Permintaan Valas Domestik Tinggi Tambah Beban Rupiah Jatuh ke Rp18.000 per Dolar AS

Permintaan Valas Domestik Tinggi Tambah Beban Rupiah Jatuh ke Rp18.000 per Dolar AS

Rupiah melemah ke Rp18.000 per dolar AS akibat tensi geopolitik dan permintaan valas domestik tinggi. BI intervensi pasar untuk stabilisasi.

(Bisnis.Com) 04/06/26 14:10 239916

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa depresiasi nilai tukar rupiah yang kini sudah tembus Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik serta kebutuhan dolar yang tinggi di domestik.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global.

Alhasil, arus dana keluar dari negara-negara emerging markets seperti Indonesia. Selain itu, kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri (ULN).

"Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya," jelasnya melalui keterangan tertulis, Kamis (4/6/2026).

Selain itu, BI menyatakan bakal memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market untuk tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik.

Intervensi yang berkesinambungan, lanjut Destry, akan terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder.

Bank sentral juga menjanjikan bakal berkoordinasi dan berkomunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif.

Selain itu, BI mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar.

Kerja sama LCT ini sudah terjalin dengan China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT ini tercatat mengalami peningkatan di mana April sudah tembus US$22,7 miliar.

Nilai ini sudah lebih tinggi dari perolehan 2025 yakni US$25,7 miliar sepanjang tahun.

"Secara umum, pelemahan rupiah masih sejalan dengan regional, secara YTD melemah -7,44%. Cadangan devisa tetap terjaga di level US$146,2 miliar pada akhir April 2026," pungkasnya.

#rupiah-jatuh #nilai-tukar-rupiah #dolar-as #permintaan-valas #intervensi-bi #geopolitik-timur-tengah #inflasi-global #emerging-markets #repatriasi-dividen #utang-luar-negeri #suku-bunga #aliran-modal #n-a

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260604/9/1978406/permintaan-valas-domestik-tinggi-tambah-beban-rupiah-jatuh-ke-rp18000-per-dolar-as