Samuel Sekuritas Pangkas Proyeksi Laba Bank 2026 akibat Rupiah Melemah
Samuel Sekuritas memangkas proyeksi laba bank 2026 menjadi 1,8% akibat tekanan rupiah lemah, suku bunga tinggi, dan NIM yang menyusut.
(Bisnis.Com) 12/06/26 14:04 248311
Bisnis.com, JAKARTA — PT Samuel Sekuritas Indonesia memangkas proyeksi pertumbuhan laba bank tahun ini, seiring melemahnya nilai tukar rupiah dan kenaikan suku bunga.
Samuel Sekuritas dalam laporannya menyebut, kombinasi suku bunga tinggi dan rupiah yang melemah akan meningkatkan biaya dana perbankan, khususnya bagi bank yang bergantung pada deposito berjangka.
“Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya dana (cost of fund/CoF), terutama bagi bank yang masih mengandalkan deposito berjangka sebagai sumber pendanaan,” tulis Samuel Sekuritas dalam laporannya, dikutip pada Jumat (12/6/2026).
Pada saat yang sama, margin bunga bersih diperkirakan tertekan karena kenaikan bunga simpanan lebih cepat dibandingkan bunga kredit. Kondisi tersebut juga berisiko memperburuk kualitas kredit seiring meningkatnya biaya pinjaman di tengah lemahnya daya beli masyarakat.
Selain itu, pelemahan rupiah juga berpotensi mendorong inflasi impor, sehingga BI kemungkinan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini dinilai dapat memperpanjang tekanan terhadap profitabilitas bank.
“Atas dasar itu, Samuel memangkas proyeksi pertumbuhan laba bank pada 2026 menjadi hanya 1,8% secara tahunan (year on year/YoY), dari sebelumnya 4,6%,” ungkapnya.
Seiring dengan penurunan proyeksi laba, Samuel Sekuritas turut menurunkan rekomendasi sektor perbankan dari positif menjadi netral. Meski demikian, perusahaan sekuritas itu menilai valuasi saham bank saat ini relatif murah karena sebagian besar diperdagangkan di bawah rata-rata historisnya.
Lebih lanjut, Samuel Sekuritas menilai prospek sektor perbankan masih dibayangi sejumlah risiko, mulai dari tekanan yang lebih dalam terhadap margin bunga bersih (net interest margin/NIM), kenaikan biaya kredit, hingga pelemahan rupiah yang berlanjut.
Selain itu, potensi kenaikan suku bunga lanjutan, memburuknya kualitas aset, serta arus keluar modal asing yang masih berlangsung juga berpotensi menekan kinerja perbankan ke depan.
Kendati begitu, Samuel Sekuritas melihat sejumlah faktor yang dapat menjadi katalis positif bagi sektor perbankan. Faktor tersebut antara lain pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan, pemulihan nilai tukar rupiah, serta penurunan suku bunga.
Perbaikan margin bunga bersih, pertumbuhan kredit yang lebih tinggi, dan penurunan biaya kredit juga dinilai dapat mendukung kinerja perbankan pada periode mendatang.
Kinerja Bank Jumbo Masih Kuat hingga April 2026
Meski industri perbankan menghadapi tantangan yang semakin besar, Samuel Sekuritas mencatat kinerja empat bank terbesar di Indonesia masih menunjukkan ketahanan hingga April 2026. Laba bersih gabungan empat bank besar mencapai Rp62,1 triliun pada periode Januari—April 2026, tumbuh 8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, Samuel Sekuritas melihat sejumlah indikator mulai menunjukkan tekanan. Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) gabungan empat bank besar turun 18 basis poin (bps) secara tahunan menjadi 5,1%. Selain itu, penurunan imbal hasil aset berlangsung lebih cepat dibandingkan penurunan biaya dana.
Di sisi intermediasi, pertumbuhan kredit mencapai 14% secara tahunan, sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang sebesar 13%, sehingga mendorong rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) naik menjadi 89%, level tertinggi dalam 11 bulan terakhir.
Meski demikian, Samuel menilai kualitas aset perbankan masih relatif terjaga. Pertumbuhan laba yang tercatat hingga April 2026 juga banyak ditopang oleh menurunnya biaya pencadangan kredit (credit cost).
Ke depan, Samuel memperkirakan pertumbuhan laba bersih sektor perbankan akan melambat dari 7,5% pada empat bulan pertama 2026 menjadi sekitar 1,8% pada akhir tahun.
“Penyebab utamanya adalah penurunan NIM dan kenaikan biaya kredit,” katanya.
Samuel Sekuritas juga mencatat pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) di PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mulai menunjukkan perlambatan dan tren tersebut diperkirakan masih berlanjut.
Sementara itu, pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP) diperkirakan tetap mencapai 5%, didukung oleh ekspansi bisnis yang kuat di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI).
#samuel-sekuritas #laba-bank-2026 #saham-bank #sektor-perbankan #rupiah-melemah #suku-bunga-tinggi #nim-bank #cost-of-fund-bank #profitabilitas-bank #bbca #bbri #bmri #bbni #saham-perbankan-indonesia #n-a