Jateng Perkuat Infrastruktur Pertanian Antisipasi Puncak Kemarau

Jateng Perkuat Infrastruktur Pertanian Antisipasi Puncak Kemarau

Jawa Tengah antisipasi puncak kemarau 2026 dengan perkuat infrastruktur pertanian, mekanisasi "Sistem Sepur", dan irigasi untuk amankan produksi pangan.

(Bisnis.Com) 21/05/26 22:11 228297

Bisnis.com, SEMARANG - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai bersiap untuk mengantisipasi masuknya periode puncak musim kemarau yang diprediksikan akan jatuh pada Agustus-September 2026.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah Defransisco Dasilva Tavares menyatakan bahwa percepatan olah lahan dilakukan secara agresif guna mengejar sisa ketersediaan air tanah yang mulai berkurang.

Salah satu strategi utama yang kini diimplementasikan adalah sistem mekanisasi terintegrasi yang diberi nama "Sistem Sepur".

"Jadi kalau musim panen raya nanti, setelah dipanen menggunakan combine harvester, di belakangnya langsung diikuti dengan traktor roda empat atau rotavator untuk langsung mengolah tanah. Kemudian di belakangnya lagi kita semprot dengan recomposer pakai drone supaya keasaman tanah itu bisa naik dan turun. Satu minggu kemudian langsung ditanam lagi dengan transplanter. Proses berurutan ini yang membuat kami menamakannya sistem sepur," ujar Frans, sapaan akrabnya, pada Kamis (21/5/2026).

Selain percepatan lahan, Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah juga menempuh 3 langkah strategis lainnya. Pertama, berkolaborasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk memetakan wilayah rawan.

Kedua, mendorong penggunaan varietas padi yang tahan kekeringan, berumur pendek, namun tetap berproduktivitas tinggi seperti varietas Inpago. Ketiga, melakukan pengawalan ketat terhadap dampak perubahan iklim dan serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Frans memaparkan bahwa bantuan infrastruktur pengairan juga telah didistribusikan pemerintah ke berbagai daerah. Bantuan tersebut bersumber dari APBD maupun APBN.

Adapun bantuan tersebut disalurkan dalam bentuk 334 unit rehabilitasi jaringan irigasi ke 25 kabupaten melalui dana APBD. Selain itu, dialokasikan pula 75 unit irigasi alternatif di 15 kabupaten.

Dari anggaran APBN, disalurkan bantuan irigasi perpompaan sebanyak 1.823 unit di 30 kabupaten, irigasi perpipaan sebanyak 366 unit di 26 kabupaten, serta 220 unit bangunan konservasi air.

Pemerintah memfokuskan pengawasan pada daerah-daerah yang lokasinya berada di ujung atau jauh dari sumber air 5 BBWS yang ada di Jawa Tengah. Wilayah seperti Jepara, Banjarnegara, dan Cilacap menjadi perhatian khusus.

"Seperti Jepara misalnya, itu kan kejauhan dari sumber airnya, kadang-kadang sudah terbagi habis di mana-mana. Nah itu yang kita perlu tambah, misalnya sumber airnya di mana, kita lakukan irigasi perpompaan, tarik air masukan ke jaringan irigasi," kata Frans.

Pada daerah-daerah kritis ini, penambahan sumur dalam dan optimalisasi pompa ditarik langsung ke jaringan irigasi untuk menyelamatkan lahan pertanian.

Langkah mitigasi ini sekaligus menjadi evaluasi atas kendala tahun lalu, di mana sejumlah daerah mencatat indeks pertanaman yang rendah akibat kekeringan hingga hanya mampu menanam satu kali dalam setahun.

Dengan masifnya pembangunan fisik jaringan pengairan sejak akhir 2025, aliran air menuju musim kemarau tahun ini diharapkan berjalan jauh lebih lancar demi mengamankan target luas tanam dari proyeksi penurunan produksi oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

#jateng-infrastruktur-pertanian #puncak-kemarau #percepatan-olah-lahan #sistem-sepur #mekanisasi-terintegrasi #varietas-padi-tahan-kekeringan #irigasi-perpompaan #jaringan-irigasi #perubahan-iklim-pert

https://semarang.bisnis.com/read/20260521/535/1975625/jateng-perkuat-infrastruktur-pertanian-antisipasi-puncak-kemarau