Bos Apindo Akui Banyak Pengusaha Tahan Ekspansi, Ini Biang Keroknya

Bos Apindo Akui Banyak Pengusaha Tahan Ekspansi, Ini Biang Keroknya

Banyak pengusaha menahan ekspansi karena margin usaha tertekan oleh biaya produksi tinggi. Mereka berharap efisiensi biaya dan stabilitas kebijakan segera terwujud.

(Bisnis.Com) 04/11/25 16:45 27198

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengakui margin usaha makin menipis seiring dengan kenaikan biaya produksi. Selama biaya logistik, energi, dan pembiayaan masih tinggi, ruang napas industri tetap sempit.

Dalam laporan S&P Global, PMI Manufaktur Indonesia berada di level 51,2 pada Oktober 2025. Kenaikan biaya input disebut paling tajam dalam delapan bulan terakhir, sedangkan waktu pengiriman kembali memanjang akibat kendala distribusi.

Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani mengatakan banyak pabrikan menahan penyesuaian harga jual agar tetap kompetitif, sehingga hal ini tentu membuat margin tertekan.

“Mereka bertahan lewat efisiensi operasional, negosiasi harga pasokan, hingga menunda ekspansi besar, tetapi kemampuan untuk menahan margin jelas terbatas,” kata Shinta kepada Bisnis, Selasa (4/11/2025).

Dalam hal ini, pengusaha telah mendorong pemerintah untuk menekan biaya logistik yang saat ini mencapai 23% terhadap PDB, harga listrik dan gas industri relatif mahal, serta bunga kredit tinggi sehingga masih menjadi faktor penekan daya saing dan margin.

Di sisi lain, akses pembiayaan juga belum longgar, maka tak heran, Shinta melihat saat ini minat ekspansi dunia usaha saat ini cenderung selektif. Tak sedikit perusahaan menahan investasi besar karena margin tertekan dan prospek permintaan yang belum kuat.

“Namun, mereka siap bergerak begitu sinyal stabilitas kebijakan dan efisiensi biaya semakin nyata,” tuturnya.

Shinta menyoroti aktivitas manufaktur memang masih berada di fase ekspansi, namun pemulihan yang terjadi tidak merata. Ada sejumlah sektor yang masih tertahan oleh tekanan biaya maupun lemahnya permintaan.

Merujuk pada laporan Prompt Manufacturing Index BI pada kuartal III/2025, beberapa sektor yang menguat dan cenderung ekspansif antara lain makanan-minuman, logam dasar, alat angkutan, serta komputer/elektronik.

“Beberapa kelompok barang galian bukan logam juga meningkat pada Q3,” imbuhnya.

Perbaikan di sektor tersebut sejalan dengan stabilnya permintaan input industri dan aktivitas konstruksi di sejumlah wilayah pada paruh kedua tahun ini.

Di sisi lain, subsektor padat karya seperti tekstil dan pakaian jadi (TPT) masih menghadapi tekanan akibat lemahnya permintaan domestik dan persaingan dengan produk impor.

“Industri kulit dan alas kaki mulai membaik tetapi bergantung pada siklus pesanan ekspor. Sedangkan industri hasil tembakau dan kayu/rotan juga masih menunjukkan volatilitas,” tuturnya.

Dengan kondisi ini, Shinta menyebut pemulihan memang berjalan tapi tidak homogen, subsektor berbasis konsumsi dan padat karya masih membutuhkan dorongan kebijakan yang lebih kuat agar tidak tertinggal.

#pengusaha-tahan-ekspansi #pmi-manufaktur #biaya-logistik #biaya-produksi-tinggi #margin-usaha-menipis #biaya-logistik-mahal #biaya-energi-tinggi #pembiayaan-ketat #pmi-manufaktur-indonesia #penyesuaia

https://ekonomi.bisnis.com/read/20251104/12/1925956/bos-apindo-akui-banyak-pengusaha-tahan-ekspansi-ini-biang-keroknya