Kemarau Ancam Produksi Padi, Petani Cirebon Mulai Cari Aman
Petani Cirebon beralih dari padi ke jagung untuk hadapi kemarau 2026 yang lebih cepat dan kering, sesuai prediksi BMKG. Jagung lebih hemat air dan cepat panen.
(Bisnis.Com) 21/05/26 11:30 227414
Bisnis.com, CIREBON — Petani di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mulai mengantisipasi datangnya musim kemarau dengan mengubah pola tanam dari padi ke komoditas yang lebih tahan kekeringan. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko gagal panen akibat berkurangnya pasokan air selama musim kemarau 2026.
Salah seorang petani di Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon, Nana, kembali memilih menanam jagung pada musim tanam kali ini. Menurutnya, tanaman jagung lebih cocok ditanam saat kemarau karena tidak membutuhkan banyak air seperti padi.
“Sudah dilakukan enam tahun terakhir ini, karena kalau padi sudah tidak mungkin di musim ini, khawatir rugi dan gagal panennya lebih besar,” kata Nana, Kamis (21/5/2026).
Selain lebih hemat air, jagung juga memiliki masa tanam lebih singkat. Nana mengatakan jagung dapat dipanen dalam waktu sekitar 60 hingga 75 hari, sementara padi baru bisa dipanen paling cepat setelah 100 hari masa tanam.
Ia menjelaskan petani di wilayahnya umumnya hanya melakukan dua kali masa tanam dalam setahun. Saat musim penghujan pada Januari hingga Februari, petani kembali menanam padi karena ketersediaan air mencukupi dan risiko kekeringan lebih kecil.
“Satu tahun kan ada tiga masa tanam, petani di sini cuma mentok dua kali masa tanam. Selain jagung, di sini ada yang tanam mentimun dan kacang panjang,” ujarnya.
Perubahan pola tanam tersebut sejalan dengan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut musim kemarau tahun 2026 datang lebih cepat di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) atau 16,3% wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau sejak April 2026. Wilayah tersebut mencakup pesisir utara Jawa bagian barat hingga sebagian besar Jawa Tengah dan Jawa Timur.
BMKG juga memprediksi sebanyak 184 ZOM mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026 dan 163 ZOM lainnya pada Juni 2026. Berdasarkan analisis BMKG, awal musim kemarau di 325 ZOM atau sekitar 46,5% wilayah Indonesia diperkirakan datang lebih cepat dibandingkan kondisi normal.
“Wilayah yang diprediksi mengalami awal kemarau lebih maju meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua,” ujar Ardhasena.
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus 2026 di sekitar 61,4% wilayah Indonesia. Kondisi kering diprediksi mendominasi Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian Sumatra dan Kalimantan.
Selain datang lebih cepat, sifat musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dari biasanya. BMKG mencatat sekitar 64,5% wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau dengan curah hujan di bawah normal. Durasi kemarau juga diprediksi lebih panjang di lebih dari separuh wilayah Indonesia.
Kondisi tersebut membuat pemerintah dan petani diminta segera melakukan langkah antisipasi. BMKG mendorong petani menyesuaikan jadwal tanam serta memilih varietas tanaman yang tahan kekeringan dan memiliki masa panen lebih singkat.
BMKG juga mengingatkan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan, penurunan kualitas udara, hingga ancaman kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau berlangsung.
#pola-tanam #petani-cirebon #musim-kemarau #produksi-padi #gagal-panen #tanaman-jagung #masa-tanam #bmkg-prediksi #kekeringan-jawa-barat #perubahan-pola-tanam #curah-hujan-rendah #varietas-tahan-kekeri