Ada Wacana WFH, Driver Ojol Ketar-Ketir Pendapatan Anjlok 30%
Rencana penerapan WFH sehari seminggu bagi ASN dan pekerja swasta dikhawatirkan menurunkan pendapatan driver ojol hingga 30%.
(Bisnis.Com) 27/03/26 09:15 174104
Bisnis.com, JAKARTA — Rencana pemerintah untuk memberlakukan sistem Work From Home (WFH) sehari dalam sepekan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pekerja swasta memicu kekhawatiran di kalangan pengemudi ojek online (driver ojol).
Kebijakan WFH sehari dalam sepekan tersebut diproyeksi akan memangkas pendapatan harian mitra pengemudi ojol, terutama pada layanan angkutan penumpang atau ride hailing.
Ketua Umum Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) Indonesia Raden Igun Wicaksono menjelaskan mayoritas pengguna jasa ojek online saat ini adalah karyawan swasta dan ASN. Sehingga, penghasilan bagi para pengemudi sangat bergantung penuh pada mobilitas pekerja di perkotaan.
“Asosiasi Pengemudi Ojek Online Garda Indonesia memperkirakan akan terjadinya penurunan pendapatan sebesar 10% sampai dengan 30%, penurunan pendapatan ini memang memberatkan para pengemudi ojol yang notabene pendapatannya hanya dari hasil sebagai pengemudi ojol saja.” ujar Igun kepada Bisnis, Jumat (27/3/2026).
Proyeksi penurunan pendapatan itu juga diikuti dengan adanya beban potongan dari aplikator. Tekanan pendapatan dan kewajiban pembayaran biaya operasional tambahan diyakini akan semakin memberatkan kondisi para mitra ojol.
Igun menambahkan, para mitra pengemudi ojol juga dikenakan biaya tambahan oleh aplikator sebesar Rp20.000 per hari agar bisa memperoleh algoritma order, apabila menolak membayar maka akan terjadi penurunan pesanan yang cukup signifikan.
Sejalan dengan hal itu, Garda Indonesia mencatat akumulasi dari penurunan order, potongan komisi aplikator, dan biaya akses algoritma menciptakan kerugian pendapatan yang sangat tajam hingga 80%.
“Dari semua faktor penurunan pendapatan tersebut, maka asosiasi mengakumulasikan total penurunan pendapatan sebesar 50% sampai dengan 80% khususnya yang tidak mengambil skema member atau tidak bersedia membayar kepada perusahaan aplikator akan kehilangan pendapatan 80% sampai dengan 100%” pungkasnya.
Untuk diketahui sebelumnya, pemerintah memang tengah mengkaji serius penerapan WFH untuk menekan konsumsi BBM di tengah fluktuasi harga energi global. Langkah strategis ini muncul menyusul ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengancam stabilitas pasokan minyak.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa kebijakan ini dijadwalkan mulai berlaku setelah periode libur Idulfitri.
“PascaLebaran tapi nanti akan kita tentukan waktunya,” ungkapnya.
Rencana tersebut dipastikan akan mencakup Aparatur Sipil Negara (ASN), sektor swasta, hingga pemerintah daerah secara nasional. Pemerintah berupaya melindungi postur APBN dari tekanan fiskal yang semakin nyata akibat beban subsidi energi.
Adapun, kekhawatiran terhadap beban anggaran meningkat seiring posisi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak mentah sekitar 1 juta barel per hari. Saat harga minyak dunia menembus level US$100 per barel, melampaui asumsi dalam APBN.
#driver-ojol #pendapatan-ojol #wfh-ojol #kebijakan-wfh #penurunan-pendapatan-ojol #ride-hailing #ojek-online #asn-wfh #pekerja-swasta-wfh #potongan-aplikator-ojol #tarif-ojol