Survei Deloitte: Adposi AI Gen Z & Milenial Indonesia Lampaui Rata-rata Global

Survei Deloitte: Adposi AI Gen Z & Milenial Indonesia Lampaui Rata-rata Global

Survei Deloitte: Gen Z dan milenial Indonesia unggul dalam adopsi AI, melampaui rata-rata global. Namun, pelatihan AI terstruktur masih kurang optimal.

(Bisnis.Com) 23/05/26 01:15 229624

Bisnis.com, JAKARTA — Survei terbaru Deloitte menyebut Generasi Z dan milenial di Indonesia, paling siap menghadapi era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di dunia. Tingkat adopsi AI di kelompok pekerja muda ini bahkan melampaui rata-rata global, meski perusahaan dinilai belum optimal menyediakan pelatihan yang terstruktur.

Dalam laporan Deloitte 2026 Gen Z and Millennial Survey, sebanyak 87% Gen Z dan 88% milenial di Indonesia telah menggunakan AI dalam pekerjaan sehari-hari. Angka tersebut jauh di atas rata-rata global yang berada pada level 74% untuk kedua generasi tersebut.

Adapun survei ini melibatkan lebih dari 22.500 responden Gen Z dan milenial di 44 negara, serta dilengkapi dengan wawasan kualitatif dari para pemimpin bisnis. Jumlah tersebut mencakup pandangan dari lebih dari 500 responden Gen Z dan milenial di Indonesia.

Selain lebih aktif menggunakan AI, responden asal Indonesia juga dinilai lebih percaya diri terhadap kemampuan mereka dalam memanfaatkan teknologi tersebut. AI katanya tidak hanya digunakan untuk kebutuhan operasional kerja, tetapi juga dimanfaatkan untuk pengembangan karier, mencari peluang belajar, memperoleh saran profesional, hingga membantu mengelola stres pekerjaan.

“Tenaga kerja muda Indonesia terbukti selangkah lebih maju dibandingkan tren global dalam hal penguasaan AI,” ujar Organization & Transformation Director Deloitte Indonesia Andika Yalasena, dalam keterangan resmi, Jumat (22/5/2026).

Kendati demikian, Andika menilai perusahaan perlu memperbesar investasi pada pelatihan AI yang terstruktur agar keunggulan tersebut tidak hilang. Perusahaan yang mau berinvestasi pada program pembelajaran yang terstruktur dan berkelanjutan, menurutnya akan mampu menarik serta mempertahankan talenta-talenta unggul, yang nantinya akan menjadi ujung tombak ekonomi digital Indonesia.

“Talenta kita berisiko tertinggal jika pihak perusahaan tidak turut berinvestasi untuk mempertahankan keunggulan tersebut,” tegas Andika.

Survei Deloitte juga menunjukkan masih adanya hambatan dalam pemanfaatan AI di lingkungan kerja. Kalangan Gen Z di Indonesia menyebut minimnya kesempatan pelatihan efektif sebagai tantangan utama. Sementara itu, kelompok milenial mengaku keterbatasan pengetahuan dan pengalaman menjadi kendala terbesar dalam penggunaan AI.

Selain faktor pelatihan, aturan kepatuhan atau compliance perusahaan juga disebut membatasi pemanfaatan AI di tempat kerja. Adapun keterampilan yang paling ingin dikembangkan responden adalah literasi digital dan kemampuan menggunakan perangkat otomatisasi berbasis AI.

Di luar isu teknologi, survei Deloitte juga menyoroti perubahan orientasi karier generasi muda Indonesia. Sebanyak 99% Gen Z dan 100% milenial menyatakan bahwa makna atau purpose dalam pekerjaan menjadi faktor penting bagi kepuasan kerja mereka.

Bahkan, sebanyak 44% Gen Z dan 38% milenial mengaku pernah menolak tugas atau tawaran pekerjaan karena tidak sesuai dengan nilai dan prinsip pribadi mereka. Pada saat yang sama, minat terhadap posisi kepemimpinan juga relatif tinggi.

Sebanyak 85% Gen Z dan 81% milenial di Indonesia menyatakan tertarik menduduki posisi pemimpin di masa depan, lebih tinggi dibandingkan rata-rata global masing-masing sebesar 76% dan 67%.

Indonesia juga menonjol dalam hal pengalaman kepemimpinan secara nyata. Saat ini, 59% Gen Z dan 79% milenial di Indonesia tercatat sudah mengelola atau mengawasi sebuah tim, jauh melampaui rata-rata global yang masing-masing sebesar 45% dan 61%.

Akan tetapi, hanya 3% Gen Z dan 2% milenial yang menjadikan kepemimpinan sebagai tujuan karir utama mereka. Kemandirian finansial justru menjadi target tertinggi bagi Gen Z di Indonesia (29%), disusul oleh keinginan untuk menjadi ahli di bidangnya (25%).

Sementara bagi kalangan milenial, target kemandirian finansial dan keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance) menempati posisi puncak secara berimbang di angka 26%. Keraguan untuk mengambil peran kepemimpinan ini dipicu oleh kekhawatiran yang cukup umum, seperti stres, kelelahan fisik dan mental (burnout), serta risiko terganggunya work-life balance.

Survei tersebut juga mencatat kekhawatiran generasi muda Indonesia berbeda dibandingkan tren global. Jika mayoritas negara menempatkan biaya hidup sebagai isu utama, responden Indonesia justru menyoroti korupsi dalam bisnis dan politik sebagai kekhawatiran terbesar.

Sebanyak 34% Gen Z dan 41% milenial menyebut korupsi sebagai isu sosial utama. Selain itu, isu perubahan iklim dan pelestarian lingkungan juga masuk daftar kekhawatiran tertinggi.

Technology & Transformation Leader Iwan Atmawidjaja menyampaikan, generasi muda Indonesia kini menempatkan integritas perusahaan sebagai faktor penting dalam memilih tempat bekerja. “Gen Z dan milenial di Indonesia telah membuktikan bahwa makna bekerja bukan sekadar nilai tambah, melainkan tolok ukur utama dalam proses rekrutmen dan retensi di sebuah perusahaan,” sebutnya.

Kendati begitu, tekanan ekonomi tetap membayangi kelompok usia produktif tersebut. Sebanyak 54% Gen Z dan 43% milenial di Indonesia mengaku menunda keputusan besar dalam hidup, seperti menikah, melanjutkan pendidikan, atau memulai bisnis karena kondisi finansial.

Kemudian, keterjangkauan harga rumah juga memengaruhi keputusan karier bagi 74% Gen Z dan 64% milenial di Indonesia.

#ai-indonesia #gen-z-ai #milenial-ai #deloitte-survei #adopsi-ai #pelatihan-ai #teknologi-ai #karier-ai #kepemimpinan-gen-z #kepemimpinan-milenial #literasi-digital #otomatisasi-ai #kemandirian-finansi

https://teknologi.bisnis.com/read/20260523/84/1975865/survei-deloitte-adposi-ai-gen-z-milenial-indonesia-lampaui-rata-rata-global