Jejak Trading Halt IHSG di Era Pemerintahan Prabowo Subianto
IHSG mengalami trading halt tiga kali sejak Oktober 2024 hingga Januari 2026 di bawah pemerintahan Prabowo Subianto, dengan fluktuasi pasar yang signifikan.
(Bisnis.Com) 28/01/26 19:57 117616
Bisnis.com, JAKARTA – Terhitung sejak dilantik pada Oktober 2024 lalu, kondisi pasar modal Tanah Air di bawah pemerintahan Prabowo Subianto, mengalami fluktuasi yang cukup signifikan. Sempat menyentuh berbagai rekor tinggi baru, IHSG juga tercatat mengalami beberapacrashpada periode tersebut.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sedikitnya IHSG telah mengalamitrading haltsebanyak tiga kali selama periode Oktober 2024–Januari 2026. Beberapa sentimen berbeda membayangi pasar saham Tanah Air pada periode itu.
Teranyar, IHSG mengalamitrading haltpada perdagangan hari ini, Rabu (28/1/2026). Setelah sepanjang 2025 mencetak 23 rekor baru, IHSG terperosok pada bulan pertama 2026 lantaran pembekuanrebalancingindeks MSCI.
Langkah itu diambil usai MSCI menyelesaikan konsultasi terkait penilaian free float saham Indonesia, yang menimbulkan kekhawatiran investor global terhadap struktur kepemilikan saham dan kualitas pembentukan harga di BEI.
Dalam pengumuman resminya, Selasa (27/1/2026), MSCI menyebut meski terdapat perbaikan minor pada data free float BEI, investor menilai masih ada masalah yang mendasar terkait keterbukaan kepemilikan saham.
“Investor menyoroti isu mendasar terkait investabilitas masih berlanjut akibat kurangnya transparansi struktur kepemilikan saham,” tulis MSCI.
Di samping itu, para pelaku pasar menilai bahwa laporan komposisi kepemilikan bulanan dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) belum cukup andal untuk dijadikan referensi utama dalam penilaian free float yang akurat.
Untuk memitigasi risiko, MSCI menetapkan kebijakan interim yang berlaku efektif segera. Kebijakan ini akan berdampak pada ulasan indeks mendatang, termasuk Index Review Februari 2026 ataupun aksi korporasi emiten.
Dalam kebijakan tersebut, MSCI memutuskan untuk membekukan seluruh kenaikan foreign inclusion factors (FIF) dan jumlah saham beredar. Selain itu, MSCI tidak akan menambah konstituen baru ke MSCI Investable Market Indexes (IMI) serta menangguhkan migrasi naik antar segmen ukuran indeks, termasuk perpindahan saham dari small cap ke standard index.
"Perlakuan ini dimaksudkan untuk membatasi perputaran indeks dan risiko investabilitas, sembari memberikan waktu bagi otoritas pasar terkait untuk memberikan peningkatan transparansi yang berarti," tulis MSCI.
MSCI menambahkan kebijakan interim itu bertujuan membatasi perputaran indeks dan risiko investabilitas, sembari memberi waktu bagi otoritas untuk meningkatkan transparansi struktur kepemilikan saham secara lebih granular.
Alhasil, surat yang dirilis MSCI pada pagi hari ini, membuat IHSG ambles hingga 7% saat pembukaan perdagangan. Saham-saham ternama dan berkapitalisasi jumbo, kompak lesu. Hanya tercatat 27 saham yang membukukan kenaikan selama sesi I perdagangan hari ini.
Kondisi memburuk pada sesi II perdagangan. IHSG yang semula terparkir dengan terkoreksi 7,34% pada sesi I perdagangan, kemudian mengalamitrading haltlantaran koreksi yang kian membesar hingga 8%.
Trading haltditetapkan BEI selama 30 menit, tepatnya pada rentang waktu 13.43–14.13 WIB. Sempat kembali mengalami pelemahan selepastrading halt, IHSG akhirnya mampu sedikit menguat dengan terkoreksi 7,35% sepanjang hari perdagangan. Alhasil, koreksi ini menempatkan IHSG selevel dengan kondisinya pada periode November 2025, di level 8.300.
