OPINI: Pemulihan Kepercayaan Pasar untuk Rupiah & IHSG
Pemulihan kepercayaan pasar untuk Rupiah dan IHSG penting untuk menjaga stabilitas ekonomi Indonesia.
(Bisnis.Com) 04/06/26 06:45 239352
Bisnis.com, JAKARTA - Buku-buku klasik keuangan, seperti The Theory of Finance (1972) karya Eugene Fama dan Merton Miller, mengajarkan pasar keuangan—termasuk pasar valuta asing dan pasar modal pada dasarnya digerakkan oleh dua kelompok faktor utama, yaitu faktor teknikal dan faktor fundamental, baik secara terpisah maupun melalui kombinasi keduanya.
Faktor teknikal berkaitan dengan aspek-aspek mekanis pasar, seperti dinamika kurva permintaan dan penawaran, termasuk berbagai bentuk intervensi maupun insentif yang dapat memengaruhi keseimbangan tersebut. Sementara itu, faktor fundamental terkait kondisi dasar ekonomi dan keuangan, seperti tingkat inflasi, pertumbuhan ekonomi, cadangan devisa, maupun kekuatan finansial yang menopang nilai suatu mata uang atau instrumen keuangan.
Namun, di luar kedua faktor tersebut terdapat faktor ketiga yang seringkali kurang mendapatkan perhatian, yaitu faktor psikologikal. Penjelasan mengenai hal ini dapat ditemukan antara lain dalam buku The Alchemy of Finance (1987) karya George Soros melalui apa yang dikenal sebagai Teori Refleksivitas (Theory of Reflexivity). Teori ini menyatakan persepsi dan bias para pelaku pasar tidak sekadar mencerminkan realitas, melainkan dapat memengaruhi dan bahkan membentuk realitas itu sendiri.
Dalam pengertian tersebut, sentimen pasar dan perilaku pasar yang tidak selalu rasional (irrational market behavior) menjadi elemen penting yang dapat menggerakkan harga aset keuangan. Keduanya sering kali dipicu oleh meningkatnya kecemasan (anxiety) dan kebingungan (confusion) mengenai prospek masa depan, sehingga pasar bereaksi bukan hanya terhadap fakta yang ada saat ini, tetapi juga terhadap ekspektasi mengenai apa yang mungkin terjadi di kemudian hari.
Selama 12 bulan terakhir, yakni periode Mei 2025—Mei 2026, IHSG bergerak dengan volatilitas yang cukup tajam dan membentuk pola menyerupai kurva terbalik, yaitu mengalami kenaikan signifikan sebelum kemudian terkoreksi cukup dalam. Secara rata-rata, pelemahan indeks selama periode tersebut berada pada kisaran 10%—14%, dengan posisi penutupan pada 26 Mei 2026 sebesar 6.130,19. Pada periode yang sama, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat membentuk tren pelemahan lebih landai tetapi konsisten. Dalam kurun waktu dua 12 terakhir, nilai tukar rupiah terdepresiasi sekitar 8%—9%, sehingga pada 26 Mei 2026 berada di level Rp17.789 per dolar AS.
Di sisi lain, dua lembaga pemeringkat internasional, Moody’s dan Fitch Ratings, masing-masing telah menurunkan prospek (outlook) kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif pada Februari dan Maret 2026. Meskipun demikian, keduanya tidak menurunkan peringkat kredit Indonesia yang tetap berada pada kategori investment grade. Sementara itu, S&P Global Ratings masih mempertahankan prospek kredit Indonesia pada level stabil.
Fakta bahwa tidak terjadi rating downgrade menunjukkan tingkat kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia dan prospek jangka panjangnya pada dasarnya masih relatif terjaga. Namun, perubahan outlook tersebut dapat dibaca sebagai sinyal meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap berbagai risiko jangka menengah yang dinilai berpotensi memengaruhi kualitas fundamental ekonomi di masa depan.
