Kadin: Mutu dan desain keramik nasional kian kompetitif skala global
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyatakan mutu dan desain keramik nasional semakin kompetitif di skala global, didukung peningkatan kualitas ...
(Antara) 08/06/26 23:36 244072
menciptakan lapangan kerja serta memberikan nilai tambah yang bagus buat bangsa
Jakarta (ANTARA) - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyatakan mutu dan desain keramik nasional semakin kompetitif di skala global, didukung peningkatan kualitas produk serta inovasi industri yang mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional.
"Industri keramik dalam negeri secara kualitas, mutu dan design sudah sangat bersaing dengan keramik import dari luar negeri," kata Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kadin Indonesia Saleh Husin sebagaimana keterangan di Jakarta, Senin.
Penilaian tersebut disampaikan setelah dirinya menghadiri dan melihat langsung pameran industri keramik Indonesia yang berlangsung di NICE PIK 2 pada 4–7 Juni 2026 dan menampilkan beragam produk unggulan karya produsen nasional.
Dalam kesempatan itu, Saleh mengaku berdialog dengan sejumlah pemilik perusahaan, jajaran direksi industri keramik nasional, serta perwakilan Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) mengenai perkembangan sektor tersebut.
Ia menilai industri keramik nasional telah berkembang cukup baik serta memberikan kontribusi penting terhadap perekonomian melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan investasi, dan nilai tambah bagi industri manufaktur dalam negeri.
"Ya saya kira industri ini sudah berkembang cukup bagus dan menciptakan lapangan kerja serta memberikan nilai tambah yang bagus buat bangsa kita," ucapnya.
Saleh berharap industri keramik nasional terus diperkuat agar mampu mempertahankan daya saingnya serta tidak tergerus oleh produk impor maupun tekanan biaya produksi yang semakin meningkat.
"Jangan sampai industri ini mati dan tergerus oleh produk import serta harga energi yang sudah terlalu tinggi," tutur Saleh.
Menurut Saleh, pembangunan yang sedang dilaksanakan oleh pemerintah seperti sekolah rakyat dan rencana pembangunan 3 juta rumah turut memberikan angin segar buat industri keramik dalam negeri.
Meski menunjukkan daya saing yang semakin kuat, Saleh menuturkan industri keramik nasional masih menghadapi tantangan berupa tingginya biaya energi yang berpotensi mempengaruhi keberlanjutan pertumbuhan sektor tersebut.
Menurut Saleh, salah satu persoalan utama yang dihadapi pelaku usaha saat ini adalah harga gas industri yang dinilai belum sepenuhnya mendukung peningkatan daya saing industri manufaktur dalam negeri.
Ia menjelaskan industri keramik merupakan salah satu penerima program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) sebesar 7 dolar AS per MMBTU yang selama ini menjadi instrumen penting dalam menjaga efisiensi biaya produksi.
Namun, dalam implementasinya, sebagian pelaku industri hanya memperoleh sekitar 40 persen kebutuhan gas dengan skema HGBT, sementara sisanya harus dipenuhi melalui pembelian gas dengan harga pasar yang jauh lebih tinggi.
Kondisi tersebut mendorong pelaku usaha berharap adanya optimalisasi kebijakan energi agar industri keramik dapat terus tumbuh, meningkatkan kapasitas produksi, serta memperkuat daya saing produk nasional di pasar domestik maupun global.
Karena itu, Saleh berharap dukungan terhadap sektor keramik terus diperkuat sehingga industri nasional dapat memanfaatkan potensi bahan baku yang melimpah dan semakin kokoh sebagai tuan rumah di pasar sendiri.
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026