BEI Angkat Bicara Soal Isu Krisis Kepercayaan di Pasar Modal RI
BEI dan OJK berupaya memulihkan kepercayaan investor di pasar modal RI setelah IHSG turun 30% akibat krisis kepercayaan. Reformasi dan transparansi ditingkatkan.
(Bisnis.Com) 05/06/26 14:34 241105
Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan regulator pasar modal mengerahkan upaya maksimal untuk menjaga kepercayaan investor. Adapun, isu kepercayaan ini mencuat setelah MSCI memberikan peringatan pada awal tahun ini.
Berdasarkan data BEI, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah terpangkas lebih dari 30% sejak awal tahun dengan torehan net sell asing Rp57,63 triliun per penutupan pasar Kamis 4 Juni 2026.
Menjawab hal tersebut, Pjs. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa reformasi pasar modal yang dilakukan BEI bersama OJK ditujukan untuk memulihkan kepercayaan investor, baik domestik maupun asing.
"Dengan kita meningkatkan transparansi, kita meningkatkan granularisasi dari data, kita memberikan informasi terkait dengan high shareholding concentration, itu seluruhnya adalah upaya kita untuk meningkatkan kembali kepercayaan investor kepada pasar kita," kata Jeffrey merespons pertanyaan Bisnis di Kantor BEI, Jakarta, Kamis (5/6/2026).
Adapun secara fundamental, PDB nasional kuartal I/2026 masih tumbuh 5,61% year on year (YoY), sedangkan persentase jumlah perusahaan tercatat yang sukses mencatat laba bersih per kuartal I/2026 mencapai 80%, menjadi capaian tertinggi dalam 5 tahun terakhir. Ini artinya, penyebab koreksi pasar saham dominan ditekan oleh kepercayaan investor.
Bulan Juni sendiri menjadi waktu yang krusial. Apabila IHSG secara bulanan ditutup koreksi, ini akan menyamai rekor krisis finansial global 2008 silam saat indeks komposit melemah dalam 6 bulan beruntun.
Di sisi lain, otoritas bursa bakal menetapkan jajaran direksi baru periode 2026-2030. Pengumuman Direksi BEI baru dilakukan paling lambat 7 hari sebelum pelaksanaan RUPST BEI pada 29 Juni 2026, berarti maksimal 22 Juni 2026. Wajah baru pimpinan bursa efek nanti setidaknya bisa memberi sedikit harapan untuk pemulihan kepercayaan pasar.
Sebagai salah satu kandidat yang mencalonkan diri, Jeffrey mengatakan pihaknya akan mengikuti ketentuan OJK. Ihwal kepercayaan pasar, dia menegaskan bahwa hal ini perlu kolaborasi lintas sektoral.
"Tentu kita bersama-sama melakukan segala upaya yang bisa kita lakukan, tadi saya sampaikan, untuk bisa memulihkan kepercayaan tersebut," tandasnya.
Sebelumnya, pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana mengatakan koreksi tajam IHSG sepanjang tahun ini menjadi sinyal bahwa pasar sedang mengalami krisis kepercayaan yang cukup serius.
Menilik data, menurutnya penurunan ini bukan semata-mata dipicu oleh faktor eksternal seperti memanasnya kembali konflik AS-Iran yang mendorong harga minyak dunia mendekati US$100 per barel, tetapi juga diperberat oleh berbagai sentimen domestik yang belum menemukan titik terang.
Pelemahan rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS, kekhawatiran terhadap kebijakan ekspor satu pintu, serta terus berlanjutnya arus keluar dana asing membuat investor memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di Indonesia.
"Di tengah bursa Asia yang mayoritas justru menguat, kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar domestik lebih banyak berasal dari faktor internal dibandingkan eksternal," tegas Hendra.
Pernyataan optimisme pejabat negara rupanya juga tak bisa membendung jatuhnya IHSG lebih dalam. Hendra bilang, pasar pada dasarnya tidak bergerak berdasarkan pidato atau pernyataan optimistis semata, melainkan berdasarkan persepsi terhadap risiko dan prospek ke depan.
Menurutnya, ketika pemerintah menyampaikan bahwa fundamental ekonomi masih kuat, namun pada saat yang sama rupiah terus melemah, IHSG menjadi salah satu indeks dengan kinerja terburuk di dunia tahun ini, dan investor asing terus melakukan aksi jual, maka muncul kesenjangan antara narasi dan realitas pasar.
"Kepercayaan investor merupakan aset yang sangat mahal nilainya. Ketika kepastian kebijakan berkurang dan pelaku pasar kesulitan memproyeksikan arah ekonomi ke depan, investor cenderung memilih menunggu atau bahkan memindahkan dananya ke negara lain yang dianggap lebih stabil," jelasnya.
Hendra mengatakan volatilitas pasar akan tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan selama arus keluar asing masih berlangsung dan belum ada katalis positif yang mampu mengembalikan kepercayaan investor global. Meski demikian, kondisi saat ini menurutnya tidak serta-merta harus disikapi dengan kepanikan.
Dari sisi valuasi, banyak saham unggulan yang dia lihat sebenarnya sudah mengalami koreksi yang sangat dalam sehingga mulai memasuki area yang menarik untuk investasi jangka panjang. Namun, investor juga perlu menyadari bahwa pasar yang sedang mengalami krisis sentimen sering kali bergerak tidak rasional dalam jangka pendek.
"Pada akhirnya, pemulihan pasar tidak hanya membutuhkan stabilisasi rupiah atau meredanya konflik global, tetapi juga membutuhkan kembalinya kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi domestik. Pasar membutuhkan kepastian, konsistensi, dan langkah konkret yang mampu meyakinkan pelaku pasar bahwa risiko dapat dikelola dengan baik," pungkasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#berita-pasar-modal #krisis-kepercayaan #bursa-efek-indonesia #investor-asing #ihsg-terpangkas #reformasi-pasar-modal #kepercayaan-investor #transparansi-pasar-modal #otoritas-bursa #direksi-baru-bei #n-a