Mahalnya rasa percaya kepada perempuan pengusaha “ultra mikro”

Mahalnya rasa percaya kepada perempuan pengusaha “ultra mikro”

Sri Aryanti Nurafiah jarang sekali memulai pagi tanpa ketergesaan. Pembuat kerajinan gantungan kunci yang tinggal di Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat, itu ...

(Antara) 23/05/26 12:51 229900

Jakarta (ANTARA) - Sri Aryanti Nurafiah jarang sekali memulai pagi tanpa ketergesaan. Pembuat kerajinan gantungan kunci yang tinggal di Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat, itu selalu memutar otak untuk kelangsungan hidup dan usahanya.

Sebelum matahari terbit, ia sudah lebih dulu memikirkan banyak hal, termasuk apakah uang belanja cukup hingga akhir pekan, bagaimana memenuhi kebutuhan anak, dan apa yang bisa dilakukan agar penghasilan keluarga bertambah.

Dan selayaknya banyak perempuan lain di lingkungan padat Cikarang Barat, perempuan yang akrab disapa Yanti itu hidup dengan perhitungan yang sangat sederhana, tetapi melelahkan.

Setiap rupiah harus dijaga nilainya. Dalam kondisi seperti itu, keinginan membuka usaha sering terasa seperti kemewahan yang sulit dijangkau.

Dan di sela kesibukan mengurus rumah tangga, Yanti memang menyimpan satu kemampuan yang lama hanya menjadi pekerjaan kecil dari rumah, yakni terus membuat kriya gantungan kunci.

Ia melihat ada peluang dari keterampilan sederhana itu. Bukan untuk menjadi besar dalam waktu cepat, melainkan sekadar membantu dapur tetap menyala ketika penghasilan suaminya dirasa belum cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kalau hanya mengandalkan gaji suami, saya rasa kurang cukup. Saya ingin membuka usaha kriya-kriya, tapi dengan keterbatasan modal saya bimbang,” ujarnya.

Keraguan itu sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan banyak perempuan pengusaha ultra mikro di Indonesia. Mereka memiliki kemauan bekerja yang kuat, tetapi sering terhalang oleh sesuatu yang tampak sederhana bahwa tidak adanya akses dan rasa dipercaya.

Ketika ingin memulai usaha, mereka berhadapan dengan berbagai syarat yang sulit dipenuhi, mulai dari jaminan, aset, administrasi, hingga histori keuangan yang rapi. Sementara bagi masyarakat ultra mikro, bertahan hidup dari hari ke hari saja sudah menjadi perjuangan panjang.

Padahal kelompok inilah yang justru paling akrab dengan kerja keras. Mereka bangun paling pagi dan tidur paling akhir. Mereka memasak, mengurus rumah, menjaga anak, sambil tetap mencoba mencari tambahan penghasilan dari usaha kecil yang kadang, bahkan tidak dianggap sebagai usaha oleh banyak orang.

Karena itu, bagi pengusaha ultra mikro, akses pembiayaan tanpa jaminan sebenarnya bukan sekadar bantuan modal. Ada makna yang lebih dalam di dalamnya, yakni pengakuan bahwa mereka dianggap mampu berkembang dan layak dipercaya.


Program Mekaarpreneur

Perubahan itu mulai dirasakan Yanti pada 2022. Di tengah berbagai upaya memperluas akses keuangan bagi masyarakat kecil melalui semangat pemberdayaan UMKM, ia mendapatkan akses pembiayaan usaha dari PNM, salah satu badan usaha milik negara.

Modal tersebut langsung digunakan untuk membeli bahan baku usaha kriya yang selama ini sulit ia tambah karena keterbatasan biaya.

Usaha yang awalnya hanya dikerjakan sederhana dari rumah perlahan mulai berkembang. Pesanan bertambah, sedikit demi sedikit. Dari yang sebelumnya hanya mencoba bertahan, Yanti mulai berani membayangkan usaha yang lebih serius.

“Tak terpikirkan sebelumnya, ternyata usaha saya makin berkembang sampai saat ini. Modal saya juga makin ditambah oleh PNM, maka dari itu saya berani membuka lapak usaha saya,” katanya.

Cerita seperti ini mungkin terdengar sederhana, tetapi justru di situlah letak pentingnya. Banyak perubahan besar dalam kehidupan masyarakat kecil tidak lahir dari sesuatu yang spektakuler.

