Rupiah di Zona Waspada, Ekonom: Pasar Sedang Uji Kredibilitas Pemerintah

Rupiah di Zona Waspada, Ekonom: Pasar Sedang Uji Kredibilitas Pemerintah

Rupiah melemah signifikan hingga 17.870 per dollar AS. Dosen Unand ingatkan risiko krisis kepercayaan jika tembus Rp 20.000, butuh kebijakan konkret.

(Kompas.com) 28/05/26 15:31 234092

JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah di pasar spot semakin melemah pada awal perdagangan Kamis (28/5/2026).

Per pukul 09.48 WIB, rupiah melemah 69 poin atau 0,39 persen ke level 17.870 per dollar Amerika Serikat (AS).

Pada pukul 15.27 WIB, kurs rupiah berada di level Rp 17.835 per dollar AS, sedikit menguat dibandingkan posisi pagi ini.

PIXABAY/MOHAMAD TRILAKSONO Ilustrasi rupiah. Ekonom Ungkap Perbedaan Pelemahan Rupiah Era Prabowo dan BJ Habibie

Jika pelemahan rupiah hingga menembus level Rp 20.000 per dollar AS, maka kondisi itu berisiko memicu krisis kepercayaan pasar dan kepanikan di sektor keuangan maupun sektor riil.

Dosen Departemen Ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, mengatakan risiko terbesar yang perlu diwaspadai pemerintah bukan hanya inflasi atau kenaikan beban utang, melainkan hilangnya keyakinan pasar terhadap kemampuan otoritas menjaga stabilitas ekonomi.

“Jika rupiah menembus Rp 20.000 per dollar AS, risiko terbesar yang harus pemerintah waspadai adalah krisis kepercayaan pasar,” ujar Syafruddin kepada Kompas.com, Kamis (28/5/2026).

Menurut dia, inflasi dan beban utang memang akan ikut tertekan, tetapi keduanya bisa membesar ketika pelaku pasar mulai kehilangan kepercayaan terhadap kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia (BI).

Syafruddin menjelaskan pelemahan rupiah ke level Rp 20.000 dapat mendorong importir memburu dollar AS, eksportir menahan devisa hasil ekspor, investor meminta imbal hasil lebih tinggi, hingga rumah tangga kelas menengah mencari aset lindung nilai.

“Tekanan seperti itu dapat menciptakan lingkaran buruk: rupiah melemah, inflasi impor naik, biaya utang meningkat, dan premi risiko melonjak,” kata dia.

PIXABAY/DARNO BEGE Ilustrasi rupiah, uang rupiah. Kenapa rupiah terus melemah. Nilai tukar rupiah. Penyebab nilai tukar rupiah melemah. Apa yang terjadi jika rupiah melemah. Kenapa rupiah melemah.

Syafruddin menilai pemerintah harus membaca level Rp 20.000 bukan sekadar angka kurs, melainkan sinyal psikologis bahwa pasar sedang menguji kredibilitas kebijakan ekonomi nasional.

Ia mengingatkan sejarah krisis Indonesia menunjukkan kepanikan tidak selalu muncul pada satu level kurs tertentu, melainkan ketika pelemahan rupiah bergerak cepat dan otoritas dinilai kehilangan kendali.

“Pada 1997-1998, pelemahan rupiah berubah menjadi krisis karena pelaku usaha memiliki utang valas besar, perbankan rapuh, dan kebijakan kehilangan kredibilitas,” ujarnya.

Menurut Syafruddin, level psikologis seperti Rp 10.000, Rp 15.000, hingga Rp 16.000 per dollar AS pada masa lalu kerap dibaca publik sebagai simbol kegagalan stabilitas ekonomi.

Karena itu menurut Syafruddin, jika rupiah bergerak menuju Rp 20.000 per dollar AS, pemerintah dan BI diminta mencegah angka psikologis tersebut berubah menjadi kepanikan perilaku di sektor riil dan pasar keuangan.

Saat ini, lanjut Syafruddin, pelemahan rupiah juga sudah tidak bisa dianggap sebagai gejala ringan.

Rupiah yang berada di kisaran Rp 17.775 per dollar AS disebut sudah mendekati batas atas tahunan.

“Pasar forward yang mengarah ke kisaran Rp 18.000-Rp 18.200 menunjukkan tekanan ekspektasi sudah terbentuk,” ucap dia.

Meski pemerintah masih menyebut kondisi terkendali, Syafruddin menegaskan stabilitas harus dibuktikan lewat kebijakan konkret, bukan sekadar pernyataan.

“Pelemahan menjadi mengkhawatirkan ketika pasar mulai melihat BI ragu menaikkan suku bunga, fiskal melebar tanpa kualitas, dan komunikasi kebijakan tidak konsisten,” kata dia.

Menurut dia, jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut, BI dan pemerintah perlu lebih fokus menjaga stabilitas kurs dan ekspektasi inflasi dibanding terlalu agresif mengejar pertumbuhan ekonomi.

Ia menilai BI perlu menjaga kebijakan moneter yang kredibel melalui intervensi valas terukur dan menjaga likuiditas pasar.

Sementara pemerintah diminta memperbaiki kualitas belanja, menjaga defisit fiskal, serta memperkuat pasokan pangan dan energi.

“Dorongan pertumbuhan harus tetap berjalan, tetapi melalui kebijakan fiskal produktif dan perlindungan kelompok rentan, bukan tekanan terhadap BI agar melonggarkan kebijakan terlalu cepat,” tuturnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#dollar-as #stabilitas-ekonomi #rupiah-melemah #nilai-tukar-rupiah #krisis-kepercayaan-pasar

https://money.kompas.com/read/2026/05/28/153105426/rupiah-di-zona-waspada-ekonom-pasar-sedang-uji-kredibilitas-pemerintah