Harga Telur Anjlok, Core Soroti Efek MBG hingga Oligopoli Industri

Harga Telur Anjlok, Core Soroti Efek MBG hingga Oligopoli Industri

Core Indonesia menilai anjloknya harga telur tak hanya akibat oversupply, tetapi karena ekspektasi berlebih ke MBG dan struktur industri yang oligopolistik.

(Bisnis.Com) 25/06/26 10:24 259269

Bisnis.com, JAKARTA — Center of Reform on Economics (Core) Indonesia menilai anjloknya harga telur ayam ras di tingkat peternak bukan semata-mata dipicu oleh kelebihan pasokan (oversupply), melainkan dipengaruhi oleh ekspektasi permintaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terlalu tinggi hingga struktur industri perunggasan yang makin terkonsentrasi atau oligopolistik.

Pengamat Pertanian Core Indonesia Eliza Mardian mengatakan kondisi harga telur saat ini tidak dapat dipahami hanya sebagai fenomena kelebihan pasokan biasa. Menurutnya, lonjakan produksi terjadi karena pelaku usaha berekspektasi permintaan telur akan meningkat seiring dengan implementasi program MBG. Namun, realisasi permintaan tidak sebesar yang diperkirakan.

“Memang benar ada kelebihan pasokan yang cukup signifikan, tetapi akar persoalannya jauh lebih dalam dan struktural. Ekspansi produksi yang masif ini sebagian didorong adanya ekspektasi demand dari program MBG yang ternyataoverstated, ditambah melemahnya daya beli masyarakat. Yang lebih krusial lagi adalah kegagalan koordinasi perencanaansupply-demandsecara nasional serta inefisiensi rantai pasok yang sangat panjang," kata Eliza ketika dihubungi, Kamis (25/6/2026).

Eliza menuturkan anjloknya harga telur di tingkat peternak tidak diikuti penurunan harga yang signifikan di tingkat konsumen. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena pelaku distribusi dan perantara (middleman) masih mengambil margin yang cukup besar, sehingga selisih harga antara tingkat peternak dan ritel tetap lebar.

Di sisi lain, peternak kecil cenderung berada di posisiprice takerlantaran tidak memiliki akses langsung kepada pembeli atauofftakerberskala besar.

Di samping itu, Eliza juga menilai anjloknya harga telur dipengaruhi ketimpangan struktur pasar di sektor perunggasan. Integrator besar yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, lanjutnya, memiliki daya tahan lebih kuat dibandingkan dengan peternak mandiri, sehingga peternak rakyat lebih rentan saat harga jatuh.

“Kita harus paham juga adanya ketidakseimbangan kekuatan pasar yang makin kentara yaitu industri upstream seperti pakan dan DOC [day old chick] sudah menunjukkan karakter oligopolistik, di mana satu perusahaan saja bisa menguasai sekitar 35% pasar, dan top player integrator besar punya integrasi vertikal yang memberi mereka daya tahan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan peternak rakyat kecil yang mandiri,” ujarnya.

Kendati demikian, Core mengapresiasi langkah pemerintah yang mendorong sektor hotel, restoran, kafe (Horeka), ritel modern melalui Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), serta Badan Gizi Nasional (BGN) untuk meningkatkan serapan telur. Namun, dia menilai langkah tersebut belum mampu menyelesaikan persoalan secara mendasar.

“Strategi ini cuma solusi jangka pendek yang bersifat tambal sulam dan belum cukup efektif untuk benar-benar mengangkat harga di tingkat peternak secara berkelanjutan,” sambungnya.

Menurut Eliza, tanpa kontrak jangka panjang dan insentif yang memadai, Horeka serta ritel modern akan tetap mengandalkan perusahaan integrator besar yang mampu memasok produk secara konsisten dari sisi volume, kualitas, hinggaketelusuran. Di sisi lain, peternak kecil yang masih terfragmentasi dan bergantung pada perantara (middleman) akan kesulitan masuk ke rantai pasok tersebut tanpa penguatan melalui koperasi.

Dia juga berpandangan bahwa kapasitas serapan Horeka maupun ritel modern cenderung terlalu kecil jika dibandingkan dengan volume surplus produksi telur nasional. Hal ini membuat dampak serapan di sektor tersebut terhadap pemulihan harga hanya bersifat sementara.

“Volume serapan dari Horeka dan ritel modern relatif kecil dibandingkan skala surplus nasional sehingga dampaknya terbatas dan cenderung temporer. Begitu tekanan surplus berkurang atau ada perubahan kondisi, pembelibesar bisa kembali ke pola lama. Jadi ini bukan jawaban struktural, melainkan sekadar mengurangi gejala sesaat,” tuturnya.

Lebih lanjut, Eliza mendorong pemerintah mengubah pendekatan dari sekadar imbauan menjadi kemitraan yang lebih terstruktur melalui kontrak jangka panjang antara koperasi peternak dengan Horeka, ritel modern, maupun offtaker institusional lainnya.

Eliza juga merekomendasikan pemerintah membangun sistemforecastingatau estimasi pasokan dan permintaan nasional secarareal time, mengendalikan ekspansi produksi berbasis data, memperkuat kelembagaan peternak melalui koperasi, memangkas rantai distribusi, serta memperketat pengawasan terhadap praktik yang berpotensi menciptakan oligopoli di industri perunggasan.

#telur #harga-telur #harga-telur-ayam-ras #harga-telur-anjlok #oversupply-telur #mbg #makan-bergizi-gratis #core-indonesia #industri-perunggasan #peternak-ayam-petelur #harga-telur-peternak #oligopoli

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260625/12/1983216/harga-telur-anjlok-core-soroti-efek-mbg-hingga-oligopoli-industri