Indonesia Kekurangan Talenta Berbakat di Bidang Manufaktur Semikonduktur (Cip)

Indonesia Kekurangan Talenta Berbakat di Bidang Manufaktur Semikonduktur (Cip)

Indonesia menghadapi kekurangan talenta di industri semikonduktor, menghambat investasi. Fokus pada pengembangan SDM, infrastruktur, dan kebijakan diperlukan untuk bersaing.

(Bisnis.Com) 09/06/26 10:25 244377

Bisnis.com, JAKARTA — Direktur Eksekutif Indonesia Information and Communication Technology (ICT) Institute Heru Sutadi berpendapat, konsistensi kebijakan serta ketersediaan talenta yang sesuai kebutuhan industri, menjadi faktor utama investor semikonduktor lebih tertarik menanamkan modalnya ke Singapura, Malaysia, dan Vietnam, ketimbang ke Indonesia.

Investor semikonduktor, kata dia, tidak hanya mempertimbangkan insentif pajak, tetapi juga kepastian usaha, infrastruktur yang andal, serta dukungan pemerintah dalam jangka panjang.

Akibatnya, kesenjangan Indonesia dengan negara-negara tersebut semakin lebar. Malaysia dan Singapura telah menjadi bagian penting dari rantai pasok semikonduktor global, sementara Vietnam berhasil menarik investasi dari sejumlah perusahaan chip dunia. Sementara itu, Indonesia masih berada pada tahap membangun fondasi industri.

"Kesenjangannya kianlebar. Namun jika pemerintah, industri, dan perguruan tinggi bergerak bersama, ketertinggalan itu masih bisa diperkecil dalam beberapa tahun ke depan," katanya kepada Bisnis, Senin (8/6/2026).

Heru menilai peluang Indonesia untuk masuk ke industri semikonduktor masih terbuka seiring meningkatnya permintaan chip global yang didorong perkembangan kecerdasan buatan (AI), kendaraan listrik, pusat data, dan perangkat digital.

Namun, Indonesia harus segera membenahi berbagai hambatan yang selama ini mengurangi daya tarik investasi, mulai dari keterbatasan SDM spesialis semikonduktor, belum lengkapnya rantai pasok industri, hingga kepastian regulasi dan arah kebijakan yang dinilai masih belum jelas.

"Investor tidak hanya melihat lokasi pabrik. Mereka juga melihat ketersediaan SDM, pemasok komponen, infrastruktur, listrik yang andal, dan kepastian regulasi. Di banyak aspek itu Indonesia masih perlu memperkuat diri," tegasnya.

Dia juga menilai, kualitas SDM Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk mendukung industri teknologi tinggi. Akan tetapi, jumlah tenaga ahli yang memiliki spesialisasi semikonduktor masih terbatas sehingga perlu diperkuat melalui pendidikan, pelatihan industri, dan kolaborasi dengan perusahaan global.

"Banyak SDM Indonesia di luar negeri yang bertanya apakah Indonesia benar-benar serius masuk ke industri semikonduktor. Kalau serius, mereka tidak ragu untuk kembali dan membantu membangun ekosistem semikonduktor nasional," tambah Heru.

Senada, Ekonom CORE Yusuf Randy Manilet menjelaskan, ketersediaan talenta teknis, terutama insinyur mikroelektronika yang terbentuk melalui pengalaman industri bertahun-tahun menjadi faktor penentu keberhasilan ketiga negara sebagai pusat rantai pasok semikonduktor global.

“Kita masih kekurangan insinyur mikroelektronika, fasilitas cleanroom, laboratorium pengujian, dan kapasitas riset,” ucapnya.

Keberadaan rantai pasok domestik yang kuat juga menjadi penentu, sehingga perusahaan tidak bergantung penuh pada impor komponen dan jasa pendukung. Di titik inilah menurut Yusuf, Indonesia masih tertinggal.

Kendati begitu, Yusuf menilai peluang Indonesia belum tertutup. Permintaan chip global diperkirakan terus meningkat seiring perkembangan kecerdasan buatan (AI), kendaraan listrik, pusat data, dan perangkat digital.

Untuk itu, strategi Indonesia dinilai perlu lebih realistis dengan tidak langsung mengejar fabrikasi chip tercanggih yang membutuhkan investasi puluhan miliar dolar AS.

Sebaliknya, Indonesia dapat memanfaatkan keunggulan yang dimiliki untuk masuk melalui industri material, assembly, testing, dan packaging (ATP), serta pengembangan desain chip yang membutuhkan modal lebih rendah.

“Peluang terbesar justru terletak pada posisi sebagai pelengkap ekosistem regional, bukan pesaing langsung,” imbuhnya.

Indonesia, lanjut Yusuf, bisa memasok material ke rantai pasok kawasan, menyediakan kapasitas tambahan untuk packaging dan testing, menarik relokasi manufaktur yang mencari biaya lebih kompetitif, sekaligus menjadi pasar utama bagi produk akhir. “Pendekatan ini jauh lebih realistis dibanding mencoba menyaingi Singapura, Malaysia, atau Vietnam secara langsung di bidang yang sudah mereka kuasai,” jelasnya.

Dari sisi kebijakan, prioritasnya menurut Yusuf cukup sederhana. Pemerintah harus membangun talenta dalam skala besar, memastikan pasokan energi yang andal, menyederhanakan regulasi, dan mengaitkan insentif fiskal dengan transfer teknologi yang nyata. Tantangan terbesar sebenarnya bukan pada penyusunan strategi, melainkan konsistensi pelaksanaannya.

Sementara itu, jika berbicara tentang peta jalan 10 hingga 20 tahun ke depan, Yusuf melihat prosesnya harus bertahap. Lima tahun pertama, pemerintah bisa fokus pada pengembangan talenta, desain chip, industri material, dan penguatan ATP.

Lima tahun berikutnya Indonesia bisa menargetkan posisi sebagai pusat packaging dan testing regional serta mulai menarik investasi untuk chip yang lebih sederhana seperti semikonduktor daya dan sensor. Setelah fondasi tersebut terbentuk, barulah bisa berbicara mengenai kemampuan fabrikasi yang lebih maju dan pengembangan kekayaan intelektual sendiri.

#indonesia-semikonduktor #talenta-manufaktur #kekurangan-talenta #investasi-semikonduktor #industri-semikonduktor #rantai-pasok-semikonduktor #talenta-teknologi #insinyur-mikroelektronika #pengembangan

https://teknologi.bisnis.com/read/20260609/84/1979487/indonesia-kekurangan-talenta-berbakat-di-bidang-manufaktur-semikonduktur-cip