Daftar Negara Pengguna Energi Nuklir Terbesar di Dunia, Siapa Juaranya?
Sejumlah negara di dunia masih mengandalkan energi nuklir sebagai sumber utama pembangkit listrik meski kontribusinya dalam bauran energi global cenderung menurun... | Halaman Lengkap
(SINDOnews Ekbis) 29/05/26 20:47 235358
JAKARTA - Sejumlah negara di dunia masih mengandalkan energi nuklir sebagai sumber utama pembangkit listrik meski kontribusinya dalam bauran energi global cenderung menurun dalam dua dekade terakhir. Di tengah transisi menuju energi bersih, nuklir tetap dinilai penting sebagai sumber energi rendah emisi yang stabil."Energi nuklir menghasilkan emisi karbon yang sangat rendah dan tetap menjadi bagian penting dalam bauran energi berkelanjutan, meskipun perannya masih memicu perdebatan global," demikian disampaikan dalam sejumlah laporan kajian energi global dikutip dari Star Insider, Jumat (29/5/2026).
Secara global, energi nuklir menyumbang sekitar 9% dari total produksi listrik dunia pada 2025, menjadi salah satu level terendah dalam abad ini. Meski demikian, sejumlah negara masih menjadikannya sebagai tulang punggung pasokan listrik nasional.
Prancis tercatat sebagai negara dengan ketergantungan tertinggi terhadap energi nuklir. Pada 2024, negara tersebut memproduksi 361,7 terawatt-hour (TWh) listrik dari nuklir atau sekitar 67% dari total kebutuhan listrik nasional, sekaligus menegaskan posisinya sebagai pemimpin global dalam pemanfaatan energi ini.
Ukraina menempati posisi berikutnya dengan kontribusi nuklir sekitar 60% terhadap kebutuhan listrik, meski menghadapi tekanan konflik dan ancaman terhadap infrastruktur energi. Slovakia juga mengandalkan nuklir dengan porsi lebih dari 54% dari total konsumsi listrik.
Negara-negara Eropa lainnya seperti Hungaria, Belgia, dan Republik Ceko mencatat kontribusi nuklir yang signifikan, berkisar antara 37% hingga 47% dari total produksi listrik. Finlandia turut memperkuat peran nuklir dengan kontribusi sekitar 38% dalam bauran listrik nasional.
Di kawasan Asia, Korea Selatan menunjukkan komitmen kuat dalam pengembangan energi nuklir dengan kontribusi sekitar 32,5% pada 2024 dan target peningkatan hingga 35% pada 2036. Sementara itu, China terus memperluas kapasitas pembangkit nuklir sebagai bagian dari strategi penurunan emisi karbon.
Amerika Serikat tetap menjadi produsen listrik nuklir terbesar secara absolut dengan 94 reaktor yang menghasilkan sekitar 782 miliar kilowatt-hour listrik pada 2024 atau sekitar 18,2% dari total produksi nasional. Inggris juga mempertahankan nuklir dalam strategi energinya melalui pengembangan pembangkit baru dan teknologi reaktor modular kecil.
Di sisi lain, Jepang mulai mengoperasikan kembali reaktor nuklir secara bertahap setelah sempat dihentikan pascakecelakaan Fukushima, sementara Pakistan memanfaatkan energi nuklir untuk memenuhi lebih dari 10% kebutuhan listriknya.
Meski menawarkan keunggulan berupa emisi rendah dan pasokan yang stabil, energi nuklir masih menghadapi tantangan, termasuk isu keselamatan, pengelolaan limbah, serta tingginya biaya investasi. Perdebatan mengenai risiko dan manfaatnya pun masih berlangsung di tingkat global.
Kapasitas pembangkit nuklir diproyeksikan akan terus bertambah untuk memenuhi kebutuhan energi yang meningkat. Hingga akhir 2024, kapasitas global telah mencapai sekitar 396 gigawatt, dengan ratusan gigawatt tambahan masih dalam tahap pembangunan dan perencanaan.
(nng)