Peluang Krisis Finansial 1998 Terulang Relatif Kecil, Risiko Bergeser ke Sektor Riil
Pelemahan nilai tukar rupiah, bisa berdampak pada kondisi krisis ekonomi.
(Bisnis.Com) 15/06/26 03:00 249873
Bisnis.com, JAKARTA — Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai peluang terulangnya krisis finansial seperti yang terjadi pada 1998 relatif kecil. Namun, risiko perlambatan ekonomi tetap besar.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M Rizal Taufikurahman mengatakan yang kini perlu diwaspadai adalah kombinasi suku bunga tinggi, pelemahan daya beli, perlambatan investasi.
“Dan volatilitas pasar keuangan yang dapat menekan penyaluran kredit dan meningkatkan risiko kredit bermasalah secara bertahap,” ungkapnya kepada Bisnis, Minggu (14/6/2026).
Rizal menjelaskan, perbedaan mendasar kondisi sektor keuangan Indonesia saat ini dengan saat krisis finansial 1998 terletak pada sumber risikonya. Pada 1998, krisis dipicu lemahnya fundamental perbankan, utang valas yang tinggi, dan pengawasan yang lemah.
Dengan demikian, lanjutnya, pelemahan rupiah langsung berubah menjadi krisis sistemik. Sementara itu, kondisi saat ini, permodalan perbankan, pengawasan, dan jaring pengaman keuangan jauh lebih kuat.
“Sehingga risiko bergeser dari krisis perbankan menjadi perlambatan sektor riil akibat tekanan global dan domestik,” tegasnya.
Kendati demikian, Rizal berpandangan bahwa sistem keuangan Indonesia masih cukup resilien menghadapi gejolak global, tetapi ketahanan tersebut harus dibuktikan melalui kemampuannya mendukung pertumbuhan ekonomi.
“Perbankan yang sehat tidak cukup jika intermediasi melemah, kredit produktif melambat, dan sektor riil kehilangan momentum. Tantangan utamanya adalah menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan yang lebih inklusif,” tutupnya.