Stok Sulfur Smelter HPAL RI Sisa 1 Bulan Saat Konflik Timur Tengah Memanas
Industri nikel Indonesia terancam kekurangan sulfur dalam sebulan akibat konflik Timur Tengah yang mempengaruhi distribusi melalui Selat Hormuz.
(Bisnis.Com) 08/03/26 20:03 158386
Bisnis.com, JAKARTA — Industri nikel Indonesia masih memiliki persediaan sulfur untuk menopang operasional fasilitas pengolahan berbasis High Pressure Acid Leaching (HPAL) selama beberapa minggu hingga sekitar satu bulan di tengah potensi gangguan pasokan akibat penutupan jalur pelayaran Selat Hormuz.
Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdanakusuma mengatakan hingga saat ini belum ada perusahaan yang terdampak langsung dari situasi tersebut karena sebagian besar fasilitas pengolahan masih memiliki cadangan bahan baku.
“Umumnya fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel hidrometalurgi berbasis HPAL masih mempunyai persediaan untuk beberapa minggu sampai satu bulan ke depan,” kata Arif kepada Bisnis, Minggu (8/3/2026).
Dia menjelaskan kondisi tersebut membuat operasional industri masih relatif aman dalam jangka pendek. Namun, situasi dapat berubah dengan cepat apabila gangguan distribusi di Selat Hormuz berlangsung dalam waktu yang lebih lama.
“Keadaan akan berubah cepat bila penutupan Selat Hormuz ini berlanjut dan berlangsung untuk waktu yang lama,” tambahnya.
Adapun sulfur atau belerang memiliki peran penting dalam industri hilirisasi nikel karena menjadi bahan baku utama untuk memproduksi asam sulfat. Asam sulfat tersebut digunakan dalam proses pelindian (leaching) pada fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel berbasis hidrometalurgi.
Proses tersebut dikenal dengan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang saat ini banyak digunakan untuk memproduksi bahan baku baterai kendaraan listrik.
“Peran sulfur di industri hilirisasi nikel adalah sebagai bahan baku utama untuk memproduksi asam sulfat yang digunakan dalam proses pelindian pada fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel hidrometalurgi berbasis HPAL,” ujarnya.
Teknologi HPAL digunakan untuk memproduksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), yakni material nikel-kobalt yang menjadi bahan antara untuk menghasilkan nikel berkualitas baterai atau battery-grade nickel.
Dalam proses produksi tersebut, kebutuhan sulfur tergolong sangat besar. Berdasarkan data rata-rata industri, jumlah sulfur yang dibutuhkan jauh lebih tinggi dibandingkan volume logam yang dihasilkan.
“Berdasarkan data rata-rata industri, untuk memproduksi 1 ton nikel MHP membutuhkan sekitar 12–13 ton sulfur,” tuturnya.
Indonesia saat ini merupakan produsen terbesar material nikel-kobalt dunia dari berbagai proyek HPAL yang beroperasi di dalam negeri. Produk MHP dari fasilitas tersebut menjadi bagian penting dari rantai pasok global industri baterai kendaraan listrik.
Namun demikian, pasokan sulfur bagi industri domestik masih sangat bergantung pada impor, terutama dari kawasan Timur Tengah. Konsentrasi sumber pasokan dari wilayah tersebut juga menjadi perhatian bagi pelaku industri.
“Lebih dari 75% impor sulfur Indonesia pada tahun 2025 berasal dari Timur Tengah,” tuturnya.
Menurut dia, konsentrasi pasokan yang tinggi dari satu kawasan berpotensi menimbulkan risiko terhadap keberlanjutan operasional fasilitas pengolahan apabila terjadi gangguan distribusi dalam waktu lama.
Selain berpotensi mengganggu pasokan bahan baku industri HPAL di Indonesia, penutupan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz juga dapat memicu kelangkaan sulfur di pasar global.
“Situasi ini juga akan mengakibatkan kelangkaan material sulfur di tingkat global dan menaikkan harga secara signifikan,” pungkasnya.
#sulfur-smelter #konflik-timur-tengah #stok-sulfur #industri-nikel-indonesia #hpal-teknologi #selat-hormuz #pasokan-sulfur #asam-sulfat #bahan-baku-baterai #nikel-hidrometalurgi #mixed-hydroxide-precip