Kisah Pilu Penyintas Banjir Aceh Tamiang, 3 Hari Tanpa Makan hingga Minum Air Sungai
Banjir besar di Aceh Tamiang membuat warga Desa Sukajadi bertahan tanpa makanan dan air bersih selama 3 hari, terpaksa minum air sungai sebelum bantuan tiba.
(Bisnis.Com) 11/12/25 15:36 69301
Bisnis.com, ACEH TAMIANG — Banjir besar yang melanda Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, menyisakan kisah pilu para penyintas yang berjuang menyelamatkan diri tanpa bantuan memadai pada hari-hari awal.
Desi, 45 tahun, salah satu warga terdampak, menceritakan kembali pengalaman sulit yang dialaminya saat ditemui pada Kamis (11/12/2025).
Desi mengungkapkan bahwa hujan deras mengguyur wilayah tersebut hingga empat hari berturut-turut, dimulai sekitar 21 November. Sebelum hujan, angin kencang sempat menerjang, kemudian disusul naiknya permukaan air.
Dari informasi yang dia peroleh, debit air Sungai Tamiang di hulu sudah sangat tinggi sehingga warga diminta waspada. Namun, dia tidak pernah membayangkan bahwa banjir kali ini akan mencapai ketinggian ekstrem.
Dia mengatakan sempat bertahan di rumah karena sebelumnya air tidak pernah naik setinggi itu. Namun situasi berubah cepat. Ketika air semakin tinggi dan tidak ada regu evakuasi yang datang, dia dan warga lain terpaksa meminta pertolongan melalui grup WhatsApp. Upaya itu akhirnya membuahkan hasil setelah tim penyelamat datang sekitar pukul 21.00 WIB pada 26 November.
“Saya tunggu, tunggu, tidak ada yang jemput evakuasi kami, kami minta di grup WA, tolong, tolong, tolong, abis itu sekitar jam 21.00 WIB malam baru datang dari booth Pertamina menjemput kami,” kata Desi
Desi menjelaskan bahwa air mulai naik pada 25 November dan mencapai puncak ketinggian pada 26 November. Dia bersama keluarganya berpindah tempat beberapa kali, mulai dari rumah yang berada di pinggir jalan, kemudian ke sebuah ruko, hingga akhirnya mengungsi di tenda pengungsian tempat mereka berada saat ini.
Banjir yang melanda desa tersebut berasal dari luapan sungai di hulu. Selain membawa debit air besar, arus banjir juga membawa kayu-kayu berukuran besar yang menghantam rumah-rumah warga. Kayu-kayu itu disebut Desi sebagai kiriman dari wilayah hulu Sungai Tamiang.
Bantuan pemerintah baru masuk pada 1 Desember, beberapa hari setelah air naik drastis. Sebelum bantuan tiba, warga sangat kesulitan memperoleh air bersih.
Desi mengatakan bahwa mereka terpaksa mengonsumsi air sungai untuk kebutuhan memasak hingga membuat susu anak. Air banjir itu biasanya diendapkan sebentar sebelum digunakan. Menurutnya, keputusan itu diambil karena tidak ada pilihan lain.
“[Airnya] engga jernih, cuma karena anaknya nangis terus, kami ambil air banjir, kami endapkan sebentar abis itu dikonsumsi, sedih kalau diceritain kami 3 hari engga makan, kadang-kadang ada bantuan yang lempar-lempar itu kami tangkap,” tuturnya.
Desi melanjutkan akses jalur darat di desa mereka juga sempat terputus selama tiga hari akibat longsor. Pada hari-hari pertama, bantuan melalui udara belum bisa menjangkau lokasi mereka. Bantuan baru masuk lewat jalur udara beberapa hari kemudian, setelah kondisi memungkinkan.
“Kalau udara belum masuk ke tempat kami, selang berapa hari baru lah ada bantuan melalui udara,” tandas Desi.
#banjir-aceh #aceh-tamiang-banjir #penyintas-banjir-aceh #banjir-desa-sukajadi #banjir-karang-baru #banjir-sungai-tamiang #hujan-deras-aceh #evakuasi-banjir-aceh #bantuan-banjir-aceh #air-sungai-tamian