Kasus eFishery Tinggalkan Lebam di Ekosistem Startup Indonesia
Skandal eFishery mengguncang ekosistem startup Indonesia, menurunkan kepercayaan investor dan memperketat pendanaan. Startup kini fokus pada transparansi dan fundamental.
(Bisnis.Com) 19/12/25 14:08 78729
Bisnis.com, JAKARTA - Bisnis startup di Indonesia memasuki fase pengetatan yang lebih dalam setelah mencuatnya skandal di perusahaan agritech eFishery dan sejumlah fintech raksasa. Kasus tersebut tidak hanya mengguncang satu entitas, tetapi juga meninggalkan lebam pada kepercayaan investor, memperlambat arus pendanaan, dan mengubah cara pengusaha serta pemodal memandang pertumbuhan.
Vincent Tjendra dan Marcella Moniaga menghabiskan sebagian besar tahun ini mencoba untuk mengumpulkan modal baru bagi Astro, startup mereka di Indonesia. Pertemuan demi pertemuan dilewati dengan kegagalan. Keduanya merasakan semakin meningkatnya penolakan dari para investor atas peluang di Indonesia. Krisis pendanaan yang berkepanjangan dan skandal besar awal tahun ini mulai dari eFishery hingga startup lainnya membuat semakin sempitnya peluang bagi para pengusaha baru menawarkan terobosan untuk pasar Indonesia.
Meski demikian, situasi tersebut sedikit mencair menjelang September, ketika Amazon.com Inc. menyuntikkan investasi sebesar US$51,9 juta ke Astro. Meski pendanaan ini menetapkan valuasi perusahaan turun sekitar 30% dibandingkan putaran pendanaan sebelumnya, pendanaan itu menjadi cek ekuitas tunggal terbesar yang diterima startup Indonesia sepanjang tahun ini.
“Kami membangun untuk jangka panjang,” kata Tjendra kepada Bloomberg, Jumat (19/12/2025).
Menurut pelaku industri modal ventura, sikap ketat diambil bagi banyak pendiri startup lain setelah skandal eFishery mencuat. Rama Mamuaya, mitra di DSX Ventures sekaligus wakil ketua Asosiasi Modal Ventura Indonesia untuk Startup mengatakan saat yang sama para pendiri perusahaan rintisan kini lebih menahan diri, memprioritaskan pendapatan, dan mengurangi ketergantungan pada pendanaan baru.
“Setelah berita tentang eFishery tersebar, banyak putaran pendanaan ditunda,” kata Mamuaya.
Dia menyebut rusaknya kepercayaan adalah salah satu faktor kunci yang membentuk keputusan banyak investor untuk memperlambat proses agar dapat melakukan uji tuntas dan pengecekan yang lebih menyeluruh bagi startup Indonesia.
Di atas kertas, eFishery sempat menjadi simbol sukses startup Indonesia dengan valuasi US$1,4 miliar dan dukungan investor global seperti SoftBank Group Corp. dan Temasek Holdings Pte. Namun, fakta terungkap kemudian salah satu pendirinya Gibran Huzaifah memalsukan laporan pendapatan dan keuntungan. Sekitar US$300 juta dana investor hingga kini tidak diketahui kejelasannya.
Dalam wawancara dengan Bloomberg pada Maret 2025, Gibran mengakui lemahnya manajemen dan nyaris tidak adanya kontrol keuangan. Polisi menahan Gibran dan dua mantan eksekutifnya pada Mei. Kepolisian menyatakan penyelidikan telah rampung dan diserahkan kepada jaksa.
Dampak kasus tersebut menjalar ke ekosistem yang lebih luas. Pada awal September, pejabat senior di MDI dan BRI Ventures ditahan dalam penyelidikan terkait investasi di startup agritech lain, TaniHub. Rangkaian kasus ini mendorong sejumlah unit ventura, termasuk yang terafiliasi dengan Telkom, BRI, dan Bank Central Asia, untuk mencoba melepas saham startup dengan harga diskon.
Tekanan juga terasa di sisi investor global. Temasek menarik diri dari sejumlah kesepakatan tahap awal, sementara Northstar Group menjual sebagian portofolionya dengan nilai sekitar US$6 juta . Di sisi lain, auditor eFishery, Grant Thornton Indonesia, keluar dari jaringan globalnya setelah kasus tersebut mencuat.
Menurut Sang Han, mitra di East Ventures, standar investasi kini berubah drastis. Investor memperluas uji tuntas hukum dan keuangan, melakukan pengecekan referensi yang lebih dalam, serta menuntut valuasi yang lebih realistis dan metrik operasional yang jelas.
Tekanan tersebut tercermin pada data pendanaan. Startup Indonesia hanya menghimpun sekitar US$80 juta pada paruh pertama 2025, turun tajam dari US$200 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya dan jauh di bawah puncak US$9,44 miliar pada 2021.
Standar Baru
Merespons situasi ini, asosiasi modal ventura di Asia Tenggara menyusun kerangka \'peta jalan\' untuk mendorong disiplin uji tuntas, menyiapkan startup menuju IPO, serta membantu perusahaan yang kesulitan keluar dari pasar secara terhormat.
“Valuasi sekarang rasional dan, alih-alih mengejar metrik yang dangkal dan valuasi yang semakin tinggi, para pendiri membangun dengan disiplin yang lebih besar,” kata Joel Shen, mitra firma hukum Withers.
Pemerintah turut mengambil langkah penyesuaian. Kementerian Penanaman Modal menurunkan modal disetor minimum bagi perusahaan investasi asing dari Rp10 miliar menjadi Rp2,5 miliar per kegiatan usaha. Kebijakan ini dinilai membuka ruang bagi startup tahap awal untuk mengakses modal asing.
Di tingkat operasional, perubahan juga terlihat pada model bisnis. Sejumlah startup beralih menyasar konsumen berpenghasilan rendah, seiring menyusutnya kelas menengah. Sekitar 9,5 juta orang tercatat keluar dari kelas menengah dalam 5 tahun terakhir.
Bagi pelaku industri, runtuhnya eFishery menjadi titik baru. Pertumbuhan agresif berbasis janji besar digantikan oleh fokus pada fundamental, transparansi, dan pemahaman mendalam atas pasar.
“Tidak menguntungkan bagi perusahaan mana pun untuk mengumpulkan dana dengan valuasi yang sangat tinggi. Perusahaan harus bekerja lebih keras untuk menciptakan nilai,” kata Abraham Viktor, CEO Hangry.
#startup-indonesia #efishery-skandal #investor-kepercayaan #pendanaan-startup #agritech-indonesia #modal-ventura #startup-pendanaan #valuasi-startup #investor-global #uji-tuntas #ekosistem-startup #sta