BI Minta Pemda Sumbar Lakukan Pemetaan Panen Cabai Merah Jelang Nataru

BI Minta Pemda Sumbar Lakukan Pemetaan Panen Cabai Merah Jelang Nataru

Bank Indonesia mendorong Pemda Sumbar memetakan panen cabai merah untuk mengendalikan inflasi menjelang akhir 2025, mengingat cuaca ekstrem dan kebutuhan meningkat saat Nataru.

(Bisnis.Com) 05/11/25 08:59 27891

Bisnis.com, PADANG - Bank Indonesia (BI) menyatakan pemerintah Provinsi Sumatra Barat perlu mengambil langkah jitu agar jelang penutupan tahun 2025 ini kondisi inflasi di Ranah Minang dapat terkendali secara baik

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumbar M. Abdul Majid mengatakan melihat pada data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Oktober 2025, Sumbar mengalami inflasi yakni 0,40% secara bulanan (mtm) dan 4,52% yoy. Kondisi ini, perlu ditangani secara serius, supaya pada penutupan tahun 2025, inflasi bisa direda.

"Kami sudah minta kepada Pemda di masing-masing kabupaten dan kota dan termasuk Pemprov untuk mendata di lapangan ke daerah-daerah yg akan dan sedang panen cabai merah. Cara ini bisa mengukur kesiapan pasokan cabai merah ke pasar," katanya, Selasa (4/11/2025).

Selain itu, BI Sumbar juga sudah menyampaikan data rencana panen cabe di kluster-kluster pertanian untuk binaan BI. Pendataan tersebut kemudian diharapkan diikuti dengan pembelian cabe untuk operasi pasar.

"Nantinya, BI Sumbar akan support ongkos angkutnya," ujar dia.

Mengingat akan tibanya momen liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, yang artinya kebutuhan terhadap cabai merah akan mengalami peningkatan dari biasanya, Majid menegaskan Pemda perlu mewaspadai kondisi cuaca ekstrem yang diperkirakan BMKG bakal berlangsung hingga Desember 2025.

Dia menyatakan tantangan soal pertanian holtikultura adalah cuaca ekstrem. Informasi dari BMKG belum lama ini telah menyampaikan bahwa sampai dengan Desember 2025 masih terjadi hujan deras di sejumlah wilayah Sumbar.

"Nah, ini yang perlu kami waspadai terhadap tanaman holtikultura, karena hujan deras dapat merontokkan bunga-bunga cabainya. Hal ini berpotensi membuat produksi jadi menurun. Kondisi semacam ini sebaiknya dari perhatian serius Pemda," tegasnya.

Melihat situasi yang demikian, Majid menyatakan optimis inflasi Sumbar bakal sedikit mereda, karena di sentra-sentra cabai merah yakni diJawa, NTB dan Sulsel mulai panen. Hal ini akan memberikan efek psikologis ke seluruh Indonesia bahwa pasokan nasional naik.

Menurutnya, dengan membaiknya pasokan nasional dan diperkuat hasil panen yang optimal, maka pasokan ke pasar akan normal, yang artinya harga cabai merah pun bisa mencapai titik normal.

Oleh karena itu, Pemda di Sumbar perlu serius untuk memastikan bahwa November dan Desember 2025 ini ketersediaan dan pasokan cabai merah di Sumbar cukup dan terkendali.

"Jadi saya memperkirakan inflasi Sumbar ke depan bisa sedikit mereda. Kuncinya, Pemda serius dari sekarang urus pasokan cabai merah itu," ucap Majid.

Kemudian, melihat inflasi bulanan ini, lanjutnya, perkembangan tersebut masih dipengaruhi oleh peningkatan harga cabai merah dan emas perhiasan. Kenaikan harga cabai merah ini dipengaruhi oleh terbatasnya produksi lokal serta kelangkaan pasokan dari luar provinsi.

Sementara itu, peningkatan harga emas perhiasan sejalan dengan penguatan harga emas acuan global. Di sisi lain, laju inflasi yang lebih tinggi dapat tertahan oleh penurunan harga beberapa komoditas pangan, khususnya bawang merah.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatatkan inflasi 0,47% (mtm) dengan andil 0,16%. Hal ini disebabkan oleh peningkatan harga cabai merah, ikan cakalang/ikan sisik, dan daging ayam ras.

Dari pantauan BI Sumbar, harga cabai merah naik 21,76% (mtm) dampak terbatasnya pasokan dari sentra produksi lokal Sumbar maupun daerah sekitar, seperti Sumatra Utara dan Aceh, karena musim kering yang terjadi pada masa tanam.

Dikatakannya peningkatan harga ikan cakalang disebabkan oleh hasil tangkapan yang terbatas akibat kondisi cuaca yang kurang mendukung.

Sementara itu, kenaikan harga daging ayam ras dipengaruhi oleh meningkatnya harga pakan ternak. Di sisi lain, harga bawang merah turun 20,58% (mtm) sejalan dengan membaiknya produksi lokal dan stabilnya pasokan dari sentra nasional.

Untuk kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya inflasi sebesar 3,98% (mtm) dengan andil 0,21% yang didorong oleh peningkatan harga emas perhiasan sebesar 13,99% (mtm) sejalan dengan penguatan harga emas global.

Pemangkasan suku bunga The Fed dan instabilitas kondisi geopolitik menjadi penyebab penguatan harga emas. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga juga mendorong inflasi dengan andil 0,03% terhadap inflasi Oktober.

"Kondisi tersebut didorong oleh peningkatan biaya sewa rumah sejalan dengan berjalannya tahun akademik baru, terutama di perguruan tinggi swasta," kata dia.

Upaya TPID Kendalikan Inflasi

Majid mengatakan dalam melakukan pengendalian inflasi ini, koordinasi semua pihak juga semakin dikencangkan. Buktinya, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumbar perlu penguatan strategi stabilisasi harga pangan agar tetap terkendali dan berada dalam rentang sasaran.

Hal yang dilakukan TPID itu yakni menjaga kecukupan pasokan di masing-masing daerah, salah satunya dengan memperkuat kerjasama antar daerah, serta intensifikasi Gerakan Pangan Murah (GPM) kepada masyarakat konsumen di seluruh kabupaten dan kota di lokasi yang tepat sasaran dengan menjual komoditas pemicu inflasi, terutama cabai merah.

Dengan sinergi berbagai pihak yang terus diperkuat, kata Majid, TPID Sumbar optimis program pengendalian inflasi pangan akan berjalan efektif. Komitmen ini akan terus dijaga untuk memastikan inflasi Sumbar tetap terkendali dalam rentang 2,5±1% yoy pada keseluruhan tahun 2025.

#inflasi-sumbar #cabai-merah #bank-indonesia #pemda-sumbar #pasokan-cabai #harga-cabai #cuaca-ekstrem #panen-cabai #operasi-pasar #inflasi-pangan #tpid-sumbar #stabilisasi-harga #kerjasama-daerah #gera

https://sumatra.bisnis.com/read/20251105/533/1926251/bi-minta-pemda-sumbar-lakukan-pemetaan-panen-cabai-merah-jelang-nataru