Jatuh Bangun Tadashi Yanai Bangun Bisnis Fashion Hingga Mendunia
Tadashi Yanai, pewaris bisnis pakaian, sukses mendunia dengan Uniqlo. Ia belajar dari kegagalan dan fokus pada kualitas serta adaptasi pasar global.
(Bisnis.Com) 16/10/25 20:01 6082
Bisnis.com, JAKARTA - Tadashi Yanai membangun usaha pakaian, meneruskan usaha ayahnya, memperbesar skalanya hingga menjadi orang terkaya di Jepang.
Upayanya membangun bisnis pun dihargai dengan penghargaan Malcolm S. Forbes Lifetime Achievement Award, yang diberikan untuk sebagai bentuk pencapaian wirausaha sepanjang hidup seseorang, dan perayaan atas kesuksesan bisnis global.
Kisah Tadashi membangun bisnis menegaskan bahwa membesarkan bisnis bukan hal mudah, walaupun bisa dibilang dia adalah pewaris. Tapi dengan kekuatan pembelajaran terus menerus dan kemampuan untuk terus bangkit membawanya pada kesuksesan saat ini.
Tadashi menceritakan awal mulanya terjun ke bisnis fashion. Kala itu ayahnya membuka toko baju formal di kota kecil, dengan populasi sangat sepi.
"Saya rasa bahkan tidak ada kemungkinan untuk berhasil saat itu. Di kota yang sepi, usaha pakaian itu terus menurun. Tapi saya bermimpi bisa punya 30 cabang dan uang jutaan dolar," katanya kepada Steve Forbes di Forbes Global CEO Conference di Jakarta, Rabu (15/10/2025).
Namun, satu hal yang menguatkan adalah saran dari ayahnya, untuk membangun bisnis dengan memperkuat kepercayaan, menjaga komitmen dengan apa yang telah dijanjikan, jujur, baik, dan selalu memilih pelanggan terlebih dahulu.
"Itulah yang saya pelajari dari ayahku. Kamu harus memastikan untuk membuat orang di sekitarmu bahagia. Apapun bisnis yang kamu miliki, kamu harus memastikan untuk membuat orang bahagia," katanya.
Tadashi memulai Uniqlo pada tahun 1984. Sebagai pengusaha, kesuksesannya bermula sat dia melihat kesempatan yang saat itu tak terlihat oleh orang.
"Kesempatan, mulai dari ketika saya menjaga kembali ke bisnis berpakaian kasual. Bisnis ayahku adalah menjual pakaian pria dormal, seperti jas, tapi tidak ada pakaian kasual. Padahal, banyak orang senang berpakaian kasual, pakai t-shirt dan celana pendek, dan akhirnya itulah yang pasar yang saya bidik, lifestyle lifewear," ungkapnya.
Tadashi mulai meneliti apa saja model yang bisa dikategorikan sebagai pakaian kasual di dunia. Tak hanya kaos dan celana pendek, lalu hadir pakaian bertema olahraga.
Dia lalu mulai membuat antara pakaian olahraga dan pakaian kasual, yang bisa membuat kehidupan sehari-hari lebih nyaman, dan orang bisa menjadi diri mereka sendri.
Lalu, Tadashi mulai mencari bahan yang tepat dan mulai melakukan produksi massal. Kala itu, produksi massal erat kaitannya dengan kualitas yang buruk, namun Tadashi ingin menghapuskan stigma tersebut.
"Kami tidak pernah menurunkan kualitas. bagaimana memproduksi masal, tapi berkualitas global. Produksi masal sering kali menghasilkan produk dengan kualitas rendah, tapi kami ingin menghilangkan stigma tersebut, dan itu membutuhkan 30 tahu. Dan setelah 40 tahun, kami akhirnya bisa sukses dan berdiri di sini," tambahnya.
Perjalan Ekspansi ke Luar Negeri
Kesuksesan Fast Retailing yang mendunia, kata Tadashi, berawal dari dari kegagalan demi kegagalan.
