Airlangga: Negosiasi Tarif Dagang RI-AS Masuk Tahap Akhir
Negosiasi tarif dagang RI-AS memasuki tahap akhir, Menko Airlangga fokus pada detail teknis.
(Bisnis.Com) 08/01/26 18:25 97549
Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan perkembangan negosiasi tarif dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS).
Hal itu disampaikannya usai menghadiri penyerahan bonus atlet SEA Games ke-33 Thailand 2025 di Istana Negara, Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Airlangga mengatakan pihaknya telah menyelesaikan pembahasan isu-isu utama dalam kerangka perundingan tarif perdagangan resiprokal RI–AS, dan kini fokus beralih pada penyusunan detail tekhnis perjanjian.
Tim dari kedua negara dijadwalkan bertemu di Washington, D.C. pada 12–19 Januari 2026 untuk menyelesaikan tahapan legal drafting perjanjian.
“Tadi under secretary nya baru saja ketemu di kantor khususnya negosiator mengenai agriculture, secara keseluruhan isu-isu sudah terselesaikan. Hari Senin tim akan berangkat ke Washington. Dijadwalkan untuk legal drafting dalam waktu 5-7 hari, sesudah itu kita tentukan kapan sekiranya di Amerika berproses kapan presiden Prabowo ke Amerika,” ujar Airlangga.
Airlangga menegaskan bahwa pembahasan tidak hanya soal tarif, tetapi juga mencakup isu volume impor dan pengaturan teknis lainnya.
Ia mengklarifikasi bahwa perundingan itu tidak secara spesifik membahas tujuan untuk menetapkan tarif nol persen bagi semua komoditas, termasuk yang 0%.
Justru, kata dia, negosiasi difokuskan pada pengaturan volume dan aspek teknis perdagangan.
“Kita kan sekarang ini untuk agriculture kan positif terhadap AS. Terkait migas juga nanti kita akan laksanakan sesudah perjanjian reciprocal tarif ditandatangani baru kita mulai bicara impor migas, cuma kan kemarin MOU impor sudah ditandatangani,” ucapnya
Untuk sektor migas, lanjut Airlangga, pembicaraan akan berlanjut setelah perjanjian tarif resiprokal ditandatangani.
Indonesia dan AS sebelumnya juga telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) mengenai impor migas.
Mengenai target penandatanganan dokumen perjanjian, Airlangga mengatakan jadwal akhir penandatanganan akan ditentukan berdasarkan hasil legal drafting di AS. Pemerintah berharap dokumen tersebut dapat ditetapkan pada akhir Januari 2026.
Konflik AS vs Venezuela
Airlangga juga menanggapi kekhawatiran adanya pengaruh konflik geopolitik antara AS dan Venezuela terhadap negosiasi.
Dia menilai konflik tersebut merupakan persoalan geopolitik yang berbeda dan tidak berdampak langsung terhadap negosiasi tarif Indonesia–AS.
Apalagi, kata Airlangga, pembicaraan perdagangan ini merupakan kelanjutan dari proses panjang yang telah berlangsung sejak 2025. Pemerintah Indonesia dan pihak AS telah menyepakati substansi utama perjanjian tarif dagang resiprokal, termasuk pengaturan tarif dan akses pasar, yang nantinya akan dituangkan dalam dokumen perjanjian (Agreement on Reciprocal Trade/ART).
Negosiasi ini dipandang strategis bagi kedua negara dalam memperkuat hubungan ekonomi bilateral, termasuk di bidang pertanian dan komoditas ekspor unggulan Indonesia, seperti minyak sawit, kopi, dan kakao, yang direncanakan mendapatkan fasilitas tarif nol persen dalam kesepakatan akhir.
“Tidak. Itu kan geopolitik. Berbeda. Itu wilayah backyard Amerika dan itu sudah menjadi persoalan sejak nasionalisasi Hugo Chavez, persoalannya panjang hanya saja setahun ke belakang ekskalasi terjadi. Tapi tak berkaitan dengan kepentingan Asean, karena Asean juga menjadi kepentingan, karena berada di regional Asia Pasifik juga,” pungkas Airlangga.
#negosiasi-tarif-ri-as #tarif-dagang-ri-as #perdagangan-ri-as #airlangga-hartarto #perundingan-perdagangan #legal-drafting #perjanjian-tarif #volume-impor #perdagangan-resiprokal #sektor-migas #impor-m