Rupiah Tembus Rp17.930 per Dolar AS, Risiko Impor Minyak Makin Besar
Nilai tukar rupiah bergerak melemah tajam hingga menembus level Rp17.930 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu siang. Nilai tukar rupiah bergerak... | Halaman Lengkap
(SINDOnews Ekbis) 03/06/26 13:22 238649
JAKARTA - Nilai tukar rupiah bergerak melemah tajam hingga menembus level Rp17.930 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu siang. Depresiasi mata uang Garuda ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang berimplikasi pada membengkaknya kebutuhan valuta asing untuk membiayai impor energi nasional."Kita melihat bahwa kenaikan harga minyak mentah ini membuat permintaan dolar cukup tinggi, terutama untuk impor minyak yang begitu besar," ujar pengamat pasar uang Ibrahim Assu\'aibi dalam analisisnya, Rabu (3/6/2026).
Ibrahim menjelaskan, eskalasi konflik yang terus berlanjut di kawasan Timur Tengah menjadi motor utama di balik melesatnya harga minyak global. Situasi tersebut memaksa pemerintah domestik merogoh kocek valuta asing, khususnya dolar AS, dalam jumlah yang jauh lebih besar guna merampungkan transaksi impor komoditas energi demi memenuhi kebutuhan di dalam negeri.
Berdasarkan data perdagangan terkini, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) merangkak naik ke posisi 94,77 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah standar dunia jenis Brent juga melambung tinggi hingga menyentuh level 96,72 dolar AS per barel, yang secara langsung memperberat neraca pembayaran nasional.
Selain faktor beban impor energi, tekanan terhadap mata uang domestik kian diperparah oleh sentimen kebijakan moneter ketat dari AS. Lonjakan harga energi di negara paman sam tersebut diperkirakan bakal mengerek inflasi, sehingga mendorong Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi.
Apalagi, indikator pasar tenaga kerja di AS saat ini dilaporkan masih cukup solid. Kondisi tersebut membuat arah kebijakan moneter The Fed tidak diorientasikan pada mode ekspansi ekonomi, melainkan berfokus penuh untuk meredam laju inflasi agar tidak kembali bergejolak.
Dengan kondisi makroekonomi tersebut, The Fed diperkirakan masih membuka peluang besar untuk menaikkan suku bunga acuan setidaknya satu kali lagi pada tahun ini. Prospek pengetatan moneter tersebut berpotensi memperlebar selisih suku bunga (interest rate differential) dan memicu arus modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan domestik.
Adapun hingga pukul 11.00 WIB, kurs rupiah mencatatkan pelemahan sekitar 0,51% secara harian. Jika diakumulasikan, nilai tukar rupiah tercatat telah terdepresiasi hingga 9,9% secara tahunan (year-on-year) dan diproyeksikan masih akan dibayangi tekanan berlapis dalam jangka pendek.
(nng)
#rupiah #nilai-tukar-rupiah #dolar-amerika-serikat-usd #impor-minyak #apbn