INET Himpun Dana Rp3,2 Triliun dari Rights Issue
INET berhasil menghimpun Rp3,2 triliun dari rights issue untuk ekspansi jaringan dan modal kerja.
(Bisnis.Com) 02/02/26 09:04 122110
Bisnis.com, JAKARTA—Emiten infrastruktur teknologi PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET) mencatatkan kelebihan permintaan (oversubscribed) saat pelaksanaan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue dengan nilai emisi Rp3,2 triliun.
Muhammad Arif, Direktur Utama Sinergi Inti Andalan Prima, menyatakan pada pelaksanaan rights issue saham INET tercatat ada 99,3% pemegang HMETD yang melaksanakan haknya. Sementara itu, sisanya sebesar 0,7% HMETD yang tidak dilaksanakan, para pemegang saham melakukan pemesanan tambahan (additional subscription) dengan total dana masuk mencapai 52 kali lipat dari jumlah saham yang tersedia.
“Dengan demikian, pada aksi korporasi ini mengalami oversubscribed yang sekaligus mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap strategi jangka panjang WIFI maupun komitmen perseroan dalam membangun infrastruktur digital yang terjangkau di seluruh Indonesia,” paparnya dalam keterangan resmi, Senin (2/2/2026).
Sekadar informasi, pada pelaksanaan rights issue dengan nilai emisi mencapai Rp3,2 triliun tersebut, INET menawarkan 12,8 miliar saham baru seharga Rp250 per lembar. Dana hasil rights issue akan digunakan untuk ekspansi jaringan maupun modal kerja bagi INET dan afiliasinya.
Lebih lanjut manajemen INET mengungkapkan, pendanaan melalui rights issue ini untuk mendukung target kinerja jangka panjang perseroan.
Berdasarkan prospektus INET, sekitar Rp2,94 triliun dari dana hasil rights issue akan disalurkan sebagai setoran modal untuk anak usaha barunya, PT Garuda Prima Internetindo (GPI).
GPI akan menggunakan dana tersebut untuk mengembangkan jaringan Fiber to the Home (FTTH) dengan teknologi WiFi 7 untuk 2 juta pelanggan di Bali dan Lombok, serta memperkuat modal kerjanya.
Selain itu, Rp215,38 miliar akan dialihkan kepada anak usaha INET yang lain, PT Pusat Fiber Indonesia (PFI), untuk melunasi biaya Indefeasible Right of Use (IRU) jaringan kabel bawah laut (submarine cable) kepada PT Jejaring Mitra Persada (JMP). Sisanya akan digunakan sebagai modal kerja Perseroan.
Berdasarkan catatan Bisnis, INET juga akan melanjutkan aksi menghimpun pendanaan setelah merampungkan rights issue dengan menerbitkan surat utang senilai total Rp1 triliun. Pendanaan tersebut terdiri atas obligasi dan sukuk ijarah yang masing-masing bernilai Rp500 miliar.
Dalam prospektus yang diterbitkan perusahaan, INET akan menerbitkan Obligasi I Sinergi Inti Tahun 2026 dengan nilai pokok Rp500 miliar. Obligasi tersebut terbagi ke dalam dua seri, yakni seri A dengan jangka waktu 370 hari dan seri B dengan tenor 3 tahun.
"Bunga obligasi dibayarkan setiap 3 bulan sejak tanggal emisi. Pembayaran bunga obligasi pertama akan dilakukan pada 6 Mei 2026," dikutip dari prospektus.
Secara bersamaan, INET juga menerbitkan Sukuk Ijarah I sebesar Rp500 miliar dengan periode dan pembagian seri yang sama dengan obligasi. Pembayaran cicilan imbalan ijarah pertama akan dilakukan pada tanggal 6 Mei 2026.
Obligasi tersebut memperoleh peringkat single A, sementara sukuk ijarah mendapatkan peringkat Single A Syariah. PT KB Valbury Sekuritas dan PT RHB Sekuritas Indonesia bertindak sebagai penjamin emisi sekaligus pelaksana penerbitan surat utang. Adapun wali amanat ditunjuk PT Bank KB Indonesia Tbk. (BBKP).
#inet #rights-issue #sinergi-inti-andalan-prima #oversubscribed #emisi-rp3 #2-triliun #saham-baru #ekspansi-jaringan #modal-kerja #fiber-to-the-home #wifi-7 #bali-dan-lombok #obligasi #sukuk-ijarah #pt
https://market.bisnis.com/read/20260202/192/1949138/inet-himpun-dana-rp32-triliun-dari-rights-issue