Perang Timur Tengah Picu Risiko Impor Pupuk, Mendag: RI Siapkan Diversifikasi
Konflik Timur Tengah memicu risiko impor pupuk, namun RI siap diversifikasi sumber impor untuk menjaga pasokan tetap aman.
(Bisnis.Com) 27/03/26 18:55 174745
Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perdagangan (Kemendag) memastikan pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga pasokan bahan baku pupuk di tengah eskalasi konflik Timur Tengah.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan hingga saat ini belum ada keluhan dari PT Pupuk Indonesia (Persero) terkait gangguan pasokan bahan baku pupuk, meskipun tekanan global mulai meningkat.
“Sampai sekarang sih belum ada ini ya dari pihak BUMN belum ngobrol ke kita. Artinya dari pihak BUMN [Pupuk Indonesia] belum ada keluhan ke kami ya,” kata Budi saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Jumat (27/3/2026).
Budi menuturkan bahwa selama ini Indonesia banyak mengimpor bahan baku pupuk dari kawasan Eurasia, seperti Kazakhstan dan Uzbekistan. Untuk itu, Kemendag menilai pasokan masih relatif aman karena tidak sepenuhnya bergantung pada kawasan Timur Tengah.
“Sebenarnya kita impor [bahan baku pupuk] dari Eropa Timur kan banyak, kayak dari Kazakhstan, Uzbekistan, negara-negara Eurasia. Itu banyak, itu bisa dialihkan dari situ,” ujarnya.
Meski begitu, pemerintah tetap menyiapkan strategi mitigasi dengan melakukan diversifikasi sumber impor untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan. Langkah ini mencakup pencarian alternatif negara pemasok maupun substitusi komoditas yang sejenis.
“Substitusi barangnya kan bisa aja ngambil dari negara yang ada atau komoditas yang sama yang bisa diambil dari negara lain,” jelasnya.
Sebelumnya, PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan ketersediaan bahan baku pupuk masih aman hingga 7 bulan ke depan meskipun terjadi konflik di kawasan Selat Hormuz yang berpotensi mengganggu jalur perdagangan global.
Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia Yehezkiel Adiperwira menuturkan konflik yang terjadi di wilayah tersebut sejauh ini tidak memberikan dampak langsung terhadap operasional perusahaan.
“Perang di area Selat Hormuz tersebut itu secara signifikan tidak berdampak langsung kepada Pupuk Indonesia,” kata Yehezkiel dalam Pupuk Indonesia Media Iftar 2026 di Jakarta, dikutip pada Minggu (8/3/2026).
Pupuk Indonesia sendiri memproduksi dua jenis pupuk utama, yakni pupuk urea dan pupuk NPK. Untuk pupuk urea, bahan bakunya berasal dari gas bumi yang tersedia di dalam negeri sehingga relatif aman dari dampak konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. Sementara itu, bahan baku untuk pupuk NPK seperti fosfat (P) dan kalium (K) memang masih diimpor.
Namun, pasokan tersebut tidak berasal dari negara-negara yang berada di kawasan konflik saat ini. Saat ini, pasokan fosfat (P) diperoleh dari sejumlah negara di Afrika Utara, seperti Maroko, Tunisia, dan Aljazair.
#timur-tengah #risiko-impor #diversifikasi-impor #bahan-baku-pupuk #konflik-timur-tengah #pupuk-indonesia #pasokan-pupuk #strategi-mitigasi #impor-eurasia #substitusi-komoditas #selat-hormuz #konflik-g