Perubahan sering dimulai dari hal yang sangat dasar, yakni adanya kesempatan untuk mencoba tanpa lebih dulu merasa kalah. Hal yang menarik, perubahan yang dirasakan Yanti ternyata tidak berhenti pada tambahan modal usaha.

Ia juga mendapatkan pendampingan dan pelatihan yang diterima, yang merupakan representasi hadirnya negara untuk rakyat, justru menjadi titik penting yang membuat usahanya berkembang lebih jauh.

Melalui program Mekaarpreneur, Yanti mendapatkan pelatihan gratis mengenai promosi, branding, packaging, hingga pemasaran digital.

Dari yang sebelumnya hanya menjual produk secara sederhana, kini ia mulai memanfaatkan platform digital, seperti TikTok dan Shopee untuk memperluas pasar.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa tantangan utama pengusaha ultra mikro hari ini bukan hanya soal modal, tetapi juga akses terhadap pengetahuan dan perubahan teknologi.

Kehadiran BUMN, termasuk PNM, untuk memberikan akses pembiayaan bagi usaha sangat membantu UMKM, sekaligus sebagai bentuk upaya pemberdayaan bagi mereka.

Banyak usaha kecil sebenarnya memiliki produk yang baik dan dikerjakan dengan ketekunan tinggi, tetapi tidak memiliki cukup kesempatan belajar mengenai pemasaran modern atau pemanfaatan platform digital.


Perluasan pasar

Ketika ruang belajar itu dibuka, hasilnya bisa sangat besar. Pengusaha kecil yang sebelumnya hanya menjual di lingkungan sekitar, mulai mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Mereka tidak lagi sekadar bertahan hidup, tetapi perlahan belajar membangun keberlanjutan usaha.

Lebih dari itu, pendampingan juga mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri. Banyak perempuan yang sebelumnya hanya merasa “membantu suami” mulai menyadari bahwa mereka juga memiliki kemampuan membangun usaha secara mandiri.

Rasa percaya diri yang tumbuh sering kali menjadi modal sosial yang jauh lebih penting dibanding angka pinjaman itu sendiri.

Yanti, bahkan berhasil menjadi Juara 2 Mekaarpreneur kategori nasabah naik kelas wilayah Bekasi-Jakarta. Sebuah pencapaian yang mungkin dulu terasa sangat jauh bagi seorang ibu rumah tangga yang memulai usaha dari ruang kecil di rumah dengan modal terbatas.

Cerita Yanti menunjukkan bahwa masyarakat kecil sejatinya tidak membutuhkan belas kasihan. Mereka membutuhkan kesempatan, akses belajar, dan kepercayaan. Karena sering kali yang menghambat mereka bukan kurangnya kemauan bekerja, melainkan minimnya ruang untuk berkembang.

Sampai kepada pemikiran yang lebih luas bahwa pemberdayaan perempuan pengusaha ultra mikro memiliki dampak sosial yang sangat besar.

Ketika perempuan memiliki penghasilan yang lebih stabil, manfaatnya hampir selalu kembali kepada keluarga. Anak-anak lebih terjaga kebutuhan pendidikannya, ketahanan rumah tangga meningkat, dan ekonomi lingkungan sekitar ikut bergerak.

Di tengah situasi ekonomi yang terus berubah dan biaya hidup yang semakin tinggi, kelompok ultra mikro memang masih menghadapi banyak tantangan. Persaingan usaha makin ketat, pasar berubah cepat, dan transformasi digital sering terasa jauh bagi masyarakat kecil.

Namun, pengalaman banyak perempuan pengusaha menunjukkan bahwa keterbatasan bukan selalu hambatan utama. Hal yang sering menjadi persoalan justru minimnya akses dan rasa dipercaya.

Karena bagi perempuan pengusaha ultra mikro, dipercaya sering kali menjadi modal paling mahal nilainya.

Ketika seseorang merasa dipercaya, ia tidak hanya mendapatkan tambahan modal usaha, tetapi juga keberanian untuk membayangkan hidup yang lebih baik daripada hari ini.

Copyright © ANTARA 2026

#umkm #perempuan-pengusaha #umkm-perempuan #pnm-ultramikro #mekaarpreneur #program-mekaar

https://www.antaranews.com/berita/5579389/mahalnya-rasa-percaya-kepada-perempuan-pengusaha-ultra-mikro