Kinerja Positif di Tengah Tekanan Ekspor Satu Pintu, Begini Prospek Bisnis MINE Versi Analis
MINE di sepanjang tiga bulan pertama 2026 ini berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp676,19 miliar.
(IDX-Channel) 05/06/26 18:55 241476
IDXChannel - Ekosistem bisnis pertambangan sejauh ini masih terus dalam tekanan, seiring kebijakan baru pemerintah terkait sentralisasi ekspor lewat PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Tak hanya menyasar perusahaan tambang, tantangan juga dirasakan oleh para pelaku industri pertambangan, tak terkecuali bidang jasa penunjang dan kontraktor pertambangan, yang selama ini digeluti oleh PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE).
"Dengan tantangan yang ada, memang kita perlu melihat (emiten) secara fundamentalnya, sebagai bentuk kehati-hatian di tengah dinamika yang sedang terjadi di pasar, terutama untuk saham-saham berbasis komoditas (pertambangan)," ujar Kepala Riset Praus Capital, Alfred Nainggolan, dalam keterangan resminya, Jumat (5/6/2026).
Dengan pendekatan tersebut, menurut Alfred, saham MINE masih menunjukkan fundamental kinerja yang cukup kuat, di mana capaian di triwulan I-2026 tidak hanya pertumbuhan operasional yang berkelanjutan, namun juga peningkatan likuiditas dan perbaikan struktur permodalan Perseroan.
Sebagaimana telah disampaikan lewat Laporan Keuangan Perseroan, MINE di sepanjang tiga bulan pertama 2026 ini berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp676,19 miliar.
Capaian tersebut meningkat 18,1 persen dibandingkan realisasi pendapatan pada periode sama tahun sebelumnya, yang masih sebesar Rp572,8 miliar.
Sementara, laba usaha tercatat sebesar Rp87,98 miliar dan laba periode berjalan sebesar Rp61,95 miliar.
Bagi Alfred, yang menarik dari catatan kinerja MINE bukan hanya soal pertumbuhan pendapatan, melainkan kualitas pertumbuhan tersebut, yang tercermin dari kemampuan Perseroan menghasilkan kas dan memperbaiki struktur modal.
Salah satu indikatornya terlihat dari posisi kas dan setara kas yang meningkat menjadi Rp346,07 miliar pada akhir Maret 2026, dibandingkan Rp169,32 miliar pada akhir 2025.
Kenaikan ini memperkuat fleksibilitas keuangan Perseroan dalam mendukung kebutuhan operasional maupun pengelolaan kewajiban.
"Likuiditas yang kuat menjadi faktor penting, khususnya di sektor jasa pertambangan yang membutuhkan modal kerja dan belanja modal yang relatif besar. Peningkatan kas yang signifikan menunjukkan kapasitas perusahaan dalam menjaga ketahanan keuangan," ujar Alfred.
Dari sisi struktur permodalan, MINE juga mencatat perbaikan setelah melunasi pinjaman bank jangka pendek yang sebelumnya masih tercatat pada akhir 2025.
Langkah tersebut turut mendorong penurunan debt-to-equity ratio (DER) menjadi sekitar 0,67 kali pada akhir Maret 2026, dibandingkan sekitar 0,87 kali pada akhir tahun lalu.
"Penurunan leverage menunjukkan ketergantungan terhadap pembiayaan berbasis utang semakin terkendali. Struktur modal yang lebih sehat memberikan kemampuan yang lebih besar bagi perusahaan untuk menghadapi ketidakpastian pasar," ujar Alfred.
Selain itu, kemampuan operasional Perseroan juga dinilai tetap terjaga. EBITDA kuartal I 2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp210,6 miliar dengan EBITDA margin sekitar 31 persen, mencerminkan kemampuan bisnis inti dalam menghasilkan profitabilitas yang solid.
Pada harga saat ini , saham MINE memiliki valuasi yang murah dengan PE (Annulized) Ratio hanya sebesar 3,6x dan PBV sebesar 0,9x.
Secara valuasi, MINE juga masih sangat menarik untuk sebuah emiten yang punya pertumbuhan yang solid. Selain dari sisi pertumbuhan, perolehan dividen yield juga menarik. Dengan level PE tersebut, potensi dividen yield tahun buku 2026 bisa diatas 8 persen-an.
Alfred menilai, kombinasi antara pertumbuhan usaha, peningkatan likuiditas, penurunan leverage, dan profitabilitas yang tetap kuat menunjukkan kualitas fundamental MINE yang semakin baik.
Hal ini semakin diperkuat dengan kemampuan Perseroan dalam membagikan dividen kepada pemegang saham meski baru satu tahun IPO. Hal ini menjadi sinyal bahwa Perseroan memiliki kondisi keuangan dan kapasitas arus kas yang cukup solid untuk mendukung pertumbuhan usaha sekaligus memberikan imbal hasil kepada pemegang saham.
"Ketika perusahaan mampu menjaga profitabilitas sekaligus memperkuat neraca, profil risikonya menjadi lebih sehat. Ini menjadi faktor yang umumnya mendapat perhatian investor dalam menilai keberlanjutan pertumbuhan jangka panjang," ujar Alfred.
(taufan sukma)
#pt-sinar-terang-mandiri-tbk #mine #ekspor #tambang #kontraktor #praus-capital