Rupiah Tembus Level Rp18.000, Alfamart (AMRT) Beri Sinyal Kenaikan Harga Produk

Rupiah Tembus Level Rp18.000, Alfamart (AMRT) Beri Sinyal Kenaikan Harga Produk

Alfamart (AMRT) menyoroti risiko kenaikan harga produk imbas pelemahan rupiah ke level Rp18.000 per dolar AS.

(Bisnis.Com) 05/06/26 05:15 240539

Bisnis.com, JAKARTA — PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) mewaspadai dampak pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus Rp18.000 per dolar AS terhadap kinerja bisnis perseroan pada 2026.

Corporate Secretary AMRT Tomin Widian mengatakan meski tetap optimistis berekspansi, perusahaan mengakui tantangan bisnis ritel masih cukup besar. Tomin utamanya menyoroti pelemahan daya beli masyarakat serta penguatan dolar AS yang menekan nilai tukar rupiah.

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga dari pemasok yang selama ini masih berupaya menahan penyesuaian harga produk.

"Kami sudah mendapat informasi dari beberapa supplier mengenai kemungkinan terjadinya kenaikan harga. Tantangannya adalah daya beli masyarakat belum terlalu kuat, sementara harga barang kemungkinan tidak bisa bertahan pada level saat ini," ujarnya dalam Public Expose yang digelar Kamis (4/6/2026).

Di tengah tekanan daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya, pelemahan rupiah, dan potensi kenaikan harga dari pemasok, manajemen tetap optimistis dapat mempertahankan pertumbuhan kinerja pada tahun ini.

Tomin mengakui tantangan yang dihadapi industri ritel pada 2026 tidak mudah. Namun hingga saat ini perusahaan masih mempertahankan target bisnis yang telah ditetapkan dan belum melakukan revisi anggaran.

"Kita masih stick dengan budget kamu. Kita belum melakukan adjustment. Walaupun banyak tantangan, kita masih mengupayakan yang terbaik untuk bisa mencapai target-target tersebut," ujarnya.

Meski tidak merinci target pendapatan maupun laba bersih, manajemen berharap kinerja tahun ini setidaknya tidak lebih rendah dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya.

"Yang bisa saya sampaikan, kami mengupayakan hasil yang lebih baik dibandingkan 2025," kata Tomin.

Sementara itu, Presiden Direktur AMRT, Hans Prawira menilai tantangan terbesar industri ritel saat ini berasal dari melemahnya daya beli masyarakat dan penguatan dolar AS yang berpotensi mendorong kenaikan harga barang dari pemasok.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, perusahaan mengandalkan pemanfaatan data pelanggan guna menghadirkan promosi yang lebih tepat sasaran dan relevan dengan kebutuhan konsumen.

"Kami percaya data memberikan visibilitas yang lebih baik terhadap perilaku konsumen. Dengan begitu, kami bisa memberikan penawaran yang lebih relevan dan meningkatkan loyalitas pelanggan, terutama di tengah kondisi ekonomi yang menantang," ujarnya.

Sepanjang 2026, AMRT menargetkan pembukaan hingga 1.080 toko baru pada 2026, termasuk ekspansi agresif di pasar internasional. Selain membuka 800 gerai baru di Indonesia, perseroan juga membidik penambahan 200-250 toko di Filipina dan sekitar 30 toko di Bangladesh sebagai bagian dari strategi memperluas jejak bisnis di luar negeri.

Emiten milik pengusaha Djoko Susanto ini tercatat membukukan laba yang diatribusikan ke pemilik entitas induk pada kuartal I/2026 sebesar Rp1,08 triliun atau meningkat 10,3% dibandingkan laba bersih kuartal I/2025 senilai Rp975,12 miliar.

Sejalan dengan laba bersih, pendapatan bersih perseroan tumbuh 7,5% secara tahunan menjadi Rp35,24 triliun atau dibandingkan dengan pada kuartal I/2025 sebesar Rp32,77 triliun.

#rupiah-melemah #rupiah-anjlok #alfamart-naikkan-harga-barang #alfamart #amrt #ekspansi-aflamart #daya-beli #bisnis-ritel #emiten-ritel #efek-pelemahan-rupiah #dampak-pelemahan-rupiah

https://market.bisnis.com/read/20260605/192/1978518/rupiah-tembus-level-rp18000-alfamart-amrt-beri-sinyal-kenaikan-harga-produk