Sebelumnya, kondisi serupa pernah dialami oleh IHSG saat mengalamitrading haltpada April 2025. Saat itu, IHSG mengalami terjun bebas hingga terkoreksi 9,19% ke posisi 5.912,06 pada pembukaan perdagangan.
Pasalnya, empat hari sebelumnya AS mengumumkan tarif impor barang-barang ke Negeri Paman Sam itu. Seluruh negara diganjar tarif impor 10%, sedangkan beberapa negara turut dikenakan tarif resiprokal (reciprocal tariffs) lebih tinggi berdasarkan hambatan perdagangan dengan AS. Alhasil, BEI memberlakukan pemberhentian sementara perdagangan IHSG pada periode 09.00–09.30 WIB.
Satu bulan sebelumnya, IHSG sempat mengalamicrashserupa pada Maret 2025 lalu. Data BEI pada perdagangan sesi pertama hari itu, Selasa (18/3/2025), IHSG ambrol 395,87 poin atau 6,12% ke level 6.076,08. Di level itu, IHSG sudah anjlok lebih dari 14,18% dari level penutupan pada akhir 2024 di posisi 7.079,9.
Seiring dengan jebloknya IHSG lebih dari 6%, BEI melakukan penghentian perdagangan bursa sementara atau trading halt. Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad menyampaikan telah terjadi pembekuan sementara perdagangan (trading halt) sistem perdagangan di Bursa pada pukul 11:19:31 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS).
Trading halt itu dipicu penurunan IHSG mencapai 5%. Langkah BEI untuk melakukan trading halt sesuai dengan Surat Keputusan Direksi BEI Nomor: Kep-00024/BEI/03-2020 tanggal 10 Maret 2020 perihal Perubahan Panduan Penanganan Kelangsungan Perdagangan di Bursa Efek Indonesia dalam Kondisi Darurat.
Kalangan analis saat itu menilai amblesnya IHSG terjadi lantaran isu mundurnya Menteri Keuangan Sri Mulyani saat itu dari Kabinet Merah Putih. Saat itu tersiar kabar bahwa Menteri Keuangan RI Sri Mulyani akan mundur dari jabatannya. Namun, Istana Kepresidenan menepis kabar pengunduran diri Sri Mulyani dari jajaran kabinet dan menyebut informasi yang beredar di media sosial tersebut merupakan hoaks.
Adapun, selain sentimen mundurnya menteri, sentimen lainnya yang menyebabkan IHSG terkapar menurut analis adalah terkait tingginya PHK massal mendekati hari raya Idul Fitri. Kemudian, penetapan credit rating oleh Fitch, S&P, dan Moody\'s setelah downgrade Morgan Stanley serta Goldman Sachs.
Berdasarkan catatan Bisnis, BEI terakhir kali melakukan trading halt pada 10 September 2020. Saat pandemi Covid-19 itu, pasar saham mengalami volatilitas tinggi sehingga BEI melakukan tujuh kali trading halt sepanjang 2020.
BEI tercatat menerapkan pembekuan perdagangan saham sementara atau trading halt pada 12 Maret 2020 pada pukul 15.33 WIB. Selanjutnya, trading halt dilakukan BEI pada 13 Maret 2020 saat IHSG tersungkur 5,01% atau anjlok 245,17 poin ke level 4.650,58 pada pukul 09:15:33 waktu JATS.
Kemudian, pada 17 Maret 2020 pukul 15:02 waktu JATS, perdagangan saham di BEI harus dihentikan selama 30 menit lantaran IHSG terkoreksi 5% atau 234,558 poin ke level 4.456,099.
Perdagangan juga terhenti pada pukul 09:37 waktu JATS pada 19 Maret 2020. Posisi IHSG saat terjadinya trading halt anjlok 217,02 poin atau 5,01% ke level 4.113,64. BEI juga melakukan trading halt pada 30 Maret 2020 pukul 10.20 dan pada 10 September 2020 pada 10.36 WIB setelah IHSG anjlok 5%.
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#trading-halt #ihsg #prabowo-subianto #pasar-modal #bei #msci #free-float #investor-global #struktur-kepemilikan #transparansi-saham #risiko-investabilitas #koreksi-ihsg #sentimen-pasar #kebijakan-inte