Harga Batu Bara Berpotensi Naik Imbas Kebijakan RI dan Kecelakaan Tambang di China
Analis dan pelaku industri menilai kombinasi gangguan pasokan tersebut berpotensi memperketat ketersediaan batu bara dunia.
(Kompas.com) 17/06/26 05:08 251614
JAKARTA, KOMPAS.com - Pasokan batu bara global menghadapi tekanan dari dua faktor utama, yakni kecelakaan tambang di China dan ketidakpastian kebijakan ekspor batu bara Indonesia.
Kondisi tersebut diperkirakan dapat mendorong kenaikan harga batu bara di pasar internasional, terutama ketika pasokan gas alam cair (LNG) masih belum sepenuhnya pulih pasca perang Iran.
Analis dan pelaku industri menilai kombinasi gangguan pasokan tersebut berpotensi memperketat ketersediaan batu bara dunia dalam beberapa bulan mendatang.
Perang yang melibatkan Iran sebelumnya sempat menghentikan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG global.
Situasi itu memicu peningkatan pembelian batu bara berkualitas tinggi oleh Jepang dan Korea Selatan, sekaligus mengangkat harga batu bara acuan Newcastle mendekati level tertinggi dalam hampir dua tahun, yakni di atas 150 dollar AS per ton.
Meski demikian, permintaan terhadap batu bara kalori rendah yang umumnya berasal dari Indonesia sempat melemah akibat rendahnya kebutuhan dari China dan India. Kedua negara tersebut mengandalkan stok batu bara yang memadai serta produksi energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan listrik domestik.
Namun kondisi itu mulai berubah setelah ledakan maut di sebuah tambang batu bara di Provinsi Shanxi, China, bulan lalu. Insiden tersebut memicu inspeksi keselamatan secara besar-besaran yang berujung pada pengetatan pasokan batu bara domestik.
Chief Executive Officer (CEO) DBX Commodities Alexandre Claude memperkirakan impor batu bara termal China pada Juni akan meningkat 27,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi 27,8 juta ton.
Kenaikan impor tersebut dilakukan untuk memenuhi permintaan listrik musiman yang meningkat di tengah pasokan domestik yang semakin ketat.
"Kebijakan keselamatan di Shanxi dan transisi pengelolaan ekspor batu bara Indonesia ke Danantara telah memperketat pasokan batu bara laut (seaborne coal). Bantalan persediaan mulai menipis. Dengan permintaan yang tetap kuat dan pasokan yang terbatas, risiko kenaikan harga dalam jangka pendek masih cukup besar," ujar Claude seperti dikutip dari Reuters, Selasa (16/6/2026).
Selain faktor China, pasar juga mencermati rencana Indonesia yang akan menempatkan seluruh ekspor batu bara di bawah pengelolaan perusahaan negara baru, PT Danantara. Kebijakan tersebut dinilai menambah ketidakpastian di pasar batu bara global.
Direktur Eksekutif McCloskey, Scott Dendy, mengatakan produksi batu bara termal Indonesia selama empat bulan pertama tahun ini turun 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ia memperkirakan ekspor batu bara Indonesia dapat turun sekitar 11 persen menjadi 446 juta ton pada tahun ini apabila laju produksi saat ini terus berlanjut.
Gangguan pasokan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kebutuhan batu bara di sejumlah negara Asia Tenggara yang selama ini menjadi pasar utama Indonesia.
Direktur I-Energy Resources Vasudev Pamnani mengatakan cuaca yang lebih panas telah meningkatkan konsumsi batu bara di Vietnam dan Filipina. Selain itu, pasokan gas yang lebih ketat di Thailand diperkirakan akan mendorong peningkatan impor batu bara negara tersebut sepanjang tahun ini.
Permintaan batu bara berpotensi naik
Konsultan energi Rystad Energy memperkirakan dampak perang Iran saja dapat meningkatkan konsumsi batu bara di kawasan Asia-Pasifik hingga 70 juta ton pada 2026.
Meskipun pasokan LNG diperkirakan meningkat setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati kerangka kerja untuk membuka kembali Selat Hormuz, pemulihan pasokan secara penuh diperkirakan membutuhkan waktu yang tidak singkat.
Para pejabat industri menilai normalisasi distribusi LNG dapat memakan waktu beberapa pekan, sementara untuk kembali ke tingkat produksi sebelum perang dapat membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Di sisi lain, pasokan batu bara global diperkirakan justru menurun. Business Development Manager Argus Bryan Lim mengatakan pasokan batu bara dunia diperkirakan turun 5,7 persen menjadi 985 juta ton pada 2026.
Menurut dia, potensi kemunculan fenomena El Nino dalam waktu dekat juga berisiko meningkatkan kebutuhan listrik dan pada akhirnya mendorong permintaan batu bara lebih tinggi lagi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang