjol Tumbuh Pesat, Alarm Risiko Gagal Bayar Makin Nyaring

Pinjol Tumbuh Pesat, Alarm Risiko Gagal Bayar Makin Nyaring

Pinjaman daring tumbuh 25,75% YoY, risiko gagal bayar meningkat. OJK dorong penguatan tata kelola dan manajemen risiko untuk cegah kredit macet.

(Bisnis.Com) 09/04/26 19:22 186820

Bisnis.com, JAKARTA — Di tengah pertumbuhan pesat kredit pinjaman online alias pinjol, risiko gagal bayar mulai menjadi sorotan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatatoutstandingpembiayaan pinjaman daring (pindar) per Februari 2026 mencapai Rp100,69 triliun atau tumbuh 25,75% (year on year/YoY). Namun, di sisi lain tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 industri mencapai 4,54%.

Menilik data periode Januari 2025 hingga Februari 2026, TWP90 sebesar 4,54% tercatat sebagai level tertinggi dalam setahun terakhir. Kenaikan ini mulai terlihat signifikan sejak November 2025 ketika TWP90 melonjak jadi 4,33% dari posisi Oktober 2025 yang masih berada di level 2,76%.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM dan LJK Lainnya OJK Agusman menilai peningkatan pembiayaan bermasalah di industri pindar antara lain dipengaruhi oleh menurunnya kemampuan bayar sebagian peminjam dana (borrower).

“Untuk menekan risiko tersebut, penyelenggara pindar didorong memperkuat tata kelola dan manajemen risiko, termasuk peningkatan kualitas e KYC dancredit scoringagar penyaluran pembiayaan lebih selektif danprudentserta menjaga pelindungan konsumen,” katanya dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK Maret 2026, Rabu (8/4/2026).

Adapun, per Februari 2026 terdapat 18 penyelenggaraan pindar dengan yang TWP90 di atas 5%. OJK, kata Agusman, telah mengenakan sanksi sesuai ketentuan dan meminta mereka untuk melakukan langkah perbaikan guna meningkatkan kualitas pembiayaan.

Dia meneruskan, dari 18 penyelenggara pindar itu, didominasi oleh sektor produktif yang mencerminkan karakteristik usaha, khususnya UMKM yang antara lain bergantung pada arus kas dan kondisi pasar.

“Sehingga bukan semata-mata disebabkan keterbatasan data, mengingat penyelenggara telah memanfaatkan berbagai sumber data seperti Sistem Layanan Informasi Keuangan [SLIK] danFintech Data Center[FDC],” jelasnya.

Di lain sisi, Agusman turut menyampaikan hingga kini masih ada 10 penyelenggara pindar yang belum memenuhi ketentuan ekuitas minimum Rp12,5 miliar. Seluruh penyelenggara tersebut telah menyampaikanaction plankepada OJK yang memuat langkah-langkah pemenuhan ekuitas minimum.

“Antara lain melalui penambahan modal disetor oleh pemegang saham eksisting, mencari investor strategis, dan/ataumerger,” ucapnya.

Ke depan, OJK mendorong agar penyelenggara pindar bisa menguatkan e-KYC, peningkatan kualitascredit scoring, dan penguatan permodalan. Hal ini supaya menjaga industri tetap sehat dan profil risiko terjaga serta pelindungan konsumen dapat dilakukan dengan baik.

Demand Tinggi, Risiko Mengintai

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesia Information and Communication Technology (ICT) Institute, Heru Sutadi menilaioutstandingpembiayaan yang tumbuh mencapai 25,75% (YoY) menunjukkan demand dan penetrasi yang kuat. Namun, TWP90 di level 4,54% menandakan kualitas mulai tertekan.

Menurutnya, fase tersebut perlu diwaspadai karena saat ekspansi agresif membuat volume naik lebih cepat daripada pematangan manajemen risiko. Sebab itu, keseimbangan harus dijaga dengan pertumbuhan yang berkualitas, bukan sekadar cepat.

Monitoringportofolio yang ketat agar tidak melewati ambang 5%, sebab meski secara rata-rata pasti banyak yang sudah di atas 5% dan tembus secara rata-rata ke 5% hanya menunggu waktu saja,” katanya kepadaBisnis, Rabu (8/4/2026).

Dia menjelaskan, beberapa faktor yang menyebabkan TWP90 melonjak signifikan tidak lepas dari ekspansi ke segmen borrower baru yang lebih berisiko, pelonggaran seleksi saat mengejar pertumbuhan, tekanan daya beli atau likuiditas nasabah, serta modelscoringyang belum sepenuhnya menangkap perubahan perilaku pasca-siklus ekonomi.

