Emiten Konsumer Diadang Cukai Minuman Manis 2026, Margin Bisnis jadi Pahit?
Penerapan cukai minuman manis pada 2026 dapat menekan margin emiten konsumer, terutama yang bergantung pada produk berpemanis. Diversifikasi produk dan inovasi dapat mengurangi dampak negatif.
(Bisnis.Com) 25/11/25 06:13 48894
Bisnis.com, JAKARTA – Rencana pemerintah RI menerapkan cukai terhadap minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) pada 2026 disebut berpotensi menekan prospek positif emiten konsumer secara parsial pada tahun mendatang.
Kalangan analis menilai bahwa bagi emiten-emiten yang memiliki kaitan erat dengan minuman manis dalam kemasan, penerapan kebijakan ini berpotensi memberikan sentimen negatif karena membuat harga jual produk meningkat.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menerangkan bahwa sejumlah emiten konsumer seperti ICBP, INDF, MYOR, hingga UNVR cenderung tidak akan terpengaruh oleh kebijakan ini lantaran diversifikasi produk yang dilakukan oleh emiten danpricing poweryang cenderung kuat.
“Prospek cenderungmixed, tergantung struktur portofolionya. Cukai ini akan jadi sentimen negatif untuk produsen yang mempunyai porsi besar disweet drinkskarena harga jual harus naik, volume bisa turun, dancost pass-throughsulit dilakukan ke segmen menengah bawah, akibatnya margin berpotensi tertekan,” kata Wafi kepada Bisnis, Senin (24/11/2025).
Senada, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta, menilai bahwa penerapan kebijakan ini berpotensi mempengaruhi margin dan keuntungan emiten terkait.
Menurutnya, dalam kondisi saat ini, penting bagi emiten-emiten konsumer untuk melakukanbrandingterhadap produk dengan tingkat kesehatan yang baik. Baginya, inovasi seperti hal tersebut bakal mampu mendatangkan konsumen di tengah terbukanya pandangan masyarakat terhadap kondisi kesehatan.
“Yang penting sih fokus kepada gizi, fokus kepada nutrisi, karena inilah yang akan menjadi pemenang. Ini akan menjadi penentuan dalam meningkatkan kinerja penjualan emiten tersebut,” katanya, Senin (24/11/2025).
Senada, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Abdul Azis, menilai bahwa penerapan kebijakan ini berpotensi menurunkan volume penjualan bagi emiten terkait. Terlebih, di tengah daya beli masyarakat yang masih lemah, kenaikan harga akibat cukai dinilai mampu membuat fenomenadowntradingkembali terjadi.
Meskipun begitu, menurutnya dampak dari kebijakan ini bisa saja dimitigasi jika perusahaan melakukan reformulasi kadar gula, perubahan ukuran kemasan, atau penyesuaian harga secara bertahap.
“Potensi tekanan volume ada, terutama bagi emiten dengan ketergantungan tinggi pada minuman berpemanis seperti ULTJ. Emiten seperti CMRY yang eksposurnya lebih rendah, diperkirakan mengalami dampak lebih kecil,” katanya, Senin (24/11/2025).
Selain itu, Azis juga menyoroti ihwal penerapan kebijakan ini secara teknis. Menurutnya, besaran dampak akan sangat tergantung pada besaran tarif, cakupan produk, dan strategi mitigasi yang diterapkan oleh perusahaan. Jika tarif yang diterapkan cenderung moderat dan pemerintah hanya menargetkan kategori tertentu, maka tekanan terhadap volume dan margin bisa terbatas.
Meskipun begitu, kalangan analis sepakat bahwa kebijakan cukai tidak serta merta membuat kinerja emiten konsumer tertekan sepanjang tahun. KISI Sekuritas misalnya, menilai bahwa sejumlah katalis seperti stimulus fiskal, momentum Nataru, hingga ekspektasi suku bunga yang lebih rendah pada 2026 akan mampu mendorong daya beli masyarakat tahun mendatang.
Menurutnya, dalam kondisi ini, investor mesti lebih fokus pada emiten konsumer yang memiliki sifat defensif. Artinya, emiten tersebut memiliki diversifikasi portofolio dan margin yang kuat.
“Sementara untuk emitensweet drinks, perlu lebih selektif dan melihat kemampuan inovasi sertapricing powermasing-masing emiten,” tegas Wafi.
Sementara itu, Kiwoom Sekuritas juga turut menilai bahwa peluang penguatan terhadap emiten konsumer pada 2026 masih terbuka dengan lebar. Terlebih, bagi emiten yang mampu melakukan diversifikasi produk ke arah produk rendah gula, penyesuaian harga yang efektif, hingga pemulihan bertahap dari konsumsi masyarakat domestik.
Belum lagi, terdapat potensi rebound dari emiten-emiten konsumer jika regulasi final lebih ringan dari kekhawatiran pasar.
“Selain itu, valuasi yang sudah terkoreksi akibat kekhawatiran cukai bisa menjadi peluang penguatan bila ketidakpastian mereda dan emiten menunjukkan kemampuan adaptasi,” katanya.
Kiwoom merekomendasikan saham PT Cisarua Mountain Dairy Tbk. (CMRY) dengan target harga Rp6.500 per lembar.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#emiten-konsumer #cukai-minuman-manis #margin-bisnis #minuman-berpemanis #kebijakan-cukai #harga-jual-produk #diversifikasi-produk #pricing-power #sweet-drinks #volume-penjualan #reformulasi-kadar-gula