Siasat Garuda (GIAA) & AirAsia (CMPP) Perbaiki Kinerja, Bisa Berbalik Untung 2026?
Garuda (GIAA) dan AirAsia (CMPP) berupaya menekan kerugian dengan strategi efisiensi dan peningkatan armada. GIAA mendapat suntikan modal, target untung 2026.
(Bisnis.Com) 02/12/25 20:15 58542
Bisnis.com, JAKARTA — Emiten maskapai PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) dan PT AirAsia Indonesia Tbk. (CMPP) masih berkutat dengan catatan rugi sejauh ini. Sejumlah strategi pun dijalankan guna meraup untung.
Berdasarkan laporan keuangannya, GIAA masih mencatatkan rugi bersih sebesar US$182,53 juta per kuartal III/2025. Rugi bersih GIAA itu membengkak 39,10% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan rugi bersih periode yang sama tahun sebelumnya US$131,22 juta.
Membengkaknya rugi Garuda Indonesia sejalan dengan pendapatan usaha yang turun 6,7% YoY menjadi US$2,39 miliar per kuartal III/2025, dibandingkan US$2,56 miliar per kuartal III/2024.
AirAsia juga mencatatkan kerugian yang membengkak per kuartal III/2025 menjadi Rp985,49 miliar, dibandingkan Rp598,57 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
CMPP sebenarnya berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan usaha 2,08% YoY menjadi Rp6,02 triliun per kuartal III/2025, dari sebelumnya Rp5,9 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Namun, peningkatan pendapatan tersebut belum mampu menutup lonjakan sejumlah beban usaha.
Beban perbaikan dan pemeliharaan, misalnya, meningkat dari Rp1,25 triliun per kuartal III/2024 menjadi Rp1,46 triliun per kuartal III/2025. Beban pemasaran juga naik signifikan dari Rp268,92 miliar menjadi Rp364,87 miliar.
Seiring dengan catatan kerugian, kedua emiten maskapai pun menyiapkan sejumlah strategi guna meraup laba. Direktur Utama CMPP Raden Achmad Sadikin mengatakan perseroan menegaskan bahwa prioritas utama adalah memastikan kesiapan alat produksi, yaitu armada pesawat yang akan mendukung operasional secara optimal.
“Untuk tahun 2026, perseroan memproyeksikan peningkatan kapasitas armada dengan menyiapkan 25 pesawat beroperasi dari total 28 pesawat yang dimiliki.” Kata Achmad dalam laporan hasil public expose pada Selasa (2/12/2025).
Dengan ketersediaan armada yang lebih andal, menurutnya CMPP berharap dapat meningkatkan pendapatan, antara lain melalui pembukaan rute-rute baru yang akan dievaluasi berdasarkan potensi pertumbuhan pada tahun mendatang.
Sebagai perusahaan penerbangan berbiaya rendah (LCC), CMPP juga secara konsisten menerapkan efisiensi biaya, sebagaimana tercermin dari tingkat cost of available seat kilometer (CASK) yang kompetitif dan berhasil dipertahankan.
“Perseroan akan terus mengarahkan strategi pada pengoperasian rute-rute yang memiliki nilai strategis serta potensi profitabilitas yang lebih baik,” ujarnya.
Selain itu, CMPP berkomitmen untuk terus meningkatkan tingkat kepuasan pelanggan sebagai bagian dari penguatan daya saing. Dengan demikian, menurutnya kombinasi efisiensi biaya, pemilihan rute strategis, dan peningkatan keandalan armada menjadi dasar utama CMPP dalam memperkuat kinerja operasional dan keuangan secara berkelanjutan.
Sementara, GIAA mendapatkan angin segar untuk memperbaiki kinerja keuangannya berupa suntikan dana dari pemegang sahamnya. Mengacu keputusan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB), Danantara akan menyertakan modal sebesar Rp23,67 triliun kepada GIAA melalui private placement.
Penyertaan modal dilakukan dengan setoran modal tunai sebesar Rp17,02 triliun serta konversi utang pinjaman pemegang saham sebesar Rp6,65 triliun.
Secara terperinci, dari total dana Rp23,67 triliun, sekitar Rp8,7 triliun atau 37% akan dialokasikan untuk kebutuhan modal kerja Garuda Indonesia, meliputi pemeliharaan dan perawatan pesawat.
Sementara itu, Rp14,9 triliun atau 63% akan mendukung operasional Citilink, terdiri atas Rp11,2 triliun untuk modal kerja dan Rp3,7 triliun untuk pelunasan kewajiban pembelian bahan bakar kepada Pertamina periode 2019–2021.
Dukungan Danantara itu juga menjadi bagian dari restrukturisasi perseroan. Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia Thomas Sugiarto Oentoro mengatakan seiring dengan aksi korporasi itu, GIAA pun bergeliat untuk transformasi.
Menurutnya, GIAA akan membenahi empat pilar utama, yakni service, business, operational, dan digital transformation. Selain itu, GIAA berkomitmen memperbaiki sejumlah armada yang saat ini berstatus grounded.
Seiring dengan langkah perbaikan itu, perseroan berharap kinerja keuangan pun bisa membaik. GIAA menargetkan untuk meraup laba pada 2026.
“Sekarang ini kami bisa perbaiki dulu kinerja kami dalam operation, dan kami harapkan itu bisa membawa impact positif kepada [kinerja keuangan] kuartal II [2026],” kata Thomas dalam public expose pada pekan lalu (27/11/2026).
Sebelumnya, Chief Operating Officer Danantara Indonesia sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria juga mengatakan transformasi yang dijalankan GIAA membutuhkan waktu. Akan tetapi, dari sisi finansial, Dony menilai tahun depan akan terlihat dampak yang dirasakan GIAA.
"Garuda Indonesia tahun depan akan raup keuntungan dan dengan demikian masuk ke fase sehat. Melihat potensi yang ada, kami sangat yakin Garuda masuk ke fase positif," kata Dony dalam konferensi pers pada beberapa waktu lalu (13/11/2025).
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#garuda-indonesia #airasia-indonesia #rugi-bersih #strategi-maskapai #peningkatan-pendapatan #efisiensi-biaya #armada-pesawat #rute-baru #suntikan-dana #restrukturisasi-garuda #transformasi-digital #la