Selain itu, lanjutnya, kompetisi industri bisa mendorongunderpricingrisiko dan overlap pinjaman (multi-platformborrowing). Heru turut menyoroti bahwa pengawasan OJK kurang ketat dan kurang tegas terhadap pelanggaran, termasuk penggunaancredit scoringyang tidak maksimal karena ternyata semua bisa dikasih pinjaman tanpa perlu dilihat risiko apakah bisa kembalikan pinjaman atau tidak.

“Sebab itu, perusahaan perlu memperkuatcredit scoringberbasis data alternatif danbehavioral, memperketat limit awal, sertadynamic pricingsesuai risiko.Monitoring real-timedanearly warning systempenting untuk penagihan dini. Diversifikasi portofolio, pembatasan eksposur pada segmen berisiko tinggi, serta peningkatan kualitascollectionjuga krusial,” bebernya.

Lebih lanjut, Heru berpendapat dengan TWP90 yang mendekati batas 5% maka pertumbuhan industri pindar kemungkinan lebih moderat dan selektif. Jadi, industri tetap ekspansif, tetapi dengan mitigasi risiko yang lebih kuat seperti peningkatangovernance, kolaborasi data, dan pengawasan regulator.

“Jika disiplin dijaga, pertumbuhan tetap berlanjut tanpa melampauithresholdrisiko. Namun, saya termasuk yang pesimis dan angka 5% pasti terlampaui minimal bulan Juni mendatang,” tegasnya.

Sependapat, Ekonom Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda berpandangan ketika penyaluran pindar meningkat tajam, maka potensi gagal bayar juga meningkat.

“Ketika penyaluran jor-joran, dengan sistem yang ada harusnya bisa diminimalisasi. Namun, yang terjadi kadang sistemcredit scoring-nya tidak membaca kemampuan bayar yang valid. Akibatnya, ada penurunan kualitas dari penyaluran pembiayaan,” katanya kepadaBisnis, Rabu (8/4/2026).

Dirinya melihat bahwa kualitas penyaluran ke sektor produktif lebih buruk. Hal ini tidak lepas dari kondisi ekonomi yang lesu sehingga membuat permintaan (demand) barang menjadi kurang. Jika terus terjadi seperti ini, TWP90 dinilai bisa melewati angka 5%.

Sebab demikian, Huda merasa penyelenggara pindar perlu mengerem penyalurannya untuk sementara waktu. Terlebih, saat ini industri juga sedang terkena isu KPPU yang bisa membuat TWP90 meningkat pada Maret atau April 2026.

“Jika tidak direm, bisa membuatlenderkabur karena masalah kepercayaan ke platform pindar dalam hal mengurus kualitas penyaluran kredit. Jika pun ingin di-pushuntuk terus tumbuh di atas 20%, perlu ada pembenahan dalamcredit scoring,” tegasnya.

Credit Scoring Kunci Utama Jaga Kualitas Portofolio

Adapun, PT Amartha Mikro Fintek menegaskan bahwa pihaknya senantiasa menjaga kualitas pembiayaan kepada UMKM ultra-mikro yang dilayaninya melalui penerapan sistemcredit scoringberbasisartificial intelligence(AI).

“Yang dikembangkan berdasarkan pengalaman kami dalam menjalankan layanan ini di lebih dari 50.000 desa di Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan,” tutur VP Public Relations Amartha Harumi Supit kepadaBisnis, Rabu (8/4/2026).

Harumi menjelaskan sistem tersebut dirancang sesuai dengan karakteristik dan perilaku pelaku usaha ultra-mikro di pedesaan, khususnya ibu-ibu pelaku usaha mikro yang masih menghadapi keterbatasan akses pendanaan.

“Sistemcredit scoringAmartha menjadi salah satu kunci utama dalam menjaga kualitas portofolio yang hingga saat ini tetap terjaga,” tegasnya.

Adapun,credit scoringyang dimaksudnya tersebut sudah didukung oleh penerapan mekanisme manajemen risiko serta pengendalian internal berlapis yang dikembangkan dengan mengacu pada standar perbankan.

#pinjaman-online #risiko-gagal-bayar #ojk-pinjaman-online #kredit-macet #twp90 #manajemen-risiko #e-kyc #credit-scoring #fintech-indonesia #umkm-pembiayaan #outstanding-pembiayaan #pertumbuhan-pinjaman

https://finansial.bisnis.com/read/20260409/563/1965363/pinjol-tumbuh-pesat-alarm-risiko-gagal-bayar-makin-nyaring