Revisi Outlook Moody's Tak Gentarkan Prospek Emisi Obligasi Korporasi 2026
Pefindo tetap optimis target emisi obligasi 2026 tercapai meski Moody's revisi outlook, dengan proyeksi penerbitan Rp154-196,86 triliun.
(Bisnis.Com) 11/02/26 13:40 133153
Bisnis.com, JAKARTA – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) tidak melakukan revisi target penerbitan obligasi korporasi pada tahun ini, kendati bayang-bayang outlook Moody\'s Ratings tengah menekan kinerja pasar surat utang Tanah Air.
Kepala Divisi Riset Pefindo Suhindarto menerangkan bahwa alasan pihaknya tidak melakukan revisi terhadap target tersebut lantaran kondisi saat ini yang dinilai masih cenderung lebih baik ketimbang kondisi pada kuartal pertama 2025. Meskipun begitu, Suhindarto mengakui adanya tekanan terhadap pasar obligasi Tanah Air lantaran keputusan Moody\'s belakangan.
"Memang di satu sisi, kondisi di awal tahun ini akhirnya membuat kondisi kurang favorable di pasar surat utang korporasi. Tapi sebenarnya, kalau kita tarik ke awal 2025, sebenarnya kondisinya juga tidak terlalu jauh berbeda dengan kondisi saat ini," katanya dalam Konferensi Pers Pefindo, Rabu (11/2/2026).
Pada awal tahun lalu, Suhindarto menyoroti ihwal pengumuman tarif kebijakan impor AS yang diterapkan ke sejumlah negara mitra dagang. Pengumuman itu disampaikan pada April 2025 dan sontak membuat imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun melonjak ke level 7,09% hanya dalam waktu sepekan perdagangan.
Dengan begitu, kondisi yield obligasi bertenor 10 tahun yang kini berada di level 6,44% dinilai belum memberikan cost of fund yang lebih besar bagi perusahaan calon penerbit obligasi. Artinya, biaya perusahaan untuk menerbitkan surat utang masih lebih rendah dibandingkan realisasinya pada awal 2025.
"Kalau kami bandingkan cost of funds, sebenarnya kalau kita lihat yield benchmark 10 tahun, kenaikannya belakangan masih belum kembali lagi ke kondisi di level yang dulu sampai di awal tahun 2025," tambahnya.
Belum lagi, pengubahan outlook yang dilakukan Moody\'s, dinilai lebih disebabkan oleh sentimen kebijakan dan komunikasi kebijakan yang dijalankan pemerintah. Namun, kondisi itu tidak mengubah kondisi fundamental ekonomi Tanah Air yang dinilai solid.
"Jadi kalau terkait outlook, kami masih berpegangan pada angka tersebut dan meskipun di awal tahun ini relatif cukup banyak gonjang-ganjing, kami tetap optimistis kalau proyeksi kami masih bisa dicapai tahun ini," tambah Suhindarto.
Pada tahun ini, Pefindo menargetkan penerbitan efek bersifat utang (EBUS) berada pada kisaran Rp154 triliun hingga Rp196,86 triliun, dengan titik tengah Rp175,77 triliun. Target ini lebih rendah dibandingkan proyeksi realisasi pada 2025.
Salah satu faktor pendorong penerbitan EBUS pada 2026 adalah kebutuhan refinancing yang masih tinggi. Pefindo memprediksi terdapat surat utang jatuh tempo senilai Rp162,72 triliun pada tahun ini.
Selain itu, Pefindo memprediksi BI akan memangkas suku bunga sebanyak 2 kali pada tahun ini. Hal itu dinilai akan membuat daya tarik penerbitan obligasi korporasi kian positif lantaran dapat membuat premi yang diminta oleh investor tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#obligasi-korporasi #outlook-moody-039-s #emisi-obligasi-2026 #pefindo-obligasi #pasar-surat-utang #yield-obligasi #cost-of-fund #refinancing-obligasi #suku-bunga-bi #penerbitan-obligasi #prospek-obli