AS dan Iran Saling Serang, Gencatan Senjata Kian Rapuh
AS dan Iran kembali saling serang di Timur Tengah, memicu kekhawatiran atas nasib gencatan senjata dan stabilitas pasokan energi dunia.
(Kompas.com) 04/06/26 06:39 239341
JAKARTA, KOMPAS.com – Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali terlibat aksi saling serang yang memperburuk ketegangan di Timur Tengah serta menimbulkan keraguan terhadap keberlangsungan gencatan senjata yang berlaku sejak awal April 2026.
Eskalasi terbaru ini turut menyeret Kuwait dan Bahrain yang menjadi lokasi sejumlah serangan dalam konflik yang disebut sebagai salah satu gejolak paling serius sejak kedua negara menyepakati penghentian sementara permusuhan pada 8 April lalu.
Ketegangan meningkat setelah beberapa hari terakhir situasi kawasan kembali memanas, termasuk terkait operasi militer Israel terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon.
Kondisi tersebut mengancam proses perundingan antara Washington dan Teheran mengenai kesepakatan damai sementara.
Meski kedua pihak telah menyepakati kerangka dasar untuk memperpanjang gencatan senjata selama dua bulan serta membuka kembali Selat Hormuz, negosiasi mengenai rincian akhir masih berlangsung alot.
Kondisi keamanan yang memburuk turut memengaruhi pasar global. Harga minyak kembali menguat, sementara pasar saham melemah dan imbal hasil obligasi meningkat karena investor mencermati risiko inflasi akibat kenaikan biaya energi.
Serangan di Bahrain dan Kuwait
Mengutip Bloomberg, Kamis (4/5), Presiden AS, Donald Trump selama beberapa bulan terakhir berulang kali menyampaikan keyakinannya bahwa kesepakatan sementara dengan Iran dapat segera tercapai sebelum dilanjutkan dengan pembahasan mengenai program nuklir Teheran.
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan situasi di lapangan masih jauh dari stabil.
Militer AS menyatakan mendapat serangan rudal dan drone tidak lama setelah menyerang sebuah kapal tanker minyak kosong yang sedang menuju Iran pada Selasa (2/6/2026).
Sebagai balasan, Iran disebut menargetkan pangkalan utama Angkatan Laut AS di Bahrain serta Pangkalan Udara Ali Al-Salem di Kuwait.
Dalam insiden terpisah, sedikitnya satu orang tewas akibat serangan yang menghantam bandara sipil Kuwait. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan signifikan dan memaksa penghentian sementara operasional penerbangan selama beberapa jam.
Pemerintah AS juga menuduh Iran meluncurkan drone ke arah kapal-kapal komersial di kawasan. Sebagai respons, pasukan AS menyerang menara komunikasi di Pulau Qeshm, Iran, yang berada di dekat Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio mengatakan militer negaranya terus menembak jatuh drone Iran yang mengancam kapal-kapal komersial.
Menurut Rubio, Iran biasanya membalas tindakan tersebut dengan menyerang fasilitas-fasilitas AS atau sekutunya di kawasan.
Hubungan negara teluk memburuk
Kementerian Luar Negeri Iran menuduh serangan AS terhadap kapal tanker Iran dan Pulau Qeshm dilakukan dari wilayah Kuwait dan Bahrain.
Teheran menyatakan kedua negara tersebut memiliki tanggung jawab langsung atas tindakan Washington.
Kuwait membantah tuduhan itu dan mengusir dua diplomat Iran sebagai bentuk protes atas serangan terhadap bandara sipilnya.
Perkembangan tersebut memperlihatkan meningkatnya ketegangan hubungan antara Iran dan sejumlah negara Teluk yang selama ini menjadi mitra strategis AS.
Perbedaan sikap soal Lebanon
Di tengah upaya meredakan konflik, AS dan Israel juga menunjukkan perbedaan pandangan terkait perang di Lebanon.
Israel ingin melanjutkan operasi militernya terhadap Hizbullah, sedangkan Iran menuntut agar penghentian perang di Lebanon menjadi bagian dari kesepakatan sementara dengan AS.
Trump bahkan dilaporkan meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membatalkan rencana pengeboman terhadap Beirut dalam percakapan telepon yang berlangsung pada awal pekan ini.
Trump mengakui pembicaraan tersebut berlangsung tegang karena ia tidak setuju dengan operasi militer Israel yang terus berlanjut di Lebanon.
Meski demikian, Netanyahu menegaskan hubungan pribadinya dengan Trump tetap baik. Dalam wawancara dengan CNBC, ia menyebut Trump sebagai salah satu sahabat terbesar Israel yang pernah berada di Gedung Putih.
Selat Hormuz masih jadi titik krusial
Selat Hormuz tetap menjadi salah satu isu utama dalam negosiasi AS-Iran. Jalur pelayaran strategis tersebut biasanya menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia.
Arus pelayaran sempat merosot tajam setelah Iran mulai menyerang kapal-kapal di kawasan menyusul pecahnya konflik pada akhir Februari.
Dalam dua pekan terakhir, jumlah kapal yang melintas mulai meningkat. Sebagian di antaranya berkoordinasi dengan militer AS. Namun, volumenya masih jauh di bawah tingkat normal sebelum perang.
Sementara Trump menilai Iran sangat membutuhkan kesepakatan damai, pemerintah Iran menegaskan tetap siap menghadapi kemungkinan perang skala penuh apabila perundingan gagal mencapai hasil.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan komunikasi antara kedua negara masih berlangsung, tetapi belum menghasilkan kemajuan konkret dalam proses negosiasi.
Selain isu Lebanon dan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz, kedua negara juga masih berselisih mengenai sejumlah persoalan penting.
Iran meminta pencairan dana miliaran dollar AS yang saat ini dibekukan di beberapa negara, termasuk Qatar. Teheran juga menolak tekanan Washington untuk menyerahkan atau menghancurkan persediaan uranium yang telah diperkaya hingga tingkat tinggi.
Di tengah negosiasi yang berjalan lambat, sejumlah pejabat Barat juga memperingatkan bahwa risiko Iran mengembangkan senjata nuklir secara diam-diam dinilai lebih tinggi dibandingkan sebelum serangan militer pertama AS dan Israel terhadap negara tersebut setahun lalu.
Pemerintahan Trump pada saat yang sama memperluas tekanan ekonomi dengan menjatuhkan sanksi terhadap bursa kripto terbesar Iran dan tiga entitas lainnya.
Ketidakpastian mengenai masa depan Selat Hormuz juga mendorong sejumlah pemilik kapal tanker minyak asal Yunani mulai memindahkan armadanya lebih dekat ke Teluk Persia, dengan harapan aktivitas pelayaran dan tarif pengangkutan akan meningkat apabila jalur tersebut kembali dibuka sepenuhnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#selat-hormuz #donald-trump #perang-iran #konflik-timur-tengah #gencatan-senjata