Setidaknya terdapat lima faktor risiko utama yang menjadi perhatian pasar. Pertama, meningkatnya risiko fiskal. Kedua, bertambahnya ketidakpastian dalam tata kelola pemerintahan. Ketiga, kecenderungan meningkatnya sentralisasi dalam proses perumusan kebijakan. Keempat, potensi pelebaran defisit anggaran. Dan kelima, penerimaan negara yang dinilai relatif lemah dibandingkan kebutuhan pembiayaan yang terus meningkat.
Kelima faktor risiko tersebut pada akhirnya memberikan tekanan yang signifikan terhadap pasar keuangan. Namun, tekanan tersebut utamanya tidak berasal dari pelemahan fundamental ekonomi yang terjadi secara mendadak, melainkan lebih disebabkan oleh meningkatnya premi risiko (risk premium) yang kemudian mendorong memburuknya persepsi investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.
Di sinilah letak persoalan yang paling penting untuk dipahami. Pasar pada umumnya tidak hanya memperhatikan kondisi fundamental saat ini melainkan menilai bagaimana kemungkinan kondisi fundamental tersebut berkembang di masa depan. Dengan kata lain, pasar tidak hanya melihat apa yang sedang terjadi hari ini, tetapi juga menghitung probabilitas memburuknya kondisi di masa mendatang. Karena itu, kepanikan pasar tidak selalu muncul ketika kondisi ekonomi sedang memburuk. Kepanikan justru sering kali terjadi ketika pasar mulai meragukan keberlanjutan (sustainability) dari kondisi yang saat ini masih terlihat baik.
Pada titik tersebut terbentuk hubungan yang erat antara psikologi investor dan ekspektasi terhadap fundamental masa depan. Reaksi pasar kemudian menjadi hasil dari kombinasi berbagai faktor seperti sentimen, posisi investasi (positioning), likuiditas global, perbedaan tingkat suku bunga, siklus komoditas, arah kebijakan fiskal (fiscal trajectory), serta alokasi investasi global yang dipengaruhi dinamika geopolitik.
Langkah-langkah yang dapat ditempuh antara lain adalah meningkatkan transparansi dan konsistensi kebijakan, memperkuat kepastian regulasi, menurunkan tekanan terhadap defisit anggaran, serta melakukan evaluasi ulang terhadap proyek-proyek prioritas yang memerlukan alokasi dana sangat besar. Pada saat yang sama, komunikasi kebijakan juga perlu disampaikan secara lebih kredibel, terukur, dan mampu menjawab kekhawatiran yang berkembang di pasar, alih-alih membangun narasi yang terkesan konfrontatif atau mengedepankan target-target yang sulit diverifikasi.
Karena itu, solusi yang semata-mata bertumpu pada intervensi teknikal di pasar valuta asing maupun pasar surat berharga negara berpotensi tidak memadai apabila tidak disertai upaya memulihkan kepercayaan investor. Intervensi teknikal mungkin dapat meredam gejolak dalam jangka pendek, tetapi belum tentu mampu mengubah persepsi risiko yang menjadi sumber tekanan utama. Selain itu, pendekatan semacam itu juga memerlukan sumber daya finansial yang besar.
Pada akhirnya, pasar keuangan adalah arena tempat fakta dan persepsi saling berinteraksi. Ketika tekanan pasar lebih banyak didorong oleh persepsi risiko dibandingkan oleh kerusakan fundamental yang nyata, maka pemulihan kepercayaan menjadi sama pentingnya dengan perbaikan fundamental itu sendiri. Dalam konteks inilah Teori Refleksivitas George Soros memberikan pelajaran yang relevan: persepsi yang memburuk dapat menciptakan realitas yang memburuk, tetapi sebaliknya, persepsi yang membaik juga dapat membantu menciptakan realitas yang lebih baik. Oleh karena itu, upaya memperkuat IHSG dan rupiah pada akhirnya bukan hanya soal menjaga stabilitas ekonomi, melainkan juga soal membangun kembali keyakinan bahwa stabilitas tersebut dapat dipertahankan secara berkelanjutan di masa depan.
#rupiah #ihsg #pasar-keuangan #kepercayaan-pasar #fundamental-ekonomi #faktor-teknikal #faktor-fundamental #faktor-psikologikal #sentimen-pasar #perilaku-pasar #risiko-fiskal #defisit-anggaran #perseps