Importir Cina Disebut Tunda Beli Batu Bara RI, GEMS, ITMG hingga AADI Terdampak
Kabar importir Cina menunda pembelian batu bara berasal Indonesia dinilaimbisa menggebuk operasional sejumlah emiten batu bara tanah air, khususnya yang menjadikan Cina sebagai negara tujuan ekspor.
(Katadata) 05/06/26 05:20 240543
Kabar importir Cina menunda pembelian batu bara berasal Indonesia dinilaimbisa menggebuk operasional sejumlah emiten batu bara tanah air, khususnya yang menjadikan Cina sebagai negara tujuan ekspor. Kabar itu mencuat setelah pemerintah resi memberlakukan kebijakan ekspor satu pintu lewat PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Merujuk informasi yang dilaporkan Bloomberg, China Coal Transportation and Distribution Association (CCTD) menyampaikan sejumlah importir Cina telah menunda pengiriman batu bara untuk bulan Juni. Langkah ini menyusul rencana pemerintah Indonesia memusatkan ekspor melalui Danantara.
Seiring dengan kabar tersebut, sejumlah saham industri batu bara tersebut terpantau melemah. Sejumlah emiten yang melakukan ekspor batu bara ke Cina antara lain adalah PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), hingga PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS).
Berdasarkan data bursa pada Kamis (5/6), harga saham AADI sempat tertekan ke Rp 7.875 sebelumnya akhirnya ditutup hijau di 8.025. Saham ITMG sempat terkoreksi 0,34% ke Rp 21.975 sebelum ditutup mendatang. Adapun GEMS anjlok 8,42% ke Rp 6.250 per saham.
Dalam laporan keuangan PTBA tahun buku 2025, perusahaan pelat merah ini mengekspor batu bara sebesar Rp 938,81 miliar dari total penjualan batu bara perseroan pada tahun penuh 2025 senilai Rp 42,65 triliun. Penjualan batu bara PTBA masih didominasi di pasar domestik dengan nilai mencapai Rp 20,94 triliun.
Lalu ada emiten milik konglomerat Garibaldi Thohir alias Boy Thohir yaitu PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Produsen raksasa batu bara tanah air ini menjadikan kawasan Asia Timur, termasuk Cina sebagai salah satu negara tujuan utama ekspor. Sepanjang 2025, AADI mengekspor batu bara ke Cina senilai US$ 603,5 juta dari total penjualan perseroan senilai US$ 4,9 miliar.
Kemudian ada PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang menjadi perusahaan energi dengan portofolio kuat ke negara-negara Asia, termasuk Cina. berdasarkan laporannya, Cina merupakan negara tujuan ekspor terbesar ITMG, mencapai US$ 562,27 juta dari total pendapatan sebesar US$ 1,88 miliar pada 2025.
Selanjutnya adalah emiten Grup Sinarmas yaitu PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS). Dilihat dari laporannya, GEMS menjadikan Cina sebagai negara tujuan ekspor batu bara terbesar dengan niali pendapatan sebesar US$ 1,21 miliar dari total pendapatan perseroan sebesar US$ 2,41 miliar.
Sebelumnya, pemerintah mulai memberlakukan tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam strategis melalui skema satu pintu lewat Danantara Sumberdaya Indonesia mulai Senin (1/6). Pada tahap awal, kebijakan tersebut akan mengatur tiga komoditas utama ekspor Indonesia, yakni batu bara, kelapa sawit, dan ferro alloy atau besi paduan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kebijakan ini dijalankan secara bertahap dan menjadi bagian dari perbaikan tata kelola ekspor sumber daya alam strategis.
“Pelaksanaan kebijakan ini pada tahap awal dimulai pada tiga komoditas strategis yang merupakan tiga komoditas ekspor terbesar Indonesia, yaitu batu bara, kelapa sawit, dan ferroalloy,” ujar Airlangga dalam konferensi pers di Wisma Danantara, Minggu (31/5).
Menurut Airlangga, kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden dalam rapat paripurna DPR RI pada Mei lalu untuk memperkuat pengelolaan sumber daya alam serta memastikan manfaat ekspor memberi nilai tambah lebih besar bagi perekonomian nasional.
Pemerintah berharap skema satu pintu dapat memperkuat pengawasan dan validasi data perdagangan komoditas, sekaligus mencegah praktik under invoicing, transfer pricing, hingga pelarian devisa hasil ekspor.
“Dengan demikian nilai ekspor yang tercatat benar-benar menggambarkan transaksi yang sebenarnya, sehingga kewajiban kepada negara dan penerimaan negara dapat lebih optimal,” kata Airlangga.