"Pertama kami masuk ke pasar Inggris. di Jepang, kita mengeluarkan modal US$1 juta bisa balik modal sampai US$4 juta dalam 2 tahun. Saya berpikir, ketika saya mencoba di pasar Inggris akan menjadi hal yang sangat mudah, tapi ternyata tidak sama sekali. Lalu saya merekrut ahli tim kepemimpinan dari jaringan besar UK. Mereka justru terlalu berfokus untuk membangun kantor pusat besar dan bukan jaringan penjualan. Jadi, jaringan itu celaka. Kami membuka 21 cabang dan saya harus menutup 16 di antaranya. Saya kehilangan sekitar US$1 juta sampai US$2 juta, itulah pengalaman mengerikan dari Inggris," kisahnya.
Kemudian, dia menjajal masuk pasar China. Lagi-lagi, gagal karena salah menentukan target pasar.
"Jadi dulu pendapatan orang China saat itu 1/20 dari saat ini. Jadi, kami mulai menawarkan pakaian dengan harga yang sangat murah, pakaian yang tidak berkualitas. Namun, itu adalah kesalahan. Karena orang China ternyata percaya bahwa harga sama dengan kualitas. Setelah kami belajar hal itu, kesukses mulai datang, pertama kali di luar negeri dimulai di Hong Kong. Dan kami bisa menikmati bisnis yang sangat baik di China sekarang. Kami buka cabang ke Shanghai dan Beijing," paparnya.
"Kegagalan adalah guru yang hebat. Sebelum punya satu kesuksesan, saya harus mengalami 99 kali kegagalan. Jadi jika Anda belum gagal 99 kali, Anda tidak akan berhasil," katanya.
Menurutnya, kegagalan akan membantu Anda berpikir apa perbedaan antara proyeksi Anda dan apa yang sebenarnya terjadi.
Selanjutnya, yang lebih penting lagi adalah bagaimana Anda terus melangkah dan melakukan eksekusi dengan tepat untuk menuju bisnis yang sukses.
"Jadi harus ada eksekusi. Kalau Anda tidak melakukan apa-apa, Anda tidak akan melihat apa perbedaan yang Anda pikirkan dengan bagaimana sebenarnya di lapangan," ujarnya.
Kemudian, Fast Retailing yang semakin dikenal, dengan cepat bisa berkembang ke Korea Selatan, Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Vietnam, Singapura dan tak lupa buka gerai besar kami di Eropa.
"Kami juga mulai banyak berpartner dengan berbagai desainer sehingga nama kami semakin besar dan banyak dikenal dan bisa menikmati kesuksesan saat ini. Salah satu yang saya pelajari juga dari Bernar Arnault, adalah membuka flagship store berskala besar di seluruh dunia, dan membuat perusahaan yang tepat. Anda harus memulai dengan memperkuat brand dan membuat bisnis yang tepat. Kemudian, Anda akan dikenal sebagai bisnis yang tepat," ujarnya.
Dengan kesuksesan besarnya kini, Tadashi juga tak melupakan jasa orang-orang yang mendukungnya, termasuk dengan 110.000 pekerja dan rekan yang ada saat ini, dia bisa menikmati kesuksesannya kini.
Melihat 10 Tahun ke Depan
Menuju masa depan, Tadashi menegaskan ingin menjadi brand fashion nomor satu dunia dengan produk yang bisa diakses oleh semua orang. Satu kuncinya untuk ekspansi adalah bisa beradaptasi di mana pun menjejakkan kaki.
"Saya belajar berbisnis sejak kuliah. Saat kuliah saya juga mengambil kesempatan belajar ke luar negeri selama 100 hari. Saya belajar mengenai penjualan di Amerika, belajar bagaimana dunia beroperasi.
Bagaimana perilaku pasar Jepang berbeda dengan Indonesia, dengan Amerika berbeda, bagaimana kita berpikir mengenai hal-hal yang berbeda. Tapi ada satu nilai tetap sama, menjual sesuatu yang benar, dan bagus nilai-nilai fundamental tidak akan berubah," ungkapnya.
#berita-bisnis #tadashi-yanai #bisnis-fashion #orang-terkaya-jepang #penghargaan-forbes #uniqlo #pakaian-kasual #produksi-massal #ekspansi-internasional #pasar-china #kegagalan-bisnis #fast-retailing #n-a