FAO: Harga Pangan Dunia Dibayangi Ancaman Penurunan Produksi

FAO: Harga Pangan Dunia Dibayangi Ancaman Penurunan Produksi

Harga pangan dunia pada Mei 2026 turun tipis, tetapi risiko inflasi pangan tetap ada akibat penurunan produksi hingga kenaikan biaya bahan bakar dan pupuk.

(Bisnis.Com) 08/06/26 11:43 243228

Bisnis.com, JAKARTA — Harga pangan dunia mulai kehilangan momentum kenaikannya pada Mei 2026. Meski demikian, kenaikan harga sejumlah komoditas utama dan proyeksi penurunan produksi sereal global menunjukkan risiko inflasi pangan dunia masih belum sepenuhnya mereda.

Data Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan Indeks Harga Pangan pada Mei 2026 berada di level 130,8 poin, turun tipis 0,2% dibandingkan April yang direvisi menjadi 131,0 poin. Namun secara tahunan, indeks tersebut masih meningkat 2,9% dan bertahan di dekat level tertinggi sejak Januari 2023.

Penurunan indeks terutama dipicu oleh melemahnya harga minyak nabati yang untuk pertama kalinya turun sepanjang tahun ini. Akan tetapi, kenaikan harga sereal dan gula menahan koreksi yang lebih dalam.

Harga sereal tercatat naik lebih dari 2,6% secara bulanan. Harga gandum meningkat untuk bulan keempat berturut-turut seiring memburuknya prospek panen ekspor di sejumlah negara produsen utama, termasuk United States.

FAO juga mencatat kenaikan biaya bahan bakar dan pupuk yang berkaitan dengan konflik di Iran turut memberikan tekanan tambahan terhadap harga gandum global.

Sementara itu, harga jagung memperoleh dukungan dari meningkatnya permintaan impor serta pasokan yang lebih ketat di Brazil dan Amerika Serikat.

Di sisi lain, indeks harga minyak nabati turun 4,6% dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan harga minyak sawit dan minyak kedelai lebih besar dibandingkan kenaikan harga minyak rapeseed dan minyak bunga matahari.

Setelah naik selama lima bulan berturut-turut, harga minyak sawit internasional mulai melemah akibat ekspektasi permintaan impor yang lebih rendah serta ketidakpastian di pasar energi global.

Meski demikian, harga minyak nabati masih berada lebih dari 20% di atas level tahun lalu. Tingginya biaya energi setelah terganggunya distribusi minyak global melalui Selat Hormuz turut meningkatkan minat terhadap bahan bakar nabati berbasis tanaman penghasil minyak.

Sementara itu, harga gula melonjak 7,5% secara bulanan menjadi 95,1 poin. Namun, secara tahunan harga gula masih tercatat 13,1% lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Menurut FAO, lonjakan harga gula dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi pengetatan pasokan global dalam beberapa bulan mendatang.

Risiko Penurunan Produksi Pangan

Di tengah dinamika harga tersebut, FAO juga memperingatkan adanya risiko pelemahan produksi pangan dunia pada musim berikutnya.

Dalam laporan terpisah mengenai pasokan sereal global, FAO memperkirakan produksi sereal dunia, termasuk beras giling, akan turun 2% pada musim 2026/2027 menjadi sekitar 2,98 miliar ton.

Penurunan diperkirakan terjadi pada seluruh kelompok sereal utama, meskipun sebagian besar masih berasal dari basis produksi yang relatif tinggi pada 2025.

FAO memperkirakan penurunan produksi terbesar secara persentase akan terjadi pada gandum. Sementara itu, penurunan produksi jagung dan jelai diperkirakan lebih terbatas.

Perkembangan tersebut menunjukkan pasar pangan global masih dibayangi ketidakpastian pasokan meskipun harga secara agregat mulai bergerak lebih stabil.

Risiko gangguan produksi, tingginya biaya energi, serta ketegangan geopolitik diperkirakan tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi arah harga pangan dunia dalam beberapa bulan ke depan.

#harga-pangan #harga-pangan-dunia #harga-pangan-global #produksi-pangan #harga-sereal #harga-gandum #harga-jagung #harga-minyak-nabati #harga-minyak-sawit #harga-minyak-kedelai #harga-gula #indeks-harg

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260608/12/1979214/fao-harga-pangan-dunia-dibayangi-ancaman-penurunan-produksi