Rupiah Dihantam Perang Timur Tengah, Bank Indonesia Pasang Badan Sampai Rebound
Rupiah melemah akibat Perang Timur Tengah, namun BI optimis akan pulih dengan intervensi pasar dan kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas.
(Bisnis.Com) 17/03/26 14:51 167176
Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) meyakini nilai tukar rupiah akan kembali menguat meski kini nilainya nyaris menyentuh batas psikologis Rp17.000 per dolar AS akibat eskalasi Perang Timur Tengah pasca serangan rudal Israel-AS ke Iran pada akhir Februari lalu.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memaparkan bahwa nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp16.985 per dolar AS per 16 Maret 2026. Posisi tersebut mencatatkan pelemahan sebesar 1,29% secara point to point dibandingkan dengan level akhir Februari 2026.
Menurutnya, tekanan terhadap mata uang rupiah ini sejalan dengan tren pelemahan yang juga dialami oleh berbagai mata uang negara non-dolar AS di seluruh dunia.
"Memburuknya kondisi global akibat Perang Timur Tengah berdampak pada pelemahan nilai tukar dan memicu keluarnya arus modal asing (capitaloutflow) dari negara-negara emerging market, tidak terkecuali Indonesia," jelas Perry dalam konferensi pers Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI edisi Maret 2026, Selasa (17/3/2026).
Perry pun menyatakan bahwa bank sentral berkomitmen untuk terus memperkuat bauran kebijakan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. BI, sambungnya, akan meningkatkan intensitas intervensi lewat tiga cara.
Intervensi itu dilakukan di pasar valuta asing (valas), baik melalui pasar non-deliverable forward (NDF) luar negeri atau offshore NDF, transaksi spot, maupun domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar dalam negeri.
Di luar langkah intervensi langsung, sambung Perry, BI juga bergerak mengoptimalkan seluruh instrumen moneter yang tersedia. Strategi ini ditujukan untuk kembali menarik aliran masuk modal asing (capitalinflow) guna menjadi buffer atau penyangga stabilitas nilai tukar.
Bank sentral akan melakukan berbagai upaya penguatan kinerja neraca pembayaran agar dapat memberikan dukungan fundamental yang lebih kokoh bagi rupiah. Kendati demikian, Perry tidak menjelaskan seperti apa upaya penguatan yang dimaksud.
Lebih lanjut, Perry menyatakan optimisme di tengah ketidakpastian global. Dia meyakini tekanan terhadap rupiah hanya bersifat sementara dan nilai tukar akan kembali menemukan titik keseimbangan barunya.
"Bank Indonesia meyakini nilai tukar rupiah akan stabil, didukung oleh komitmen kuat kami, tingkat imbal hasil [yield] aset keuangan domestik yang tetap menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berdaya tahan dan tetap baik," pungkasnya.
Adapun, BI memproyeksikan ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh di kisaran 4,9% sampai dengan 5,7% pada tahun ini.
#rupiah-melemah #nilai-tukar-rupiah #perang-timur-tengah #bank-indonesia #kurs-rupiah #intervensi-bank-sentral #capital-outflow #capital-inflow #stabilitas-rupiah #pasar-valuta-asing #non-deliverable-f