Sinyal Siklus Pengetatan 2018 Berulang, BI Rate 5,50% Belum Jadi Akhir

Sinyal Siklus Pengetatan 2018 Berulang, BI Rate 5,50% Belum Jadi Akhir

Riset BRI Danareksa menilai kenaikan BI Rate menjadi 5,50% mengonfirmasi kembalinya siklus pengetatan moneter agresif seperti tahun 2018.

(Bisnis.Com) 10/06/26 13:24 245896

Bisnis.com, JAKARTA — Langkah mengejutkan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% dinilai mengonfirmasi kembalinya siklus pengetatan moneter seperti 2018 silam.

Riset BRI Danareksa Sekuritas memandang bahwa keputusan yang diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan pada Selasa (9/6/2026) tersebut semakin mempertegas komitmen bank sentral yang lebih memprioritaskan stabilitas eksternal dan mitigasi risiko inflasi secara preemptif.

Langkah inter-meeting hike itu dipicu oleh pelemahan rupiah yang sudah merosot hingga 8,7% secara tahun berjalan (year to date/YTD) atau melampaui batas ekspektasi Bank Indonesia (BI) pada pertemuan Mei lalu.

BRI Danareksa melihat peta jalan yang diambil BI saat ini memiliki kemiripan historis yang sangat kuat dengan siklus pengetatan moneter pada 2018.

Kala itu, bank sentral secara tidak terjadwal menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada pertengahan Mei yang kemudian menjadi pembuka dari rangkaian kenaikan beruntun hingga 125 bps hingga akhir tahun 2018. Langkah itu demi mengimbangi agresivitas The Fed yang mengerek suku bunga 100 bps.

“Meskipun nilai tukar rupiah saat itu hanya melemah sekitar 3,5% YtD, kini rupiah telah terdepresiasi lebih dari 8% meskipun inflasi domestik tetap terkendali. Hal ini menyoroti fokus BI yang lebih kuat pada stabilitas valas dan ketahanan eksternal,” tulis riset BRI Danareksa, dikutip Rabu (10/6/2026).

Dalam laporan riset sebelumnya yang bertajuk “After the Hike, What’s Next?”, BRI Danareksa Sekuritas memetakan tiga indikator utama yang dapat memicu BI untuk terus mengerek suku bunga acuan ke depan.

Tiga indikator utama tersebut mencakup volatilitas rupiah yang persisten, laju inflasi di atas target, serta sikap The Fed yang kembali hawkish.

Saat ini, situasi pasar finansial global dan domestik dinilai telah memenuhi dua dari tiga syarat tersebut secara sekaligus. Nilai tukar Rupiah terpantau terus tertekan hampir 500 poin menuju level Rp18.200 per dolar AS.

Di saat yang sama, pasar obligasi dalam negeri ikut bergejolak di mana imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun melonjak 40 bps ke posisi 7,26% tepat sehari sebelum pengumuman suku bunga dijalankan. Pergerakan ini disebut telah sesuai dengan skenario pesimistis yang diproyeksikan oleh BRI Danareksa.

BRI Danareksa pun memperkirakan BI masih akan terus mengandalkan langkah-langkah intervensi pasar, termasuk mempertahankan tingkat imbal hasil yang menarik untuk mendukung aliran modal masuk.

“Kami menilai upaya struktural untuk memperkuat kepercayaan pasar tetap sama pentingnya, terutama melalui komunikasi kebijakan yang lebih jelas dan panduan lebih kuat mengenai arah kebijakan yang lebih luas.”

LANGKAH AGRESIF

Sementara itu, BI diproyeksikan menempuh langkah moneter yang lebih agresif hingga akhir 2026 dengan BI Rate berpotensi melonjak hingga 200 bps ke 6,75%.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa sepanjang tahun berjalan kebijakan moneter BI sejatinya telah menguras ruang intervensi yang cukup besar. Secara kumulatif, bank sentral tercatat sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 bps dari posisi awal tahun di 4,75%.

“Namun, dengan realisasi hari ini yang sudah menyentuh total kenaikan 75 bps, ada kemungkinan besar suku bunga BI sampai akhir tahun melesat 200 bps jika kondisi global memburuk,” ujar Ibrahim kepada awak media, Selasa (9/6/2026).

Menurut kalkulasi tersebut, dengan asumsi batas atas kenaikan mencapai 200 bps dari posisi awal tahun, maka BI masih mengantongi sisa ruang pengetatan moneter sebesar 125 bps lagi untuk dieksekusi pada paruh kedua tahun ini.

Sementara itu, dalam keterangan resmi, BI mengkonfirmasi keputusan mengerek BI-Rate ke 5,50%, suku bunga Deposit Facility 4,50%, dan Lending Facility menjadi 6,25% bertujuan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.

Berdasarkan evaluasi mingguan sejak RDG Bulanan periode 19–20 Mei 2026, bank sentral juga mengakui bahwa perkembangan nilai tukar rupiah bergerak lebih lemah dari yang diperkirakan semula.

Selain dipicu oleh tingginya permintaan valas di dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah yang mendalam ini juga didorong oleh derasnya aliran modal keluar (capital outflow) dari investasi portofolio asing.

Ibrahim menilai keputusan mengerek BI Rate sudah tepat karena memanfaatkan momentum meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah setelah adanya sinyal penurunan intensitas konflik antara Israel dan Iran.

Kendati demikian, pengetatan moneter lanjutan tetap membayangi lantaran adanya ancaman lonjakan inflasi yang dipicu oleh mahalnya harga barang-barang impor akibat depresiasi rupiah yang mendalam beberapa pekan terakhir.

“Kami melihat ada risiko inflasi bulanan ke depan cenderung naik sebagai dampak langsung dari kenaikan harga barang-barang impor,” pungkasnya.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

#bi-rate #suku-bunga-acuan #moneter #the-fed #inflasi #impor #geopolitik #timur-tengah

https://market.bisnis.com/read/20260610/7/1979876/sinyal-siklus-pengetatan-2018-berulang-bi-rate-550-belum-jadi-akhir