Konflik Iran Ancam Bisnis Petikemas & Logistik: Potensi Kapal Telat hingga Dongkrak Biaya
Konflik Iran dengan Israel-AS mengganggu logistik global, menyebabkan keterlambatan kapal hingga seminggu dan potensi kenaikan tarif sewa kapal OSV.
(Bisnis.Com) 30/03/26 09:41 176111
Bisnis.com, SURABAYA — Eskalasi konflik bersenjata yang berkecamuk antara Iran dan koalisi Israel-Amerika Serikat (AS) di kawasan Jazirah Arab maupun kebijakan pembatasan Selat Hormuz mulai dirasakan dampaknya terhadap seluruh sektor, termasuk aktivitas logistik maupun bongkar muat.
Jalur pelayaran internasional yang terimbas eskalasi geopolitik tersebut menyebabkan terjadinya keterlambatan datangnya kapal-kapal dari berbagai negara yang singgah di Indonesia. Tak hanya itu, tarif sewa kapal offshore support vessel (OSV) juga berpotensi untuk melonjak dalam jangka waktu pendek.
Direktur Utama PT. Terminal Teluk Lamong (TTL) David Pandapotan Sirait mengungkapkan bahwa akibat dari gejolak tersebut, tercatat sebanyak 85% kapal internasional mengalami penundaan kedatangan ke Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, yang merupakan salah satu pilar pelayaran dalam simpul pelayanan nasional di wilayah Indonesia timur.
Menurutnya, eskalasi konflik yang terjadi antara pihak-pihak yang berseteru membuat banyak kapal tidak dapat melintasi rute normal dan terpaksa memutar jalur. Efeknya langsung menghujam jadwal sandar di berbagai terminal peti kemas Surabaya, di mana keterlambatan kedatangan kapal bahkan bisa mencapai medio satu minggu.
“Dampak perang Iran, AS, dan Israel membuat kegiatan ekspor-impor terkendala. Banyak kapal tidak bisa lewat rute normal dan harus memutar. Data kami selaras dengan terminal peti kemas lainnya, di mana sekitar 85% kapal mengalami delay, bahkan hingga satu minggu," beber David.
Dia menjelaskan terdapat dua layanan langsung ke India dan Timur Tengah dengan dominasi muatan ekspor di TTL. Satu layanan menangani sekitar 20 ribu TEUs pada tahun silam. Dalam tiga bulan terakhir, tambahan layanan baru masuk, termasuk dari perusahaan pelayaran Evergreen Marine yang membuka rute langsung ke Timur Tengah.
"Tercatat sebanyak tiga shipping line Asia melayani rute langsung ke Timur Tengah dan India Subcontinent. Target pengiriman tahun ini meningkat signifikan, dari 30 ribu menjadi 75 ribu TEUs. Setiap pekan, sekitar 1.000 hingga 1.500 TEUs dikirim langsung, tanpa transit di Singapura atau Malaysia," papar David.
Mewakili operator, David menegaskan bahwa keterlambatan tersebut bukanlah disebabkan oleh ketidaksiapan terminal, melainkan efek domino dari terganggunya rute pelayaran internasional. Jika beberapa kapal tiba secara bersamaan, maka kapal harus menunggu sesuai antrean sandar.
Selain itu, sejumlah pelabuhan juga mengalami omission atau pembatalan singgah. Volume muatan yang kecil sering menjadi pertimbangan perusahaan pelayaran untuk melewati pelabuhan tertentu.
Sementara itu, perang Iran vs Israel-AS juga dikabarkan dapat berpotensi mendongkrak tarif sewa kapal offshore support vessel (OSV) dalam jangka pendek akibat terganggunya pasokan kapal di sejumlah wilayah operasi minyak dan gas (migas).
Direktur Utama PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk. (ELPI) Eka Taniputra mengakui bahwa kondisi tersebut dapat memicu naiknya aktivitas eksplorasi energi sekaligus mendorong peningkatan permintaan kapal penunjang industri migas yang dapat berdampak positif bagi perseroan dalam jangka pendek.
“Meskipun kami tidak berharap situasi perang akan berkepanjangan. Namun, kami melihat dampaknya justru positif dalam jangka pendek karena harga minyak berpotensi naik sehingga aktivitas eksplorasi juga meningkat,” ujar Eka.
Menurutnya, kenaikan harga minyak dunia secara umum akan mendorong sejumlah perusahaan migas untuk meningkatkan aktivitas eksplorasi maupun pengeboran di titik-titik yang tidak tergolong rawan terhadap konflik.
"Kondisi tersebut pada akhirnya akan meningkatkan kebutuhan terhadap kapal penunjang operasi lepas pantai," ucapnya.
Selain itu, Eka menyebut konflik geopolitik juga menyebabkan sejumlah kapal yang beroperasi di kawasan Timur Tengah tidak dapat keluar dari wilayah operasinya, di mana hal tersebut dapat menimbulkan keterbatasan pasokan kapal di pasar regional.
Akibatnya, lanjut dia, keseimbangan supply dan demand kapal offshore berpeluang besar untuk berubah dalam waktu dekat.
“Dengan beberapa kapal yang tidak bisa keluar dari wilayah operasi, maka pasokan kapal offshore menjadi berkurang sementara permintaan meningkat,” sebutnya.
Lebih lanjut, dirinya mengungkapkan bahwa pihaknya memperkirakan dalam waktu sekitar satu bulan ke depan, tarif sewa kapal OSV di kawasan regional akan mulai mengalami kenaikan.
Meski begitu, Eka menilai bahwa kenaikan tarif tersebut kemungkinan bersifat sementara dan sangat bergantung pada perkembangan kondisi geopolitik global.
“Kenaikan tarif kemungkinan hanya bersifat temporer. Jika tensi geopolitik mereda maka tarif charter kapal juga akan kembali normal,” katanya.
Eka juga membeberkan saat ini perseroan juga memiliki dua kapal yang tengah beroperasi di kawasan Timur Tengah untuk mendukung kegiatan eksplorasi migas milik Saudi Aramco. Kapal-kapal tersebut dilaporkan masih beroperasi normal di tengah situasi kawasan tersebut yang tengah memanas.
"Kedua kapal tersebut dilaporkan masih beroperasi normal meskipun perusahaan tetap menerapkan langkah kehati-hatian dalam operasionalnya," pungkasnya.
#konflik-iran #bisnis-petikemas #logistik-internasional #kapal-telat #biaya-logistik #selat-hormuz #pelabuhan-tanjung-perak #keterlambatan-kapal #ekspor-impor #shipping-line-asia #rute-pelayaran #tarif