Rupiah Terus Tertekan, Lonjakan Harga Minyak dan Defisit Fiskal Jadi Sorotan

Rupiah Terus Tertekan, Lonjakan Harga Minyak dan Defisit Fiskal Jadi Sorotan

Nilai tukar rupiah terus melemah, tertekan oleh sentimen lonjakan harga minyak global dan kondisi fiskal dalam negeri.

(Bisnis.Com) 25/05/26 09:45 231019

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terus melanjutkan depresiasi. Sejumlah faktor seperti lonjakan harga minyak global sampai kondisi fiskal dalam negeri dinilai sebagai sentimen pemberat rupiah.

Melansir Trading Economic, rupiah melemah 0,11% atau 19,8 poin ke Rp17.717 per dolar AS pada perdagangan intraday 09.20 WIB hari Senin 25 Mei 2026. Level rupiah tersebut menunjukkan depresiasi sebesar 8,72% dalam setahun terakhir.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) di saat yang sama melemah 0,24% ke 99,01. Level indeks tersebut mencerminkan penguatan 0,52% dalam sebulan terakhir, atau secara tahunan melemah 0,10%. Trading Economics memperkirakan indeks dolar AS dalam kuartal II/2026 akan ada di level 99,03.

"Rupiah memperpanjang pelemahannya pada hari Jumat (22/5), melewati Rp17.700 per dolar AS karena indeks dolar bertahan mendekati level tertinggi dalam enam minggu, di tengah harga minyak yang tinggi, inflasi AS yang tetap tinggi, dan kenaikan imbal hasil Treasury," tulis Trading Economics, Senin (25/5/2026).

Di sisi lain, data domestik juga semakin menekan sentimen rupiah. Defisit transaksi berjalan triwulan I/2026 melebar menjadi US$4 miliar atau 1,1% dari PDB. Ini menjadi level terdalam dalam lebih dari enam tahun, dan menjadi sinyal kekhawatiran atas keseimbangan eksternal Indonesia.

Trading economics mencatat bahwa tekanan pada mata uang rupiah telah meningkat sejak April, akibat arus keluar modal, tekanan fiskal, dan risiko inflasi yang terkait dengan ketegangan di Timur Tengah.

"Kenaikan suku bunga yang lebih besar dari perkiraan oleh Bank Indonesia awal pekan ini memberikan sedikit bantuan, setelah pembuat kebijakan memperingatkan bahwa biaya energi yang lebih tinggi masih mengancam rupiah. Sementara itu, cadangan devisa telah turun sekitar US$10 miliar tahun ini hingga April akibat intervensi yang berkelanjutan," tulis laporan tersebut.

Dengan sentimen yang ada, diperkirakan rupiah akan melanjutkan tren depresiasi mingguan kedelapan tahun ini, mendekati pelemahan 6% secara year to date (YtD), meskipun bank sentral mengharapkan stabilisasi pada pertengahan tahun seiring meredanya tekanan musiman.

#rupiah-tertekan #harga-minyak-naik #defisit-fiskal #nilai-tukar-rupiah #depresiasi-rupiah #harga-minyak-global #kondisi-fiskal-indonesia #indeks-dolar-as #inflasi-as #imbal-hasil-treasury #defisit-tra

https://market.bisnis.com/read/20260525/93/1976212/rupiah-terus-tertekan-lonjakan-harga-minyak-dan-defisit-fiskal-jadi-sorotan